alexametrics

Angkat Perubahan Nama Jalan di Surabaya, Jeremy Sabet Medali di Serbia

6 September 2019, 20:48:07 WIB

TIDAK banyak generasi milenial yang punya perhatian pada sejarah. Tapi, tidak demikian Jeremy James. Hasilnya, dia mendapatkan medali perak dalam ajang International Conference of Young Social Scientists di Beograd, Serbia, Agustus lalu.

HISYAM, Surabaya

Siswa kelas XI Sekolah Ciputra itu terlihat gugup saat kali pertama bersua dengan Jawa Pos. Remaja 16 tahun tersebut meninggalkan kelasnya untuk berbincang mengenai kesukaannya. Sejarah. ”Saya memang suka belajar sejarah. Banyak nilai hidup yang bisa saya pelajari di sana,” tuturnya.

Saking tertariknya, kata Jeremy, tiada hari yang dilewati tanpa membaca referensi sejarah. Wacana perubahan nama Jalan Gunungsari di Kecamatan Dukuh Pakis dan Jalan Dinoyo di Kecamatan Keputran beberapa tahun terakhir tak alpa dari perhatian Jeremy. Sampai kemudian Jalan Gunungsari berubah menjadi Jalan Siliwangi serta Jalan Dinoyo menjadi Jalan Sunda. Setelah diresmikan Gubernur Jatim Soekarwo pada Februari 2019, Jeremy terus meng-update perkembangannya. ”Saya pengin tahu lebih. Ada apa di balik perubahan nama jalan itu?” katanya Rasa ingin tahu tentang sejarah pengusulan nama jalan dan alasan penolakan usulan perubahan nama jalan tersebut membawanya menjadi salah satu peserta dari Surabaya yang mengikuti kompetisi Peneliti Belia tingkat Provinsi Jawa Timur.

Tema sejarah yang dia angkat adalah Harmonization of Sunda-Jawa, Potential for The Loss of The Dinoyo Street and Gunungsari Histori in Surabaya. Tak disangka, setelah presentasinya lewat video dikirim ke panitia Centre for Young Scientists (CYS) dan di-upload di akun YouTube-nya, Jeremy dinobatkan sebagai pemenang.

Dari sana, Jeremy berlanjut ke kompetisi CYS tingkat nasional. Makalah anak pertama di antara tiga bersaudara itu pun sama, tentang perubahan nama jalan. Cara kompetisinya sama, presentasi lewat video yang dikirim ke panitia dan di-upload di akun YouTube. ”Nggak sangka, saya menang lagi dan mengalahkan peneliti belia sejarah dari berbagai daerah lain,” ujarnya.

Kemudian, Jeremy mewakili Indonesia untuk mengikuti Young Social Scientists tingkat internasional di Serbia pada 23 Agustus 2019. Bidangnya juga sejarah.

Namun, mekanisme lomba kali ini beda. Tidak menggunakan video, tetapi presentasi langsung di depan para dewan juri dan peserta lain dari berbagai negara Asia dan Eropa. Lagi-lagi, anak pasangan Junly Kodradjaya dan Srie Arieanie Soenjoto itu mendapat apresiasi dari dewan juri karena kemampuan presentasinya. Di Serbia, Jeremy mengaku kurang persiapan untuk pendalaman materi. Beruntung, medali perak diraihnya.

Menurut Jeremy sebagaimana dalam penelitian singkatnya itu, semangat utama adanya perubahan nama jalan tersebut adalah untuk harmonisasi sekaligus langkah rekonsiliasi antara suku Sunda-Jawa. Dalam sejarah, lanjut dia, Jawa dan Sunda memiliki jejak konflik, terutama lewat meletusnya Perang Bubat pada abad ke-14. Yakni, pada masa pemerintahan Raja Majapahit Hayam Wuruk.

”Perang terjadi akibat perselisihan Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari kerajaan Sunda di pesanggrahan Bubat. Perang itu mengakibatkan tewasnya rombongan Sunda,” paparnya.

Nah, sejarah itu konon masih menjadi sentimen antara suku Sunda dan Jawa. Menurut sebagian yang lain, sentimen tersebut masih terjaga sampai sekarang. Bahkan, menjadi salah satu alasan munculnya larangan menikah dua suku itu. ”Itu kan dianggap mitos saja. Selain itu, karena sejarah tersebut, ada stereotipe antardua suku hingga kini,” ujarnya.

Karena itu, langkah untuk merekonsiliasi dua suku tersebut diperlukan. Sentimen itu perlu dihilangkan. Nah, salah satunya lewat pergantian nama dua jalan di Surabaya. ”Harapannya untuk menyatukan, meleburkan perbedaan suku dan mitos-mitos seputar dua suku itu,” imbuhnya.

Meski alasannya demikian, berdasar wawancara dengan berbagai narasumber dan warga di sekitar Jalan Gunungsari dan Dinoyo, Jeremy mengungkapkan bahwa tidak ada rasa sentimen antara suku Jawa dan Sunda. ”Sekat itu tidak ada di lapangan. Orang-orang malah berpendapat kecil keterkaitan rekonsiliasi suku dan perubahan nama jalan,” ungkapnya. 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/tia

Close Ads