alexametrics

Andri Saputra dan Febrian Nur Hakim Juarai MHQ Tunanetra Se-Jawa Timur

Lebih Nyaman Belajar dari Audiovisual
7 Juni 2019, 14:35:30 WIB

Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi Andri Saputra dan Febrian Nur Hakim. Dua penyandang tunanetra itu mampu menghafal setiap juz Alquran dan memenangi lomba Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Se-Jawa Timur tahun ini.

Muchammad Ainul Budi, Jember

RAUT gembira tampak di wajah dua pemuda yang sama-sama berasal dari Pondok Khozainul Ulum Gresik tersebut. Petang itu (19/5), Andri Saputra dan Febrian Nur Hakim berhasil menjadi juara I dan II dalam lomba Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) Se-Jawa Timur. Lomba tersebut digelar di Jember pada 14-19 Mei lalu.

“Saya belajar menghafal Alquran sejak usia 7 tahun. Mulai 2008 lalu. Pertamanya belajar dari suara HP. Tapi lama-kelamaan suara dari HP kok kurang keras, akhirnya pakai audiovisual,” ucap Andri Saputra kepada Jawa Pos Radar Jember. Di usia yang kini menginjak 19 tahun, Andri mampu menghafal 22 juz. Dalam kondisi mata yang tak mampu melihat.

Andri mengaku dulu sempat belajar menggunakan Alquran braille. “Tapi saya kurang suka. Akhirnya memutuskan pakai audiovisual saja,” terangnya. Saking niatnya menghafal Alquran, Andri bahkan sempat belajar dari speaker yang cukup besar dari Madinah.

Sama seperti Andri, rekan satu pondoknya, Febrian Nur Hakim belajar menghafal Alquran dari mendengarkan audiovisual. “Kalau saya mulai menghafal dari usia tujuh tahun. Alhamdulillah, dulu suka murotal Alquran,” kata Febrian.

Seperti Andri, Febrian tidak nyaman belajar dengan Alquran braille. Dia lebih mudah menghafal melalui perangkat audiovisual. “Saya hanya 100 persen mengandalkan pendengaran suara. Alhamdulillah, sudah hafal 26 juz,” ucap Febrian.

Dua pemuda asli Gresik itu berangkat ke Jember mengikuti MHQ dengan ditemani ayah Febrian. “Kalau Febrian ini tiap ada lomba menghafal Alquran di mana pun saya ikutkan. Kami orang tua sih tidak berfokus pada menang atau kalah. Kami ingin Febrian terus termotivasi saja,” kata ayah Febrian.

Ayah Febrian mengaku, anaknya tersebut termasuk lama menghafal kitab suci umat Islam itu. Sejak 2014 sampai sekarang. “Anak saya termasuk lama, seharusnya tiga tahun sudah bisa selesai. Tetapi tetap saya beri semangat terus menghafal,” jelasnya.

Selama hampir lima hari di Jember, Febrian mengaku sangat berkesan mengikuti lomba MHQ khusus tunanetra tersebut. “Saya baru kali pertama ke Jember,” ujarnya. Dia juga berharap ke depan lebih banyak lomba-lomba MHQ. Sebab, dengan adanya kegiatan itu, masyarakat bisa lebih termotivasi belajar tahfiz Alquran.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : hdi/c25/gun



Close Ads