alexametrics

Duka Mendalam Keluarga M Agus, Korban KKSB di Nduga Papua

Hati Kecilnya Berbisik, Anaknya Masih Hidup
6 Desember 2018, 18:42:41 WIB

JawaPos.com – Hasnawati Daeng Lenteng, 48, duduk lesu di ruang tamu. Dia memandangi bingkai foto yang berada di pangkuannya. Sesekali termenung. Tamu dan kerabat terus berdatangan ke kediaman Daeng Lenteng. Mereka ikut berempati, mengucap belasungkawa.

Foto berbingkai rapi itu ditunjukkan kepada tamu yang datang melayat. Sekadar memperlihatkan wajah anaknya, M Agus, yang dikabarkan menjadi korban kekerasan Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB) di Papua.

Agus berada di Papua karena mengikuti proyek pembangunan jembatan di Distrik Yall, Kabupaten Nduga, Papua. Sejak 4 November 2017, putra sulungnya itu ikut proyek jalan dan jembatan itu.

Tiba-tiba, Daeng Lenteng menerima kabar yang membuat hari-harinya suram, Minggu, 2 Desember 2018. Agus dikabarkan tewas.

KKSB pimpinan Egianus Kogoya dilaporkan telah melakukan pembantaian terhadap pekerja proyek pembangunan jembatan. Agus salah satunya.

Meski sedih, Daeng Lenteng tak lantas percaya. Dia yakin anaknya masih hidup. Kabar bahwa anaknya tewas baru dapat diyakininya bila melihat langsung jasadnya.

Tak ada firasat anaknya tewas tertembak. Bahkan dia tak pernah menyangka putra sulungnya itu mengembuskan napas terakhir di perantauan. “Saya baru bisa percaya bila melihat langsung mayatnya,” Daeng Lenteng mengucapkannya dengan suara sedikit tertahan sebagaimana dikutip dari FAJAR (Jawa Pos Group).

Hari-harinya kini hanya menanti kabar di kediamannya di Dusun Botong II, Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya, Gowa. Berharap anaknya kembali pulang dan memeluknya.

Dia masih mengingat percakapannya dengan Agus melalui sambungan telepon, September lalu. Agus mengabarkan dirinya baik-baik saja di Nduga, kabupaten terpencil nun jauh di pulau Timur Indonesia itu.

Agus bahkan sempat mengiriminya uang untuk keperluan rumah tangga. Masing-masing Rp 600 ribu dan Rp 2,5 juta. Uang itu akan digunakan untuk membeli kulkas.

“Hampir sejam saya berbicara dengan dia. Tanggal 28 September saat itu. Tak ada sedikit pun firasat ia akan tewas seperti ini,” Daeng Lenteng bertutur dengan mata berkaca-kaca.

Meski begitu, Daeng Lenteng mengaku akan terus berusaha tegar mendengar kabar duka tersebut. Terus berdoa anaknya selamat.

Jika akhirnya kabar bahwa anaknya telah tewas benar terjadi, hanya satu yang Daeng Lenteng sesalkan. Tak sempat mengucapkan selamat berpisah saat Agus meninggalkan kampung halaman.

“Saya sangat sedih. Saat Agus pergi ke Papua, saya tak ada di rumah. Saat itu, saya di kebun. Saya tak sempat lagi ucapkan selamat jalan kala itu,” Lenteng kembali mengucek kedua matanya yang berair.

Nada suaranya kian sesak mengenang kepergian anaknya merantau ke Papua. Zainuddin lah yang pertama kali mengabarkan kabar duka perihal peristiwa tragis yang menimpa Agus. Dia menerima kabar dari adiknya yang juga berada di Papua.

Kabar itu juga sempat disangsikannya. Apalagi adiknya belum melihat jasad anak sepupunya itu. “Saya juga sudah kontak pihak perusahaan. Katanya, betul ada karyawan atas nama Agus tewas. Tapi, jasadnya belum bisa dievakuasi karena sulitnya medan,” ungkap Zainuddin.

Namun, masih ada keraguan dari kabar itu. Apalagi juga dikabarkan ada korban yang berhasil selamat. Zainuddin mengaku belum mendengar kabar terkait evakuasi korban.

“Kini, kita hanya bisa menunggu. Berharap Agus selamat. Petunjuk yang pasti, karyawan perusahaan tempat Agus bekerja diserang kelompok bersenjata,” imbuh Zainuddin.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : (fab/jpg/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Duka Mendalam Keluarga M Agus, Korban KKSB di Nduga Papua