alexametrics

Kampung Wayang Kepuhsari, Memadukan Seni dan Potensi Wisata

Bisa Menatah dan Menikmati Sayur Daun Racun
7 Juni 2019, 13:11:37 WIB

Wayang telah menyatu dalam kehidupan warga Desa Kepuhsari. Tidak sekadar melestarikan budaya adiluhung, tetapi membuatnya lebih dikenal hingga mancanegara.

Virdita Rizki R., Wonogiri

MASUK ke kawasan Desa Kepuhsari, sejumlah orang tampak sibuk membuat wayang di depan rumah. Beragam karakter seperti Arjuna, Srikandi, Nakula, dan Sadewa yang telah jadi tersebar di ruangan. Di sudut lain, tertumpuk buku-buku tentang wayang.

Di lokasi workshop, seorang pria tua terlihat terampil menatah kulit sapi sebagai bahan membuat wayang kulit. Di sampingnya, seorang perempuan paro baya berfokus menyungging atau mewarnai wayang.

Dialah Retno Lawiyani. Perempuan itulah yang merintis Desa Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri, sebagai kampung wisata dan edukasi wayang. Kecintaannya terhadap kampung dan wayang menginspirasinya.

Pada 2011, perempuan 39 tahun tersebut merintis Kampung Wayang. Tren wisatawan yang berkunjung ke desa-desa menggugahnya. Setahun berselang, dimulailah uji coba untuk menerima tamu. Hasilnya terbilang sukses.

Pada 29 November 2014 secara resmi Kampung Wayang diperkenalkan kepada masyarakat luas. ”Ternyata, banyak yang menikmati hasil karya wayang dari sini, bahkan sampai luar negeri. Kami tidak menyadari itu,” ujarnya.

Retno lantas mengemas paket wisata yang mencakup workshop menatah, menyungging, melukis wayang, bermain gamelan, hingga pertunjukan wayang.

Dia mengelola Kampung Wayang bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tetuko Desa Kepuhsari. Seluruh elemen warga dilibatkan. Dengan begitu, perekonomian warga pun turut bergerak. Warga ikut dalam penyediaan atraksi, akomodasi, hingga kuliner bagi wisatawan. Keterampilan yang mendukung pelayanan wisata juga dipersiapkan. Misalnya, keterampilan berbahasa asing serta tata boga.

Paket yang ditawarkan pun beragam. Pengunjung bisa merasakan kearifan lokal. Juga, menyusuri pedesaan Wonogiri. ”Wisatawan akan mengenal wayang, kuliner, kehidupan sehari-hari warga kampung wayang, dan wisata alamnya,” tuturnya.

Wisata alam yang ditawarkan, antara lain, mengunjungi area pertanian dan melihat matahari pagi dari atas bukit. Desa Kepuhsari memang memiliki dua sektor, atas dan bawah. Nah, di bagian atas terdapat perbukitan Gunung Panggung dan Gunung Kotak serta beberapa gua.

Disediakan pula pemandu wisata untuk menjelaskan segala hal tentang Kampung Wayang. Untuk makanan khas, pengunjung bisa menikmati tiwul, besengek, botok, pepes, serta sayur daun racun. ”Sayur khas desa yang dulu dimasak mbah-mbah kami gali lagi,” ungkap Retno.

Kampung tersebut memang jauh dari kota. Suasana pedesaan kental terasa. Dari Solo, perjalanan lewat darat ditempuh sekitar 1,5 jam. Di sepanjang perjalanan, mata disuguhi pemandangan hamparan sawah hijau dan deretan pegunungan karst.

Kepuhsari menjadi rumah bagi 78 perajin wayang. Sebanyak 55 di antara mereka berada di Dusun Kepuhtengah sebagai sentra pembuatan wayang.

Di kampung itu, anak-anak belajar membuat wayang sejak kecil. Setiap hari mereka melihat para orang tua menatah maupun menyungging wayang. Selain itu, mereka belajar dari sanggar-sanggar.

Muatan lokal di sekolah dasar dan menengah juga mengajarkan seni tata sungging wayang dengan tugas akhir membuat satu tokoh wayang. Seminggu sekali mereka belajar menari reog, tarian tradisional, nembang, maupun bermain gamelan.

Retno menggandeng relawan, yakni AWSM (Act for Wonogiri Social Movement), untuk menggelar aktivitas bagi anak-anak. Misalnya, belajar bahasa asing dan literasi digital tentang penggunaan media sosial yang baik. ”Aktivitas anak-anak sekarang lebih ke full gadget. Bagaimana caranya mengalihkan anak-anak sebentar dari gadget,” terang ibu Bimo Mahendra Ghoffar itu.

Dia juga berusaha melestarikan mainan tradisional agar tetap dikenal anak-anak. Salah satunya lewat lomba permainan tradisional seperti sunda manda atau engklek.

