alexametrics

Translokasi Harimau Sumatera dari Muara Enim

Sampai Dilepasliarkan, Total Butuh Rp 5 M
7 Februari 2020, 14:33:21 WIB

Lebih dari dua minggu di rescue center TWNC, Enim masih enggan makan pangan hidup. Ia didiagnosis stres. Melakukan translokasi harimau sumatera memang membutuhkan banyak sumber daya. Bukan hanya tenaga, tapi juga perhatian dari ahlinya serta biaya besar.

SAHRUL YUNIZAR, Pesisir Barat, Jawa Pos

DIBUTUHKAN waktu 40 menit terbang dari Bandara Internasional Raden Inten II, Lampung, menuju Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Selama itu harimau sumatera bernama Enim tersebut sadar. Ia ada di perangkap besi yang ditutup rapat dengan terpal hitam.

Enim tertangkap di Muara Enim Selasa (21/1) pagi. Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Pemda Sumatera Selatan memutuskan untuk mengirimnya ke TNBBS, tepatnya di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di wilayah Pesisir Barat, Lampung. Penyebabnya, mereka belum memiliki rescue center yang memadai untuk harimau.

Enim sampai di rescue center TWNC tengah hari pada Rabu (22/1). Founder Artha Graha Peduli (AGP) Tomy Winata tampak sudah menanti kedatangan harimau yang diperkirakan masih berusia muda itu. TWNC memang berada di bawah naungan AGP. ”Pelan-pelan, Dik,” ucap Tomy saat Enim dan perangkapnya diturunkan pegawai TWNC.

Walau ada guncangan, Enim tidak bersuara. Saat aba-aba penurunan diteriakkan, ia juga tak terpengaruh.

”Satu, dua, tiga, doronggg,” kata para pegawai TWNC serentak.

Enim masih diam. Belasan pegawai TWNC melanjutkan pekerjaan. Mereka mengangkat perangkap, kemudian menempelkannya tepat di bibir kandang. Tujuannya, begitu perangkap dibuka, Enim akan spontan masuk ke kandang. Sadmoko Kusumo Priyanto, koordinator proses translokasi Enim yang juga dokter hewan di TWNC, yakin proses itu akan berlangsung cepat.

Namun, siapa sangka, Enim enggan keluar. Perangkap dipukul-pukul kayu, Enim bergeming. Terpal dilepas, dia tetap ogah bergerak. Hanya sesekali mengaum, membalikkan muka, dan kembali diam. Sama sekali tak terpengaruh meski banyak orang di sekitar perangkap.

Menurut Sadmoko, itu salah satu perilaku yang tidak biasa. Pria yang akrab dipanggil Moko tersebut menjelaskan, selama aman dan tidak diganggu, harimau sumatera sejatinya enggan ada di dekat manusia. Namun, Enim lain. Lebih dari satu jam tidak mau keluar dari perangkap. Seekor babi lantas dimasukkan ke kandang. Tujuannya memancing Enim. Sia-sia, ia masih berdiam diri. Tak menghiraukan babi yang biasanya jadi santapan harimau sumatera.

Pelan-pelan Tomy berujar. ”Memang biasa begitu. Bisa dua jam,” kata dia. Sejak TWNC punya rescue center untuk harimau sumatera, Tomy memang biasa melihat langsung proses translokasi harimau sumatera. Dia ingin memastikan semua berjalan baik. Bukan hanya proses pemindahan, saat pelepasliaran Tomy juga turun tangan. Hal itu dia lakukan untuk menunjukkan keseriusan TWNC.

Seperti perkataan Tomy, setelah nyaris dua jam, Enim masuk kandang. Itu pun karena berulang didorong memakai kayu. Moko berharap Enim segera menyantap babi yang sudah disediakan. Namun, sampai hari berganti, babi masih utuh. Termasuk makanan lain yang sudah ditambahi vitamin.

Tidak hanya malas makan, Enim juga cenderung pendiam. Menurut Moko, itu juga di luar kebiasaan harimau sumatera jantan. Ketika ada di tempat baru, biasanya ia akan berkeliling. Kemudian menandai daerah barunya dengan buang air.

