alexametrics

Warga Bandarejo Buat Sentra Wisata Kuliner dengan Panorama Suramadu

6 Agustus 2022, 07:48:24 WIB

Hamparan tambak terlihat jelas di daerah RW 3 Bandarejo, Kelurahan Bulak Banteng. Mayoritas warga di sana merupakan petani tambak dan penjual ikan di pasar. Namun, sejak lima tahun lalu hasil tambak kurang maksimal. Agar asap dapur tetap mengepul, warga membuat sentra wisata kuliner (SWK) dengan bermodal semangat. Semuanya swadaya.

WAHYU DIAN PRATAMA, Surabaya

INISIATIF untuk membuat sentra wisata kuliner sejak lama digaungkan oleh warga RW 3 Bandarejo. Keinginan tersebut semakin kuat karena hasil panen tambak mulai berkurang. Awalnya dalam satu tahun bisa panen dua kali. Namun, kini hanya bisa satu kali.

Selain itu, warga juga ingin mengangkat ikon dari Bandarejo, yaitu bandeng dan terasi. Bandeng Bandarejo memiliki ciri khas khusus, yakni tekstur dagingnya halus, lebih gurih, manis, dan tidak bau tanah. Ciri khusus juga dimiliki terasi khas Bandarejo, yaitu dibuat secara manual hanya dengan diulek dan dijemur.

”Sehingga semakin lama semakin enak,” ungkap Priam Setyardi Kusuma selaku ketua RW 3.

Merasa memiliki semangat dan latar belakang yang sama, ibu-ibu PKK RW 3 akhirnya berkumpul dan berdiskusi terkait rencana pengembangan wisata kuliner di wilayah tersebut. Setelah diskusi panjang, mereka sepakat untuk membuat sentra wisata kuliner (SWK) secara swadaya.

Merespons semangat warga, Priam lalu berdiskusi dengan Muhid, pemilik lahan di dekat tambak. Rencananya, Muhid akan membangun parkiran mobil di lahan tersebut. Namun, mendengar semangat warga serta ide kreatif untuk membuat SWK, Muhid akhirnya mengiyakan. ”Saya hanya ingin tanah ini bermanfaat untuk warga,” jelas Muhid.

Dalam perjalanannya, ada tantangan yang harus dilalui. Salah satunya terkait persoalan pendanaan awal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sejak pertengahan Februari ibu-ibu berinisiatif untuk mengamen keliling kampung. Setiap Minggu pagi dengan sound system yang dibawa, enam ibu-ibu dengan giat melantunkan suara merdunya. Dari mengamen sebanyak enam kali itu, mereka menghasilkan uang Rp 3,2 juta. Selain itu, ada bantuan dari kantong pribadi Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono. Nilainya Rp 3,5 juta. Total ada uang sejumlah Rp 6,7 juta sebagai modal awal warga untuk membangun SWK. ”Alhamdulillah, untuk lapak kami mendapatkan bantuan dari pemprov sebanyak sepuluh lapak,” ungkap ketua RW 3 itu.

Pembangunan itu pun dimulai pada Mei lalu (21/5). Setiap minggu warga bekerja bakti bersama untuk mendirikan SWK tersebut. Ibu-ibu juga rela memberikan tanaman hiasnya untuk memperindah SWK. Buah hasil kerja keras tersebut terlihat. Pada Juni lalu (8/6), secara resmi sentra kuliner itu mulai beroperasi dan diresmikan.

Nama Guminto dipilih dari istilah Bahasa Belanda, yaitu gemeente yang berarti kota madya. Nama tersebut dipilih karena memiliki sejarah panjang yang mewakili wilayah Bandarejo. ”Dulu zaman Belanda, wilayah sini sering disebut Gemeente. Oleh sebab itu, kita memilih nama Guminto,” terangnya.

Di sentra kuliner itu, ada 16 pelapak yang berjualan. Semua penjual berasal dari warga RW 3. Setiap berjualan para pedagang ditarik iuran Rp 15.000 sebagai uang kebersihan serta air. Mulai makanan ringan hingga seafood tersedia di sini dengan harga yang terjangkau. ”Menu andalan kami di sini seafood,” ungkap Siti Khotijah selaku koordinator SWK Guminto.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Saksikan video menarik berikut ini: