alexametrics

Rektor dan Wakil Rektor UK Petra yang Bersedia Gundul demi Donasi

6 Juni 2020, 20:48:15 WIB

Donasi yang dikumpulkan Universitas Kristen Petra melalui program Bald for Students menyentuh nominal Rp 100 juta. Sesuai ”kesepakatan awal”, harus ada pimpinan yang digundul. Demi membantu mahasiswa yang terdampak pandemi.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

Rektor Universitas Kristen (UK) Petra Prof Djwantoro Hardjito kini berkepala plontos. Rambutnya dibabat habis hingga gundul. Pengalaman menggunduli kepala untuk kali pertama sempat membuatnya kikuk. Setiap kali melihat penampilan barunya di depan kaca, pria yang akrab disapa Djwan itu merasa bentuk mukanya ”aneh”.

”Seumur hidup enggak pernah cukur gundul. Baru ini. Sampai sekarang kalau keluar rumah buat jalan pagi, masih pakai topi. Belum pede aja,” ungkapnya saat berbincang dengan Jawa Pos awal pekan lalu.

Tak lama, dia lantas tertawa mengingat pengalaman proses menggunduli kepala. Proses cukur gundul itu berlangsung sekitar 30 menit. Ada tukang cukur keliling yang datang dengan mengenakan alat pelindung diri (APD) ke rumahnya. Saat itulah, dia menggunduli kepalanya.

”Meskipun gundul begini, sudah dibuat rapi, enggak petal-petal,” imbuhnya. Djwan menyadari betul bahwa program donasi yang dikemas lewat cara seperti itu memang terbilang baru. Meski di satu sisi banyak juga yang menyambut antusias.

”Sebagian mungkin merasa enggak sopan, kok pimpinan disuruh plontos. Tapi, ini simbol untuk mengajak saling bantu. Dan mengorbankan, merelakan sesuatu yang kita punya buat menolong orang lain,” ungkap dosen yang juga pernah mengajar di Malaysia itu. Dia menegaskan bahwa hal itu dilakukannya dengan sukacita.

Bagi Djwan, salah satu hal yang membesarkan hati adalah cukup banyaknya mahasiswa yang terlibat dalam program donasi tersebut. Dia terharu sekaligus bersyukur. Sebab, banyak mahasiswa yang terketuk dan tergugah hatinya untuk berdonasi. Pada masa krisis seperti saat ini, mereka rela menyisihkan uang saku. Untuk membantu mahasiswa lain yang sedang kesusahan membayar semesteran.

Kepala plontos juga menjadi tampilan terbaru Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum dan Keuangan UK Petra Agus Toly. Gundul menjadi pengalaman pertama bagi Agus. Awalnya, dia mengaku penasaran. Bagaimana kira-kira nanti penampilannya dengan rambut cepak. ”Ada lah terlintas penasaran, nanti bentuk kepala saya jadi gimana ya? Tapi, enggak sampai berpikir mundur, batal, atau berubah pikiran, enggaklah,” ujarnya.

Menurut dia, menggunduli kepala menjadi pernyataan dukungannya pada kegiatan amal untuk mahasiswa. Dia sendiri merasa tidak bisa berkontribusi banyak. Menjadi nominasi pada program amal Bald for Students saja merupakan sebuah kehormatan baginya.

”Mungkin ada yang berpikir, kegiatan amal kok pakai gundul-gundulan sih. Bagi saya, ada banyak cara untuk berkontribusi dalam kebaikan. Hanya, kita belum terbiasa dengan model yang seperti ini,” jelas Agus.

Dia mengatakan, gerakan itu juga bukan berarti menghargai rambut senilai Rp 100 juta. Dia mengatakan, setiap manusia itu bernilai. Dan tidak bisa dihargai dengan nominal berapa pun. Karena itu, kemasan amal semacam itu jangan dilihat dari nilainya. Tetapi, lebih pada tekad seseorang untuk turut serta dalam kebaikan. ”Bukan saya digunduli, tapi memberi apa yang saya punya melalui gundul. Semoga semua orang lebih memberi nilai pada esensi gerakan ini, bukan pada sensasinya,” tegasnya.

Kepala Office of Institutional Advancement (OIA) UK Petra Meilinda menuturkan, Bald for Students merupakan penggalangan dana yang digagas sejak akhir April lalu. Tujuannya, membantu mahasiswa yang terancam putus kuliah akibat pandemi Covid-19. Sebab, kondisi ekonomi keluarga mereka terdampak pandemi.

”Kurang lebih 300 mahasiswa sudah mengajukan permohonan keringanan dan bantuan. Jadi, kami buat gerakan UK Petra Covid-19 Relief Fund. Program pertama Bald for Student,” paparnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads