alexametrics

Yang Penuh Sejarah, Yang Berbiaya Mahal, ”Bersatu” dalam Kesuraman (2)

Yang Nonton 3–4 Ribu
6 Juni 2020, 16:41:50 WIB

Selain biayanya mahal, PSPS tidak berkandang di Stadion Utama Riau karena tak bisa jadi ”senjata” menyulitkan lawan. Di Bandung, Persib tak lagi main di GBLA sejak tragedi Haringga Sirla.

PANJI A.S., PekanbaruMURWANI R.A., BandungFARID S.M., Jakarta, Jawa Pos

USIANYA belum genap satu dekade. Biaya pembangunannya mencapai Rp 1,18 triliun. Mungkin stadion termahal di Indonesia.

Dengan daya tampung sekitar 44 ribu penonton, Stadion Utama Riau semestinya jadi salah satu panggung kompetisi strata teratas. Juga, jadi alternatif tiap kali tim nasional tampil di laga internasional.

Namun, seperti dilaporkan Riau Pos pada Jumat pekan lalu (29/5), kaca sejumlah ruangan serta pagar hingga plafonnya nyaris roboh. Selain itu, basemen tempat parkir kendaraan tidak dapat diakses karena terendam air hujan yang masuk, sedangkan sistem drainase stadion di Pekanbaru itu rusak.

Beruntung, kondisi lapangan dan tribun penonton stadion yang diresmikan pada 2012 itu masih baik dan dapat digunakan. Meski demikian, PSPS Riau yang berlaga di Liga 2 toh memilih untuk tak berkandang di sana.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Riau Chairul Riski menyebut semestinya stadion yang jadi venue PON 2012 itu tengah direnovasi sekarang. Namun, akhirnya batal terlaksana karena pandemi Covid-19.

”Kalau untuk nilai renovasi dari APBD sebesar 1,5 miliar, namun tak jadi karena anggaran itu dialihkan untuk Covid-19. Sejauh ini juga ada perusahaan swasta yang masih komitmen untuk membantu renovasi stadion tersebut,” kata Chairul kepada Riau Pos.

Nasib Stadion Utama Riau itu mirip Stadion Palaran di Samarinda, Kalimantan Timur. Mengalami kerusakan di sana sini, tak diminati klub sepak bola lokal, dan renovasinya tersendat.

Di stadion itu pembukaan dan penutupan PON 2012 diadakan. Setahun kemudian pernah pula kebagian memanggungkan Kualifikasi Piala AFC U-22 saat Indonesia berada satu grup dengan Australia, Jepang, Singapura, Makau, dan Timor Leste.

Tapi, setelah itu, bisa dibilang masa-masa ”gelap”. Kebetulan pula, dalam periode yang sama, tak ada tim asal Riau bermain di kasta teratas kompetisi nasional.

Di usia yang sama mudanya, Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) mengalami naik turun serupa Stadion Utama Riau. Di stadion tersebut, meski diiringi kontroversi karena sempat dinilai konstruksinya tak memadai, pembukaan dan penutupan PON 2016 dihelat.

Dan, Jawa Barat mencatat sejarah besar di PON 2016 itu. Untuk kali pertama sejak 1961, yang juga diadakan di Bandung, Jawa Barat menjadi juara umum. Gelar itu disempurnakan keberhasilan merebut emas cabang sepak bola, sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan sejak PON 1951.

Tapi, tragedi tewasnya suporter Persija Jakarta Haringga Sirla saat GBLA menghelat laga Persib versus Persija pada 23 September 2018 meredupkan pamor GBLA. Persib tak pernah lagi berkandang di stadion yang dibangun dengan biaya Rp 545 miliar tersebut.

Pemkot Bandung juga masih harus menyelesaikan serah terima pengerjaan tahap kedua GBLA dari PT Adhi Karya selaku pengembang. Proses tersebut pun kini tengah berjalan dengan pendampingan oleh Kejaksaan Agung.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana menuturkan, pihaknya sudah mengetahui bahwa PT Adhi Karya meminta bantuan kepada Kejaksaan Agung untuk proses mediasi. ”Kami bisa terima selama proses administrasinya klir,” kata Yana di Balai Kota Bandung pada Jumat lalu (29/5) seperti dikutip Radar Bandung.

Menurut dia, Kejaksaan Agung menilai proses serah terima Stadion GBLA yang berkapasitas 33 ribu orang tersebut hanya menyisakan masalah administrasi. Karena itu, PT Adhi Karya dan Pemkot Bandung hanya perlu melengkapi sejumlah administrasi. Namun, Yana mengakui, sejumlah kelengkapan administrasi untuk proses serah terima itu harus merunut pada berkas asli yang kini berada di tangan aparat penegak hukum.

