alexametrics

Jalan Tak Biasa Denok Marty Astuti, Tinggalkan Perusahaan Multinasional demi Perangi Sampah

Jadi Bos di Penjara, Ditolak Kampung Sendiri
7 Februari 2017, 16:59:44 WIB

Punya posisi di pabrik motor terbesar di tanah air tidak membuat Denok Marty Astuti puas. Bermodal kecintaan pada dunia pengolahan sampah, dia memutuskan untuk resign. Demi berfokus mengurus sampah di kampung halamannya di Solo.

A NDRA NUR OKTAVIANI, Solo

DUDUK di posisi kepala subdepartemen salah satu perusahaan multinasional tentu bukan pencapaian yang mudah. Denok setidaknya membutuhkan waktu 10 tahun untuk sampai di posisi tersebut.

Jalan Tak Biasa Denok Marty Astuti, Tinggalkan Perusahaan Multinasional demi Perangi Sampah
PANGGILAN JIWA: Denok Marty Astuti (kiri) saat memberikan materi pengolahan sampah kepada siswa x. (Andra Nur Oktaviani/Jawa Pos/JawaPos.com)

Karena itu, sangat banyak yang menyayangkan keputusannya untuk mundur dari perusahaan. Apalagi profesi selanjutnya adalah bergelut dengan sampah.

’’Saya mengajukan pengunduran diri sampai empat kali. Yang terakhir saya jelaskan bahwa di sini semua orang sudah pintar. Sekarang saya ingin membuat orang di luar sini pintar,’’ cerita Denok kepada Jawa Pos saat ditemui di rumahnya di kawasan Purwosari, Solo, Jumat (3/1).

Denok berkisah, keinginannya untuk mundur dari perusahaan setelah 12 tahun bekerja semakin kuat saat mendapat beasiswa ke Jepang pada 2013. Di Negeri Sakura itu, dia belajar banyak tentang pengolahan sampah.

Dia pun semakin ingin menerapkan ilmu yang baru didapatnya itu di tanah air. Namun, hal tersebut tidak mungkin terlaksana jika dikerjakan setengah hati.

’’Kalau hanya Sabtu-Minggu pas libur, tidak akan berhasil. Jadi, saya putuskan untuk keluar. Per Desember 2014, saya mundur,’’ ungkap perempuan kelahiran 4 April 1978 itu.

Setelah resign, Denok memilih untuk pulang kampung. Ekonomi menjadi alasan utamanya. Menurut dia, hidup di Jakarta tanpa pekerjaan bukanlah hal mudah. Sedangkan di Solo, Denok bisa berhemat. Di Solo, kata dia, Rp 3.000 saja sudah bisa dapat sebungkus nasi. Untuk tempat tinggal, dia juga tidak khawatir karena sudah punya rumah di kawasan Colomadu.

’’Nah, di Jakarta juga sudah banyak sekali pegiat lingkungan hidup. Tinggal percepatan warganya, sedangkan di Solo belum ada. Karena itu, saya pilih untuk pulang,’’ kata alumnus Universitas Indonesia itu.

Sesampai di Solo, Denok sempat bingung harus memulai dari mana. Penjara menjadi hal pertama yang terlintas dalam benak Denok. Dia melihat potensi sampah yang begitu besar di penjara. Dia membayangkan 600 narapidana akan menghasilkan banyak sampah dalam sehari.

Berdasar informasi yang didapat Denok, dalam sehari, rutan itu menghasilkan tiga pikap sampah. Sementara itu, mereka hanya memiliki sebuah pikap untuk mengangkut sampah-sampah tersebut ke TPA Putri Cempo.

’’Sisa makan mereka itu berapa banyak? Sehari mereka makan tiga kali. Sisanya yang jadi sampah pasti banyak sekali. Itulah pertimbangan pertama saya pilih penjara,’’ ungkapnya.

Tidak butuh waktu lama, tiga hari setelah pulang ke Solo, Denok langsung mendatangi Rutan Kelas I Solo. Tanpa ragu, dia menemui Karutan dan menjelaskan sampah yang dihasilkan rutan tersebut dalam sehari. Dia juga menjelaskan potensi sampah-sampah tersebut jika diolah menjadi pupuk. Mendengar penjelasan Denok, Karutan tertarik dan akhirnya membuat kontrak tertulis dengan Denok tepat pada Februari 2015.

’’Waktu itu, saya memang mengajukan sendiri. Tetapi, tetap harus melalui proses seleksi dan pengecekan sampai rumah. Jangan-jangan, saya bandar narkoba lagi,’’ tutur perempuan 38 tahun itu.

Saat memulai programnya, Denok sempat kaget melihat kondisi di dalam rutan. Rutan tersebut, kata dia, ternyata punya bengkel yang sangat besar. Bengkel itu sebenarnya bisa dimanfaatkan para napi untuk mengasah kemampuan mereka. Sayang, di bengkel sebesar itu, hanya ada lima orang yang bekerja. Mereka terlihat sedang mengerjakan pesanan teralis dan pintu besi.

