alexametrics

Arto Soebiantoro, Memajukan Start Up Melalui Brand Adventure Indonesia

7 Maret 2019, 14:35:05 WIB

Arto Soebiantoro mempunyai peran penting dalam memajukan pelaku usaha di Indonesia. Berkat kerja kerasnya menjadi aktivis brand lokal, dia berhasil melahirkan start up baru yang sukses dan dapat bersaing di kancah internasional. 

Septian Nur Hadi 

BERKECIMPUNG di gerakan tersebut telah dilakoninya sejak 2009 lalu. Berawal ketika Arto – akrab sapaan Arto Soebiantoro bekerja di sebuah periklanan internasional. Di perusahaan tersebut Arto bertugas mengelola brand-brand yang berasal dari seluruh dunia. Dari situlah Arto belajar cara berkomunikasikan dalam sebuah brand. 

Berjalannya waktu Arto menilai brand lokal Indonesia mempunya potensi kuat untuk maju. Bahkan lebih maju dari brand asal negara lain. Menurutnya hasil karya anak bangsa mempunyai keunikan tersendiri, yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Jadi sayang sekali kalau peluang tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal. 

Kondisi tersebut mendorongnya untuk melakukan pergerakan. Komunitas Aktivis Brand Lokal didirikan. Arto tidak hanya seorang diri berada di komunitas tersebut. Melainkan bersama 20 orang anggota lainnya. Sumber daya manusia (SDM) yang ada pun diperdayakan dengan maksimal. Yaitu dengan menyebar anggota merata di seluruh Indonesia. 

“Mulai dari Ibukota hingga wilayah pelosok. Terutama daerah yang ada di Pulau Jawa. Satu per satu wilayah tersebut kami datangi. Mencari pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), yang ada di lokasi tersebut,” kata pria kelahiran Jakarta 17 Juni 1973 tersebut, kepada Jawa Pos, beberapa hari lalu. 

Program tersebut bernama Brand Adventure Indonesia. Segudang kegiatan dilakukan dalam program tersebut. Pertama, yaitu edukasi. Dalam edukasi masyarakat atau pelaku usaha diberikan pemahaman bagaimana cara memulai bisnis yang baik dan tepat. Sebab bisnis tidak hanya membutuhkan modal saja. Melainkan strategi. Sebelum memulai, mereka harus mengetahui peluang yang terdapat di area bisnisnya. 

Kalau menciptakan hal yang berbeda dari para pembisnis lainnya. Selain mengurangi tingkat persaingan dengan menciptakan hal yang berbeda, produk tersebut akan mudah dikenali oleh masyarakat. Karena produk tersebut berbeda dengan produk lainnya. Meskipun produk tersebut telah banyak yang menjualnya. Makanan misalnya. Walaupun sama jenis, namun rasanya harus tetap berbeda. 

Langkah ke dua yaitu pembuatan brand. Dalam hal ini, brand tidak hanya bicara merk saja. Melainkan kualitas produk tersebut. Mulai dari kualitas rasa, ketahanan produk, hingga kemasan. Semua itu harus dibuat menggunakan konsep.  Sebab, brand merupakan jatidiri dalam bisnis yang kerap dijalani oleh mereka. Jadi tidak boleh sembarangan dalam membuat brand. Harus sesuai dengan produk yang akan dijual. 

“Dan yang ke tiga yaitu sistem manajeman di dalam perusahaan tersebut. Bagaimana kinerja para karyawannya. Penataan ruang di tempat usaha. Seperti desain gedung dan kebersihan. Ciptakan sistemn manejeman baik. Sehingga konsumen merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan oleh para pelaku usaha,” ujarnya. 

Secara kasat mata tiga poin tersebut terlihat simpel. Namun hal tersebut kerap dilupakan oleh mereka. Terutama bagi pelaku bisnis baru. Belum besarnya usahanya membuat mereka kurang percaya diri untuk menerapkan tiga point tersebut. Padahal apa itu sangatlah salah besar. Berinovasi, membuat brand, dan menciptakan sistem manajeman yang baik harus dilakukan sejak dini. Sejak awal ketika mereka memutuskan untuk terjun ke dalam dunia bisnis. 

“Disitulah tugas kami sebenarnya. Yaitu memberikan edukasi, motivasi, da meningkat kepercayaan diri bagi mereka,” ucap dia. Guna mewujudkan hal tersebut kerjasama terhadap beberapa pihak dilakukan. Seperti pemerintah dan lembaga pendidikan. Pihaknya meminta mereka untuk berkecimpung langsung dalam kegiatan tersebut. 