Tidak hanya untuk anak-anak, komunitas AWSM juga turut membantu Retno dalam mengenalkan Kampung Wayang. Mereka membuatkan website Kampung Wayang dan membantu promosi ke masyarakat luas. Cara lain yang ditempuh adalah bekerja sama dengan travel agent atau penyelenggara wisata yang tergabung dalam ASITA (Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies) untuk menawarkan paket-paket wisata.

Penjualan wayang dari Kepuhsari meningkat seiring dengan semakin dikenalnya Kampung Wayang. Pembeli biasanya datang langsung atau memesan melalui media sosial. ”Makin tahun harganya juga makin mahal. Pasti ada yang nyari,” ujarnya.

Harga wayang disesuaikan dengan tokoh, kreasi motif, maupun ukuran. Gunungan, misalnya, dibanderol Rp 2,5 juta hingga Rp 20 juta. Beberapa dalang kondang juga memiliki perajin di kampung tersebut. ”Ada 5-6 perajin yang itu pekerjanya Pak Anom (dalang wayang kulit, Red),” ungkapnya.

Kampung Wayang Kepuhsari tidak hanya menarik wisatawan lokal. Turis dari Korea Selatan, Inggris, Jepang, Prancis, dan Belanda juga berkunjung.

Satu capaian yang cukup bikin bangga, pada 2018 karya Retno terpilih sebagai suvenir dalam perhelatan pesta olahraga multievent Asian Games 2018. Penyelenggara Asian Games memesan puluhan paket wayang kulit untuk dimodifikasi menjadi undangan unik dan menonjolkan khazanah budaya Nusantara.

Undangan dan suvenir dari wayang kulit itu sebenarnya dijajaki penyelenggara Asian Games sejak 2017. ”Saat itu ada yang datang ke Kepuhsari minta dibuatkan suvenir untuk agenda olahraga,” kata Retno.

Dia kemudian membuat sampel suvenir berbentuk wayang kulit gunungan berukuran kecil. Setahun kemudian, penyelenggara Asian Games baru melayangkan pesanan. Yakni, 65 paket undangan dan cenderamata dari wayang kulit.

Setiap paket berisi empat jenis. Yaitu, sebuah undangan berbentuk gunungan dan tiga cenderamata dari wayang kulit. Gunungannya dibuat dalam ukuran kecil. Hanya sebesar kartu undangan. ”Cenderamatanya berbentuk badak, rusa, dan burung. Kami diberi waktu sebulan untuk menyelesaikannya,” ujarnya.

Salah satu sisi gunungan diberi logo Asian Games. Sisi sebaliknya merupakan nama penerima undangan. Terdiri atas sejumlah tamu dari negara lain, pejabat, dan Presiden Joko Widodo.

Retno menuturkan, dirinya tidak lahir dari keluarga perajin wayang. Namun, tumbuh di lingkungan perajin membuat kecintaannya terhadap wayang muncul. ”Dari kecil sudah seneng sama seni. Akhirnya belajar seni tata sungging. Bikin lukisan wayang,” ungkapnya.

Retno belajar secara otodidak dari satu sanggar ke sanggar lain. Pernah belajar di Rama Galeri, Jogjakarta, dan Maligi Galeri di Keraton Surakarta. Bungsu empat bersaudara itu belajar penokohan dan cerita wayang dari sejumlah buku.

Awalnya, Retno tidak langsung menyungging atau mewarnai wayang. Dia melukis cerita wayang lebih dahulu. ”Biasane nek kulo ndamel satu lukisan kan ada ceritanya. Biasane baca buku dulu, nanti diimajinasi,” jelasnya.

Buku-buku tersebut dia beli di pasar loak. Ada juga pemberian temannya. Kini cukup sulit menemukan buku tentang tokoh maupun ornamen wayang di toko buku modern.

Retno menjelaskan, proses pembuatan wayang zaman sekarang berbeda dengan dulu. Dulu, untuk membuat wayang seperti gunungan, pembuatnya harus puasa mutih selama 40 hari lebih dahulu. ”Sak niki mboten karena kejar target. Yen sak niki, yen poso mboten iso kerjo,” ujarnya.

Meski Kampung Wayang telah berkembang, kata dia, masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Di antaranya, beberapa ikon khusus yang menandai identitas kampung tersebut. Retno ingin membangun papan nama dan tugu-tugu khas perwajahan wayang di 15 gang masuk desa sebagi ikon kampung.

“Paling tidak kita melestarikan budaya wayang yang adiluhung ini supaya tidak punah. Bisa dikenal generasi penerus. Tidak hanya dari cerita, mereka juga bisa mengenal bahwa kita punya karya luar biasa yang patut dilestarikan sampai kapan pun,” tegasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c5/fal)



Close Ads