Drama Persalinan setelah Gempa Mengguncang Lombok

Si Jabang Bayi Lahir dengan Bantuan 3 Ponsel

07/08/2018, 13:50 WIB | Editor: Ilham Safutra
Pasien di rumah sakit usai Lombok diguncang gempa 7 SR, Minggu (5/8). (Ivan/Lombok Pos/Jawa Pos Group)
Share this

Karena belum ada tenda darurat, para bidan membawa pasien hamil ke ruang persalinan sembari mengenakan helm. Ibu hamil lainnya yang sudah kontraksi harus menahan sakit semalaman di ruang terbuka.

RAGIL PUTRI I.-SIRTUPILLAILI, Mataram

---

Warga yang panik berusaha berkomunikasi dengan keluarganya usai diguncang gempa. (Ivan/Lombok Pos/Jawa Pos Group)

HANYA ada tiga telepon seluler (ponsel) yang menerangi ruang persalinan RSUD Kota Mataram. Dua milik bidan, satunya lagi milik keluarga pasien.

Sekelilingnya gelap Listrik mati di seantero Mataram setelah gempa 7 skala Richter (SR) menghajar Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu malam lalu (5/8) itu.

Padahal, di bed, Komang Suciana, si pasien, tengah berjuang untuk melahirkan sang buah hati. "Kami luar biasa deg-degan," kata Dwi Putri Mardianti, salah seorang bidan yang membantu persalinan tersebut, kepada Jawa Pos.

Untung, si bayi perempuan itu lahir dengan selamat. Tapi, tugas Putri dkk belum selesai. "Karena masih ada proses jahitnya kan dan harus hati-hati benar," ungkapnya dengan penuh rasa haru.

Gempa dahsyat pada malam itu memang tak sampai meruntuhkan tembok RSUD Kota Mataram. Tapi, plafon runtuh dan perabotan berjatuhan. Pasien dan keluarga yang menunggui, juga para staf rumah sakit (RS), tentu saja juga berlarian ke luar ruangan.

Ketika gempa utama mereda, berdatanganlah tujuh pasien yang akan melahirkan. "Semua (pasien) datang karena pecah ketuban setelah gempa," ucap Putri yang malam itu piket bersama Winda, Heny, Reny, Diana, dan Roya.

Putri dan kelima rekannya kebagian menangani dua persalinan. Pasien melahirkan pertama dia tangani pukul 23.05 Wita, sekitar dua jam setelah gempa. Ketika listrik masih padam. Dan tenda darurat belum lagi didirikan di luar.

Padahal, Komang, si pasien, sudah tidak bisa menunggu. Ruang bersalin memang berada di lantai 1. Meski begitu, lokasinya berada di paling belakang gedung. "Akhirnya kami terobos masuk ke dalam gedung karena di luar peralatan tidak memungkinkan. Kami pakai helm dan segala macam kami upayakan untuk pasien," terang perempuan kelahiran 23 Maret 1989 tersebut.

Gempa Minggu malam lalu itu, yang hanya berselang persis seminggu dari gempa 6,4 SR, memang membuat pelayanan kesehatan di Mataram kocar-kacir. Hingga kemarin sore pasien belum berani masuk ke kamar perawatan. Mereka pun akhirnya diopname di lahan parkir.

Pantauan Lombok Post (Jawa Pos Group), dengan bed perawatan dan slang infus yang masih tertancap, para pasien tetap mendapat penanganan medis. Di bawah tenda darurat yang didirikan. "Belum berani masuk ke dalam," kata Inaq Saliah, salah seorang ibu yang menunggu anaknya dirawat.

Inaq menunggui Muis Alazis, anaknya yang sudah seminggu dirawat di RSUD Provinsi NTB. Bocah 13 tahun itu menjadi korban gempa 6,4 SR asal Dusun Lendang, Desa Anyar, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Kakinya terpaksa diamputasi karena terjepit jembatan saat sedang bermain di sana ketika lindu terjadi.

