alexametrics

Nur Fadilah Bawa Kriuk Rengginang Surabaya Terasa hingga Korea Selatan

7 Januari 2021, 07:48:10 WIB

Surabaya memiliki banyak penganan khas yang dikonsumsi secara turun-temurun. Beberapa di antaranya sudah merambah pasar luar negeri. Salah satunya, rengginang yang diproduksi Nur Fadilah. Penganan itu sudah diekspor ke Korea Selatan. Bahkan, Nur Fadilah kini berencana memperluas ekspor dengan membidik pasar Eropa dan Amerika Serikat.

UMAR WIRAHADI, Jawa Pos

RUANGAN seluas 600 meter persegi di Jalan Manyar Sabrangan itu terlihat penuh aktivitas kemarin siang (5/1). Sebagian pekerja tampak sibuk mengemas rengginang yang sudah matang ke dalam kantong-kantong plastik. Selanjutnya, penganan itu ditata dalam kotak-kotak kardus.

Bukan itu saja. Sebagian pekerja yang mayoritas perempuan tersebut juga terlihat wira-wiri mengangkat wadah berisi rengginang mentah untuk dijemur. ’’Di sinilah tempat produksi kami sehari-hari,’’ kata Nur Fadilah, pemilik rumah, kepada Jawa Pos kemarin.

Perempuan 68 tahun itu adalah pemilik usaha makanan ringan yang terbuat dari beras ketan tersebut. Meski berbentuk produksi rumahan, kualitas olahan rengginang milik Fadilah sudah melanglang buana sampai ke negeri orang. Ya, rengginang yang diproduksi ibu tiga anak itu sudah merambah pasar Korea Selatan. ’’Bisa memperkenalkan makanan khas Indonesia, rasanya, bangga sekali. Kita bersyukur saja,’’ ujarnya merendah.

Fadilah sudah lama memulai usahanya. Persisnya sejak 1985. Awalnya dia memasarkan produknya secara door-to-door. Juga, dari satu pasar tradisional ke pasar tradisional lainnya. Lama-kelamaan olahan rengginang Fadilah makin diminati. Mulai 2000-an, dia merambah ritel-ritel modern.

Nah, dia mulai melakukan ekspor saat mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2018 di Jakarta. Dia diutus langsung oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemprov Jatim. Dalam pameran tersebut, dia mendapat perhatian khusus dari importer asal Korea Selatan. Importer itu tertarik dengan produksi rengginang. Selain rasanya yang renyah, aroma bawang putihnya begitu kuat. Nah, itu disukai warga Korsel.

Importer itu pun meminta Fadilah untuk memberikan contoh produksinya. Namun, proses tersebut tidak mudah. Harus melalui berbagai tahapan yang cukup rumit dan ketat. Produksi rengginang harus disertai dengan cek laboratorium. Juga, pemeriksaan komposisi makanan, uji nutrisi, hingga alur produksi. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa rengginang benar-benar higienis dan tidak mengandung bahan pengawet. ’’Memang prosesnya lama. Karena ini makanan, harus melalui berbagai pemeriksaan untuk memastikan kandungan kesehatannya,’’ tuturnya.

Sampai akhirnya, kesempatan itu datang. Pada Juni 2019, importer tersebut meminta Fadilah untuk mengirim barang ke Korsel. Masing-masing seratus boks rengginang dan kerupuk tempe. Jumlah keseluruhannya 800 kilogram dengan nilai ekspor sekitar Rp 60 juta. ’’Meski nilainya tidak seberapa, itu berkesan sekali karena kali pertama bisa ekspor,’’ tutur Fadilah, lalu tersenyum.

Ternyata, eskpor pertama tersebut mendapat respons positif. Pada Agustus 2019, importer menghubungi Fadilah agar kembali mengirim barang. Bahkan kali ini lebih banyak. Yaitu, satu kontainer dengan berat total 1,6 ton. Itu terdiri atas rengginang bawang dan kerupuk tempe. Nilai ekspornya Rp 150 juta. Pada November, dia kembali mengirim dengan jumlah yang sama.

Nah, pada 2020 Fadilah sampai tiga kali mengekspor rengginang dan kerupuk tempe. Yaitu, Maret, September, dan Desember lalu. Pada pengiriman terakhir 26 Desember 2020, Kepala Diskoperindag Jatim Drajat Irawan datang langsung untuk melepas pengiriman yang diberangkatkan dari showroom milik Nur Fadilah di Jalan Ngagel Madya, Surabaya.

Baca Juga: Utang Rp 1,3 Miliar lewat WA, Uang Habis untuk Main Saham

Pengiriman dilakukan melalui Pelabuhan Tanjung Perak ke Pelabuhan Incheon, sebuah pelabuhan utama di pesisir barat Korea Selatan. Makanan ringan olahan Fadilah punya nama produksi Syafrida. Nama tersebut diambil dari tiga nama anaknya. Yaitu, Syaiful, Suhairi, dan Novrida.

Putri Fadilah, Novrida Rahmawati, mengatakan bahwa kegiatan usaha rumahan ibunya terus berkembang. Saat ini pihaknya menampung 18 pekerja. Bahkan, sebelum pandemi Covid-19 mendera, produk usaha rumahan itu mempekerjakan 24 karyawan. ’’Sebagian besar adalah warga Kota Surabaya,’’ tutur Novrida.

Mereka juga membantu penjualan produk UMKM di Surabaya. Caranya, mereka membeli berbagai hasil produksi. Misalnya, kedelai goreng dan jagung goreng. ’’Dengan begini, kita membantu usaha para penggiat UMKM,’’ imbuh perempuan 40 tahun itu. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : mar/c7/git


Close Ads