alexametrics

Yevi Widya Rahayu Butuh Transfusi 21 Liter Darah karena Plasenta Akret

Tanpa Rasa Sakit, Tiba-Tiba Banjir Darah
6 Juli 2019, 16:37:01 WIB

YEVI Widya Rahayu mengingat potongan kejadian 16 bulan lalu. Kata demi kata dia keluarkan. Sesekali suaranya bergetar karena mengenang kelamnya kejadian saat dia mengandung anak yang kedua.

KARTIKA SARI, Surabaya

Saat usia kehamilan masih lima bulan, Yevi menjalani pemeriksaan rutin ke dokter praktik spesialis kandungan di dekat rumahnya di Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek.

Dia diberi tahu mengalami plasenta akreta. Karena belum yakin dengan pemeriksaan di dokter praktik itu, Yevi memeriksakan diri ke RSUD dr Iskak Tulungagung dengan ultrasonografi (USG).

Dari sanalah Yevi yakin bahwa dirinya mengalami plasenta akreta. Menurut penjelasan dokter, kondisi tersebut berisiko tinggi terjadi pada perempuan yang sebelumnya pernah Caesar. Kebetulan, saat melahirkan anak pertama, Yevi menjalani Caesar karena kondisi bayinya sungsang.

Plasenta akreta adalah penyakit yang cukup membahayakan bagi perempuan Penyakit itu ditandai pembuluh darah plasenta atau ari-ari yang tumbuh terlalu dalam pada dinding rahim. Kondisi tersebut bisa mengakibatkan pendarahan hebat saat hamil. Bahkan, kematian pada ibu dan anak. Jika terlalu parah, jalan terakhir untuk menyelamatkan ibu adalah mengangkat rahimnya.

Yevi pun ketakutan. Dia menceritakan kekhawatirannya itu kepada keluarga dan Hadi Mubasor, suaminya. ”Keluarga dan suami saya malah menanggapi kondisi saya dengan santai. Itu membuat saya selalu memendam ketakutan sendiri. Saya juga jadi sungkan bercerita kepada mereka. Sering kali saya menangis ketika sendirian,” kenang perempuan 30 tahun itu.

Setiap selesai beribadah, Yevi selalu merapalkan doa-doa agar persalinannya lancar. Semoga dia masih bisa merawat dan mendampingi tumbuh kembang anaknya hingga dewasa.

Pada 22 Februari 2018, kecemasan Yevi seolah terbukti. Tanpa tanda-tanda yang jelas, lantai rumahnya banjir darah. Yang membuatnya heran, tidak terasa sakit sedikit pun. ”Saya panik. Teriak panggil suami dan kakak,” kenangnya.

Mereka pun membawa Yevi ke RSUD dr Soedomo Trenggalek. Darah sudah merembes dari kemaluannya. ”Kata tetangga-tetangga saya, sepanjang perjalanan, darah terus menetes hingga ke jalanan,” kata Yevi. Masuk RS, kondisinya tak sadar. Tiga jam setelah itu, dia dirujuk ke RSUD dr Soetomo.

Di RSUD dr Soetomo, keluarga Yevi belingsatan mencari darah untuk transfusi. Keesokannya untuk menolong sang bayi, operasi Caesar pun dilakukan. Yevi ditangani sekitar 20 dokter. Di antaranya, 3 dokter kandungan, 2 dokter kardiovaskuler, 8 dokter anestesi, dan 3 dokter bedah urologi. Selain itu, ada 3 perawat dan 3 perawat anestesi.

Di luar ruang operasi, Hadi tak berhenti berdoa. Dia juga menyesal karena tak menggubris penjelasan istri dan dokter tentang plasenta akreta. Dia pasrah saat dokter mengatakan bahwa istrinya harus menjalani operasi pengangkatan rahim. ”Saya berserah diri. Ikut semua yang disarankan oleh dokter. Yang penting, istri dan anak saya bisa selamat,” ucap Hadi.

Hadi membantu sang istri dengan mencarikan stok darah di RS. ”Kata dokter, darah yang ditransfusi sampai 21 liter. Itu rekor terbanyak seseorang yang transfusi darah,” kata pria 34 tahun itu.

Operasi Caesar yang dijalani Yevi berlangsung hampir 20 jam. Mulai pukul 06.30 sampai 20.00. Yevi dan bayi perempuannya selamat meski berat si kecil hanya 1,5 kilogram. Diberi nama Nahelsa Adya Hadvi Mawada, anak kedua Yevi dan Hadi itu kini berusia 16 bulan. Dia tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria.

Salah seorang dokter kandungan yang menangani Yevi, dr Rozi Ditya Aryananda SpOG, berpesan agar masyarakat sering mengontrolkan kandungan. Minimal satu bulan sekali agar plasenta akreta bisa dideteksi lebih dini. ”Plasenta akreta sudah bisa diketahui saat usia kehamilan dua bulan melalui pemeriksaan ultrasonografi,” kata dia.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/tia