Ibu melahirkan kedua ditangani Putri juga ketika tenda darurat sudah berdiri. Pada pukul 02.02 Wita. Listrik juga sudah menyala. Pasien akhirnya juga bisa melahirkan bayi perempuan dengan lancar.

Bagi Putri, itulah momen paling menegangkan selama dirinya bekerja di RSUD Kota Mataram sejak 2011. Alumnus Politeknik Kesehatan Mataram tersebut sangat lega semua bisa berjalan dengan lancar. "Rasanya mau nangis melihat mereka (pasien) lahiran di luar. Dalam hati, yang penting ibu dan bayinya selamat," kata Putri penuh haru.

Kelegaan yang sama dirasakan Fadiya Amelia. Bisa melahirkan si buah hati dengan selamat setelah melewati momen-momen horor. Bayangkan, ketika gempa terjadi, karena panik, suaminya, M. Hilmi, menariknya hingga terjungkal di depan rumah mereka di Ampenan, Mataram. Kondisi itu membuat dia langsung mengalami kontraksi.

Meski begitu, Fadiya tidak langsung menuju RS. Kondisi listrik padam membuat dia dan suami memutuskan demikian. Bareng dengan para tetangga, dia bertahan di luar rumah. Lebih tepatnya berada di lapangan tanpa atap. Hanya beralas tikar. "Dinginnya minta ampun karena nggak ada apa-apa. Selain itu juga nahan sakit," katanya.

Pagi harinya baru Fadiya diantar ke puskesmas. Karena air ketuban sudah hampir habis, dia langsung dirujuk ke RSUD Kota Mataram. Pukul 09.00 Fadiya dengan ditemani suaminya tiba di RSUD. Dia pun melahirkan seorang bayi laki-laki seberat 3,2 kg dengan panjang 49 cm di tenda darurat.

"Alhamdulillah, prosesnya lancar dan besok (hari ini) sudah boleh pulang. Padahal sudah nggak kepikiran melahirkan di mana," ucapnya kepada Jawa Pos.

Duriani, warga Jageraga, Lombok Barat, menjelaskan, saat gempa tak ada pasien yang tidak lari, termasuk dirinya. Suasana malam itu memang membuat orang panik dan trauma.

Pasien yang lumpuh dan tidak bisa jalan sekuat tenaga menyelamatkan diri dengan dibantu para perawat. Untung, dia sendiri bisa berjalan. "Ada yang gantung infus di atas pohon. Ada yang tidak bisa jalan dan jatuh," ungkapnya kepada Lombok Post.

Humas RSUD Provinsi NTB Solikin menjelaskan, pihaknya untuk sementara merawat pasien di beberapa lokasi yang aman dari gempa. Misalnya di area parkir IGD yang didirikan empat tenda, lorong-lorong instalasi gizi, depan masjid, depan ruang prasarana, dan depan ruang lobi perawatan. "Semoga saja tidak lama, bergantung pasiennya," kata dia.

Gubernur NTB TGB M. Zainul Majdi juga sudah meminta Dinas PUPR NTB mengecek kondisi gedung RS. Hasilnya, RS dinyatakan aman ditempati. Pihak RS baru akan kembali menggunakan kamar rawat inap bila pasien sudah merasa aman. Sebab, bila masih trauma, digoyang gempa saja, mereka akan langsung lari.

Guna mengatasi hal itu, RSUD provinsi akan memberikan trauma healing untuk pemulihan psikologis mereka. Beberapa psikolog juga sudah dikerahkan untuk meyakinkan para pasien.

Solikin menyebutkan, kebutuhan mendesak saat ini adalah obat-obatan seperti antibiotik dan analgesik. Kementerian Kesehatan segera mengirimkan bantuan ke RSUD untuk memenuhi kebutuhan obat tersebut. Untuk mengoptimalkan pelayanan bagi korban gempa, tiga hari ke depan pelayanan poliklinik ditutup. "Kami akan fokus melayani korban gempa dan pasien emergensi," katanya. 

(*/c9/ttg)

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 07/08/2018, 13:50 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 07/08/2018, 13:50 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 07/08/2018, 13:50 WIB

Berita Terkait

Rekomendasi