Meskipun sekarang GBLA jarang digunakan, Yana menjamin semua masih dalam kondisi baik. Terutama di bagian dalam yang menggunakan rumput sintetis dan track yang ada di pinggirnya.

BUTUH PERHATIAN: Petunjuk arah di kompleks Stadion GBLA, Bandung, yang nyaris tertutup rumput (29/5). (TAUFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

Sedangkan kondisi di luar stadion, Yana mengakui, perlu ada perhatian lebih. Mengingat, wilayah luar GBLA merupakan bagian yang belum diserahterimakan dari PT Adhi Karya ke Pemkot Bandung. Dengan begitu, pemkot belum bisa berbuat banyak untuk membiayai pemeliharaan bagian luar stadion.

Di Pekanbaru, harapan Stadion Utama Riau sempat menyembul saat Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan mendaftarkannya sebagai salah satu calon lokasi penyelenggaraan Piala Dunia U-20. Meskipun, sejak awal tidak tercantum dalam bidding (pengajuan) ajang tersebut.

Februari lalu Iwan Bule –sapaan akrab Mochamad Iriawan– juga sempat berkunjung ke stadion utama. Gubernur Riau Syamsuar turut mendampingi melihat fasilitas yang ada di stadion tersebut.

Namun, 14 April lalu FIFA mengirimkan surat kepada PSSI. Surat yang ditandatangani Chief Tournament and Event Officer FIFA Colin Smith itu banyak berbicara soal persiapan Piala Dunia U-20. Termasuk membicarakan persiapan enam kota yang bakal jadi calon venue Piala Dunia U-20.

Enam kota yang disebutkan adalah Jakarta (Stadion Utama Gelora Bung Karno), Bogor (Stadion Pakansari), Jogjakarta (Stadion Mandala Krida), dan Surakarta (Stadion Manahan). Serta Surabaya (Stadion Bung Tomo) dan Bali (Stadion Kapten I Wayan Dipta). Dalam surat tersebut tidak disebutkan nama Riau untuk tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021.

”Masih ditangguhkan, PSSI hanya menjelaskan ada enam stadion (setelah keluar surat dari FIFA, Red), tidak termasuk Stadion Utama Riau. Tapi, Menpora tetap berusaha stadion kita diusulkan untuk ditinjau FIFA,” kata Chairul.

PSPS pun memilih berkandang di Stadion Kaharudin Nasution Rumbai. Alasannya simpel, prestasi PSPS yang tak kunjung membaik dan hanya berkutat di Liga 2 sejak 2013 membuat animo masyarakat yang mendukung tidak banyak selama ini.

Media Officer PSPS M. Teza Taufik menuturkan, animo penonton yang turun itu disebabkan lawan-lawan PSPS di Liga 2 tidak setenar Liga 1. Jika memaksa memakai Stadion Utama Riau (SUR) yang kapasitasnya 44 ribu tempat duduk, otomatis seat stadion akan terlihat banyak yang kosong. ’’Sementara penonton PSPS di Liga 2 itu rata-rata 3–4 ribu saja,’’ terangnya.

Memang, dulu ketika masih di Liga 1, yakni musim 2009–2011, jumlah penonton PSPS bisa mencapai lebih dari 18 ribu. ’’Sayangnya, saat itu stadion utama belum ada,’’ katanya.

Baca juga: Yang Penuh Sejarah, Yang Berbiaya Mahal, ”Bersatu” dalam Kesuraman (1)

Teza menambahkan, sebenarnya pada 2017 PSPS sempat berkandang di SUR. Coba-coba. Tapi, Askar Bertuah –julukan PSPS– hanya mampu menghelat tiga pertandingan. ’’Ya, balik lagi alasan operasional yang membengkak tadi. Akhirnya kami balik ke Stadion Kaharudin Nasution Rumbai. Karena hasil penjualan tiket dan rerataan penonton bisa tertutup kalau main di Rumbai, di SUR minus banyak,’’ paparnya.

Alasan lain, Stadion Kaharudin Nasution Rumbai lebih ”menyeramkan” jika dibandingkan dengan stadion utama. Cuaca panas di Riau memang jadi senjata tambahan skuad PSPS jika bermain di kandang.

Nah, kalau bermain di SUR, lawan tidak seberapa merasakan hawa ”panas” tersebut. Atap stadion yang tertutup membuat lawan-lawan yang datang justru senang tidak merasa kepanasan. ’’Tim kami sudah biasa merasakan panas. Kalau bermain di Rumbai yang atapnya terbuka, lawan langsung terkena panas matahari secara langsung,’’ bebernya, lantas tertawa. (*/habis)

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg



Close Ads