Untung, perilaku tidak biasa itu tak dibarengi kondisi fisik mengkhawatirkan. Moko memastikan, secara fisik Enim sehat. Namun, langkah lanjutan pascatranslokasi tidak segera dilakukan tim dokter.

Menurut Moko, ada data-data yang harus diambil dari Enim lewat general checkup. Prosedur itu dilaksanakan setelah satwa dibius total. Namun, pembiusan tidak bisa dilakukan selama Enim masih stres karena akan memengaruhi hasil pemeriksaan. ”Harus kembali normal dulu,” tuturnya.

Untuk itu, tahap tersebut ditunda. Walau ingin cepat, tim tidak bisa gegabah. Sebab, hasilnya akan berpengaruh terhadap prosedur lanjutan untuk Enim. Moko menyebutkan, lewat general checkup akan diketahui riwayat Enim. Termasuk menjawab pertanyaan benarkah ia yang menerkam warga.

Sampai Jawa Pos kembali ke Jakarta Jumat (24/1) siang, prosedur tersebut belum dilakukan. Moko menunggu Enim stabil. Tidak lagi stres dan mau makan. ”Jangan sampai kami salah penanganan. Malah semakin parah dia,” tuturnya.

Hanna Lilies dari AGP yang aktif dalam aktivitas TWNC menyampaikan, pihaknya menyerahkan semua tahap pengurusan Enim kepada ahli. Tim dokter, keeper, dan petugas lain yang berkaitan sudah diterjunkan. Pihaknya sudah menerima amanah negara merehabilitasi harimau sumatera yang berkonflik dengan warga. Sampai Enim normal dan dilepasliarkan kembali, dia menjamin TWNC bertanggung jawab.

Hanna yang berangkat ke TWNC bersamaan dengan Jawa Pos pada 21 Januari lalu sampai kemarin (6/2) masih berada di TWNC. Bersama Moko, dia terus memantau perkembangan Enim. ”Dalam pengawasan ketat untuk tingkah laku dan gerak-geriknya,” ucap dia.

Enim, lanjut Hanna, masih stres. Ia masih belum mau menyantap pakan hidup yang biasanya menjadi favorit harimau sumatera. Hanna mengakui, tidak hanya berat, proses translokasi harimau sumatera juga tidak murah.

TWNC harus keluar ratusan juta rupiah untuk mengevakuasi Enim. Biaya rehabilitasi, lanjut Hanna, juga tidak sedikit. Berdasar hitungan TWNC, Enim bisa jadi harus direhabilitasi minimal dua tahun. Total biaya yang akan dihabiskan sekitar Rp 3 miliar.

Hanna menyampaikan bahwa biaya pelepasliaran juga besar. Mengacu rupiah yang harus dikeluarkan saat melepas harimau sumatera bernama Muli ke hutan pada 2017, TWNC keluar dana Rp 2 miliar. Pihaknya, kata Hanna, membeber angka itu bukan untuk unjuk diri. Melainkan supaya semua pihak mengerti. ”Bahwa inilah upaya kami dalam menepati komitmen dan menjaga amanah yang diberikan,” tegasnya.

Lebih dari itu, TWNC ingin semua pihak sadar, akibat yang muncul karena merusak alam dan mengganggu habitat harimau sumatera sangat besar. Bukan hanya rupiah, nyawa pun bisa jadi melayang. Warga yang diterkam harimau sumatera dan kemudian meninggal dunia bisa menjadi contoh.

Sumardi, 61, seorang warga yang tinggal di Dusun Pengekahan sejak 1992, mengakui belum pernah berurusan dengan harimau sumatera. Dia pun tidak mendengar ada warga dusunnya yang celaka lantaran berpapasan dengan satwa yang terancam punah tersebut. ”Aman-aman saja,” ujarnya.

Menurut Sumardi, hal itu terjadi lantaran warga di dusunnya tidak pernah macam-macam dengan hutan. Untuk mata pencaharian, mereka memilih jadi nelayan atau petani. Warga asal Solo, Jawa Tengah, tersebut mengakui, ada banyak hal di hutan. ”Iya, tapi apa yang bisa diambil?” ujarnya. ”Percuma juga ke hutan. Tak mengerti apa,” lanjut dia.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ayi


Close Ads