alexametrics

Putri Annisa, Pencipta Mesin Ketik Braille Bersuara untuk Tunanetra

7 Februari 2020, 20:48:41 WIB

Bentuk mesin ketik ciptaan Putri Annisa Tyara Anggie ini sekilas terlihat sederhana. Namun, dari segi fungsi, alat ciptaan siswi SMPN 1 Surabaya tersebut tak bisa dibilang sepele. Lewat modifikasi mesin ketik braille buatannya, Anggie mempermudah penyandang tunanetra membuat karya tulis.

EDI SUSILO, Surabaya

Kotak plastik itu telah dipasangi layar digital kecil. Bentuknya mirip monitor pada kalkulator. Monitor tadi tersambung dengan beberapa kabel yang melekat di sebuah rangkaian elektronik yang dimasukkan ke kotak berwarna bening.

Di kanan dan kiri kotak tadi, dua speaker berwarna putih terpasang. Di depan kotak, terdapat sebuah keyboard kecil dengan sembilan tombol. ’’Jumlah tombol ini menyesuaikan mesin ketik braille yang biasanya dipakai penyandang tunanetra,’’ jelas Anggie –sapaan akrab Putri Annisa Tyara Anggie– kepada Jawa Pos pada Senin (3/2).

Fungsi enam tombol tersebut sama dengan cara kerja menulis huruf braille. Bedanya, Anggie menambah tombol sisi paling kanan dan kiri yang berfungsi menghapus dan memutar hasil ketikan.

Ya, jika mesin ketik braille tak memiliki suara, Anggie justru melengkapinya. Suara itu langsung akan terdengar dari dua speaker yang terpasang di rangkaian alat ciptaan remaja kelahiran Purwakarta, 21 Maret 2005, tersebut Speaker dipasang Anggie agar pengguna alat bisa mengetahui hasil ketikan sudah sesuai atau tidak dan tulisan yang diketik sudah benar atau masih salah. Jika hasil ketikan sudah tepat, pengguna tinggal meneruskan menulis karya. Sebaliknya, jika ada yang salah, pengguna tinggal menghapusnya.

Selain memiliki suara, terobosan Anggie untuk modifikasi alat ciptaannya adalah menghasilkan tulisan Latin yang keluar dari layar digital di kotak tadi. Keunggulan itu membuat alat ciptaan Anggie berbeda dengan mesin ketik braille umumnya yang hanya menghasilkan tulisan braille berciri khas titik-titik timbul berpola.

Ide membuat alat modifikasi mesin ketik berbasis output suara itu sebenarnya bermula dari keprihatinan Anggie saat melihat seorang anak tunanetra seusianya yang hafiz Alquran. Pertemuan tersebut terjadi dalam sebuah acara tahfiz Alquran.

’’Saya kagum. Dengan kekurangannya, dia bisa hafal ayat-ayat Alquran,’’ ucap putri pasangan M. Darwis dan Neneng Susan tersebut. Singkat cerita, Anggie berteman dengannya. Dari situlah Anggie tahu, selain tahfiz, temannya itu jago menulis puisi. Namun, bait-bait puisi yang dibuat sang teman hanya bisa dinikmati kalangan terbatas. Yakni, teman-teman sesama tunanetra. Sebab, puisinya ditulis dalam huruf titik-titik braille.

’’Dengan menggunakan alat ini, hasil tulisan bisa langsung huruf Latin. Orang awam bisa langsung membacanya,’’ ujar bocah yang hobi berenang tersebut.

Untuk membuat mesin ketik braille dengan output suara itu, Anggie menggunakan Raspberry Pi. Sebuah komputer tunggal seukuran kartu kredit. Raspberry Pi-lah yang menjadi otak dari alat ciptaan Anggie.

Dia merancang berbagai program coding untuk menciptakan sistem yang diinginkannya. Misalnya, untuk mengeluarkan suara, Anggie menggunakan sistem text to speech (TTS) yang mengubah sebuah teks menjadi ucapan secara otomatis.

Dia harus memprogram setiap tombol bekerja sesuai dengan ketentuan penulisan huruf braille. Jadi, ketika alatnya digunakan penyandang tunanetra, mereka tak akan mengalami kesulitan. ’’Beda misalnya kalau saya menggunakan keyboard biasa dengan banyak tombol. Pasti teman-teman tunanetra harus belajar dari awal untuk menggunakan alat saya,’’ jelasnya.

Untuk mewujudkan tombol sederhana tersebut, Anggie sebenarnya sulit mencarinya. Dibantu sang ayah, Anggie akhirnya menggunakan keyboard bekas komputer. Keyboard itu lantas dipotong untuk mendapatkan satu baris tombol. Ketika alatnya jadi, bekas potongan keyboard tersebut ditempeli lakban hitam.

Berkat alat modifikasinya, pada November tahun lalu, Anggie meraih medali emas dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Di lomba tingkat nasional itu, Anggie menggondol penghargaan di bidang teknologi dan rekayasa kategori individu. ’’Nggak nyangka,’’ ucapnya dengan nada riang.

Kejutan tak sampai di situ. Setelah menggondol medali, dia diberi kesempatan oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya untuk presentasi di depan Wali Kota Tri Rismaharini. Orang nomor satu di Surabaya itu pun tertarik dengan alat ciptaan Anggie. Risma juga mengusulkan agar temuan Anggie dipatenkan. ’’Alhamdulillah, patennya keluar akhir tahun lalu,’’ tuturnya.

Kini Anggie merealisasikan permintaan Risma. Yakni, menggandakan alat agar bisa dimiliki 63 SMP negeri di Surabaya. Setiap SMP mendapat dua alat bikinannya. Anggie juga diminta menjadi tutor untuk memberi tahu cara kerja alatnya. ’’Per alat dibiayai Rp 600 ribu,’’ ungkapnya.

Penggandaan mesin ketik braille buatannya kini memasuki proses desain. Memang tak mudah memproduksi karya buatannya tersebut secara masal. Sebab, beberapa komponen memang dimodifikasi Anggie sendiri sehingga belum ada di pasaran. Dengan dibantu sang ayah, dia sedang mencari rekanan agar penggandaan alat bisa terealisasi.

Anggi berharap mesin ketik buatannya bisa digunakan penyandang tunanetra di Indonesia secara luas. Dengan begitu, karya-karya luar biasa mereka bisa dinikmati publik. Tak hanya terbatas pada kalangan tertentu. ’’Biar semua orang tak dibatasi kekurangan yang dimiliki dan bisa berkarya untuk bangsa,’’ tandasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git


Close Ads