’’Sisanya malah nongkrong. Padahal, nongkrong itu kan risiko mereka berantemnya lebih besar. Karena enggak ada kerjaan. Sementara kalau mereka kerja di bengkel, bisa lebih fokus dan dapat keterampilan baru,’’ kata Denok.

Sambil memikirkan keterampilan yang kira-kira bisa diberikan kepada para napi, Denok mengajari mereka membuat pupuk kompos dari sisa makanan mereka. Kompos yang diberi nama Biorutani itu pun akhirnya menjadi produk unggulan rutan tersebut.

Setelah berhasil membuat kompos, Denok mulai mengajari membuat kerajinan tangan lainnya dari sampah anorganik. Saat ini ada 60–80 napi laki-laki dan perempuan yang aktif membuat kerajinan. Para napi membuat berbagai macam kerajinan, mulai keranjang buah berbahan kertas koran sampai miniatur kapal-kapalan dari bambu, dan masih banyak lagi macam ragamnya.

Hasil kerajinan itu lalu dipajang di galeri yang dulunya menjadi garasi Karutan. Setiap hasil kerajinan ditata dengan rapi sehingga bisa menarik minat orang untuk membeli. Selain membuat barang ready stock, para napi kerap mendapat order dari Denok untuk mengerjakan pesanan.

’’Terkadang ada yang pesan ke saya, tapi saya tidak sanggup mengerjakannya. Jadi, saya serahkan kepada mereka. Biar jadi rezeki mereka,’’ ungkapnya.

Pada awal-awal kegiatan pemberdayaan, Denok cukup sering mengunjungi rutan dan memberikan pelatihan. Mulai composting, cara pengolahan sampah daur ulang, hingga membuat beragam kreasi kerajinan tangan. Saking seringnya Denok berkunjung, sipir yang berjaga di pintu masuk sudah hafal dan memberikan jalan khusus untuk Denok.

’’Baru lihat saya saja, sipir itu sudah bilang ’bose teko’ sambil membukakan pintu. Kalau yang lain harus catat nama dan tinggalkan KTP, saya langsung masuk saja,’’ ujar Denok, lalu tertawa.

Namun, sekarang jadwal Denok bisa lebih longgar. Menurut dia, para napi sudah bisa jalan sendiri. Jika ada pesanan, mereka mengerjakannya dengan mandiri. Tetapi, jika ada produk kerajinan tangan baru, Denok baru turun tangan memberikan pelatihan intensif sampai mereka bisa mengerjakan sendiri.

Denok mengakui bahwa berurusan dengan para napi jauh lebih mudah daripada dengan ibu-ibu di lingkungan rumahnya. Jika di rutan sampai dipanggil bos, di lingkungan rumahnya, Denok justru dipandang sebelah mata.

Dia bercerita, saat hendak memberikan edukasi kepada ibu-ibu di kelurahannya, dia dihadang beberapa ibu yang berjaga di depan pintu masuk tempat edukasi.

’’Mereka bilang, ’Mbak Denok, kami tidak butuh edukasi’. Saya bilang, ya enggak apa-apa. Toh, ini sosial. Kalau mau, ayo. Kalau tidak, enggak maksa. Lalu, saya balik kanan, pulang ke rumah,’’ ujar Denok menirukan perkataan ibu-ibu yang ditemuinya.

Menurut dia, dirinya sudah empat kali melakukan sosialisasi di lingkungannya. Ibu-ibu yang ikut sosialisasi tersebut tidak harus mengeluarkan modal. Semua peralatan diberikan Denok secara cuma-cuma. Tapi, tetap saja tidak ada yang mau. Akhirnya, Denok menyerah. Ketimbang dongkol karena terus-menerus ditolak, dia memilih bergerak ke tempat lain.

Saat ini Denok sudah memberikan pelatihan di 13 di antara 51 kelurahan di Solo. Ibu-ibu yang sudah mendapat pelatihan juga sudah sangat pandai. Kampung-kampung yang pengelolaan sampahnya telah bagus lalu disebut dengan kampung daur ulang.

Kiprah Denok di Solo ternyata mengantarkannya kembali ke Jakarta. Bersama teman-temannya, Denokmelakukan kerja sama dengan Pusat Pengelolaan Kompleks Kemayoran (PPKK) Jakarta untuk membantu mengelola sampah di sana. Ke depan, wilayah PPKK seluas 450 hektare yang meliputi apartemen, perkantoran, serta perumahan di kawasan Kemayoran harus nol sampah. Artinya, sampah tidak boleh dibuang ke luar lagi, tetapi semua dikelola sendiri.

Dari kegiatan tersebut, pada 2015 Denok berhasil mendapat penghargaan dari Junior Chamber International, sebuah lembaga di bawah naungan PBB. Dia masuk kategori Ten Outstanding Young Person. (*/c5/ang/sep/JPG)

Editor : Suryo Eko Prasetyo

Jalan Tak Biasa Denok Marty Astuti, Tinggalkan Perusahaan Multinasional demi Perangi Sampah