Guru atau dosen, misalnya. Mereka diminta untuk bisa memberikan materi kepada seluruh masyarakat. Sehingga ilmu yang diberikan dapat diterapkan oleh mereka. Sedangkan untuk pihak pemerintah, mereka tidak hanya diminta untuk memberikan pelatihan. Melainkan juga memberikan penbiayaan. Khususnya terhadap para pelaku UMKM, yang minim dengan masalah permodalan. 

“Alhamdulillah respon pemerintah cukup baik ya. Meskipun belum semuanya. Beberapa mereka senang kegiatan kami . Dukungan pun diberikan, seperti pembinaan dan pembiayaan terhadap pelaku UMKM tersebut,” tambah dia.  

meskipun begitu Arto belum berpuas diri. Untuk memajukan brand lokal, kegiatan pun terus dilakukan. Salah satunya yaitu membuat event tahunan. Di mana ratusan hingga ribuan brand lokal meramaikan event tersebut. Kegiatan digelar berpidah – pindah dari kota ke kota. Event tersebut bertujuan tidak sebagai ajang promosi produk dan brand saja. Melainkan menciptakan komunikasi dan jaringan antara start up, atau pelaku usaha lokal. 

Dengan pertemuan tersebut diharapkan mereka saling terkoneksi satu sama lain. Sehingga ke depannya mereka saling membantu satu sama lain. Kemudian semua kegiatan yang telah digelar, diabadikan melalui video dokumenter. Video tersebut akan ditanyangkan pada kegiatan selanjutnya. Tujuannya untuk memberikan motivasi kepada pelaku usaha yang lain. 

“Sampai saat ini, monitoring terhadap mereka pun dilakukan. Monitoring melalui media sosial, atau grup di whatsapp. Di dalam grup tersebut diskusi terus berjalan. Mulai dari kedala yang mereka hadapi. Lalu solusinya seperti apa. Hingga potensi bisnis apa yang sedang berkembang yang ada di wilayah masing-masing,” paparanya. 

Tidak terasa, lanjut Arto, satu dekade komunitas Aktivis Brand Lokal telah berjalan. Gerakan sosial tersebut telah tersebar di 26 kota di Indonesia. Seperti di Jakarta, Bandung, dan di daerah Pulau Jawa lainya. Dari program Brand Adventure Indonesia, sebanyak 90 kota telah dikunjunginnya. Kota-kota tersebut didatanginya menggunakan sepeda motor.  

Upaya kerasnya tersebut berbuah hasil manis. Puluhan ribu start up atau brand lokal berhasil diciptakan, dan survive sampai saat ini. Yakni dapat bersaing dengan brand luar negeri. Baru-baru ini, Arto bertemu dengan bapak Presiden Joko Widodo. Dia bercerita bapak presiden memberikan apresiasi apa yang dilakukannya bersama tim. Beliau mendukung penuh dengan apa yang dilakukan oleh aktivis brand lokal. 

“Beliau meminta aktivis brand lokal merupakan pegerakan masif dibdaerah – daerah. Lalu beliau juga ingin mengetahui pemetaan UMKM di Indonesia. Dan saya ingin memetakan hal itu, dan melaporkan ke pak presiden. Apa saja problem – problem, kendala, atau yang dibutuhkan oleh mereka dalam mengembangkan usahanya. Tahun ini 14 kota akan dikunjunginya, ” terangnya. 

Dukungan moril yang diberikan oleh pak presiden membuat dirinya bersama tim lebih bersemangat. Tahun ini, edukasi tidak hanya dilakukan di daerah Pulau Jawa saja. Pihaknya akan menyasar ke wilayah Indonesia Timur. Sebab, dengan sumber daya alam yang ada, wilayah tersebut mempunyai pontesi tinggi untuk tercipta start up – start up berkopenten. Jadi tidak salahnya untuk dikembangkan. 

“Selain itu saat ini kami juga menyasar ke dalam dunia pendidikan. Pesantren Nurul Huda,  di Purwokerto, misalnya. Para santri kami latih untuk berwirausaha. Yaitu memproduksi sabun mandi. Saat ini, mereka tidak lagi membeli sabun. Karena sabun yang mereka pakai berhasil dibuat sendiri. Bahkan sabun tersebut telah dijual di kalangan masyarakat,” paparnya.

Editor : Yusuf Asyari

Reporter : Septian Nurhadi



Close Ads
Arto Soebiantoro, Memajukan Start Up Melalui Brand Adventure Indonesia