alexametrics

Kiprah Ali Yusa Ajari Nelayan Medokan Sawah Bikin Perahu dari Fiber

Pembuatan Lebih Mudah dan Biaya Lebih Murah
7 Agustus 2019, 20:48:11 WIB

PERAHU kayu semakin mahal. Padahal, penghasilan nelayan masih tidak menentu. Masalah itulah yang mendorong Ali Yusa memberikan pelatihan kepada nelayan untuk membuat perahu berbahan fiber.

EDI SUSILO, Surabaya

Moh. Wahyudi dan Slamet mengobrol di pinggir Sungai Medokan Sawah, Wonorejo, Minggu (4/8). Di depan mereka, teronggok lima perahu. Empat perahu terlihat tua dengan cat mengelupas. Satu perahu lainnya masih kinclong.

Pagi itu Wahyudi baru saja selesai melaut. Sementara itu, Slamet baru mau berangkat ke laut untuk menjemput rezeki. Namun, lelaki 62 tahun tersebut masih ragu untuk berangkat. Embusan angin timur yang menerpa wajah dan menggoyangkan daun bakau di pinggir sungai memberinya pertanda. Ombak sedang besar.

Nekat melaut berarti Slamet harus bekerja keras. Menahan tamparan ombak yang mengenai perahu kayunya agar selamat kembali ke darat. Jika memutuskan tak melaut, Slamet tidak punya pemasukan untuk keluarga. ”Ini Pak Slamet saya tahan. Jangan melaut dulu, ada tamu penting,” ucap Wahyudi kepada Jawa Pos Ali Yusa, koordinator pembuat perahu fiber, yang ikut mendampingi langsung nyeletuk. ”Opo wae, tamu penting,” ucap Yusa sambil diiringi tawa Wahyudi dan Slamet.

Hari itu, ketiganya melakukan pengecekan ke ”pabrik” pembuatan perahu fiber yang dikomandoi Yusa. Puluhan perahu jukung sedang digarap Yusa. Yusa ditarget membuat 93 perahu. Wahyudi dan Slamet merupakan dua nelayan tersisa yang ikut pelatihan Yusa. Yakni, membuat perahu fiber. Sebelumnya, Yusa mengajak 14 nelayan dan masyarakat sekitar untuk membuat perahu fiber. Namun, beberapa bulan kemudian, nelayan mundur satu per satu. Selain karena kesibukan melaut, pelatihan yang diadakan Yusa memang tidak memberi nelayan uang transpor. Mereka tidak diberi apa-apa kecuali ilmu membuat kapal fiber yang benar.

Wahyudi dan Slamet tetap ikut pelatihan karena tidak mau gagal untuk kali kedua. ”Ini bukti kegagalannya,” ucap Wahyudi sambil menunjuk sebuah perahu berwarna hijau lumut yang teronggok di tepi sungai. Perahu itu dibuat Wahyudi-Slamet sekitar lima bulan lalu. Pesanan kawan nelayan lain. Wahyudi ditunjuk karena pernah ikut pelatihan membuat perahu fiber yang diselenggarakan pemerintah. Pelatihan hanya berlangsung setengah hari. Ilmunya langsung dipraktikkan. Hasilnya, gagal.

Bagian luar perahu terasa kasar. Serat-serat fiber masih sangat terlihat. Itu terjadi lantaran Wahyudi salah langkah. Dia menempel fiber di luar cetakan. Padahal, seharusnya lapisan fiber dibuat di dalam cetakan. ”Tapi, sekarang sudah tahu cara pembuatannya,” terang Wahyudi.

Lelaki 44 tahun itu pun dengan lancar menjelaskan proses pembuatan perahu fiber. Pertama, bikin cetakan dari melamin. Kedua, kalau sudah jadi, baru resin pelapis berwarna dimasukkan. Ketiga, baru dilapisi serat fiber. Ada dua jenis fiber. Yakni, fiber yang mirip serabut kelapa dan yang jenisnya mirip tikar pandan. Itu dilapisi terus sampai empat kali.

Wahyudi dan Slamet memang bercita-cita bisa membuat perahu fiber sendiri. Mereka juga ingin kelompok nelayan memiliki galangan perawatan dan pembuatan kapal yang lebih baik. Mereka memilih fiber karena perawatannya lebih mudah dan murah jika dibandingkan dengan perahu kayu. Dengan membuat perahu fiber sendiri, mereka berharap ongkos pembuatan bisa lebih murah.

Ali Yusa mengatakan, upaya mengajak nelayan untuk membikin perahu fiber itu bukan tanpa alasan. Harga kayu jati yang terus melambung membuat biaya pembuatan perahu kayu semakin tinggi.

”Bukti itu bisa dilihat dari banyaknya nelayan yang coba-coba membuat perahu kayu dengan bahan seadanya,” jelas dosen perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik itu. Misalnya, nelayan mengurangi mutu kayu. Dari semula jati tua menjadi kayu jati muda atau kayu sisa.

Sebagai perbandingan, untuk membuat satu perahu fiber, nelayan membutuhkan sekitar Rp 4 juta. Jika membikin perahu kayu dengan ukuran sama, biayanya bisa mencapai Rp 8 juta. ”Tapi, kalau pakai kayu jati bagus, biayanya jelas lebih dari Rp 10 juta,” ucap anggota Dewan Pembina IKA ITS Jatim tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/tia

Close Ads