alexametrics
Translokasi Harimau Sumatera dari Muara Enim

Enim Tempuh Perjalanan Ratusan Kilometer tanpa Bius

6 Februari 2020, 15:44:27 WIB

Seekor harimau sumatera masuk perangkap. Ia dicurigai sebagai penerkam sejumlah warga Muara Enim, Lampung, meski masih perlu waktu untuk membuktikannya. Si kucing besar itu dibawa untuk direhabilitasi sebelum siap dilepasliarkan.

SAHRUL YUNIZAR, Pesisir Barat, Jawa Pos

BERTOLAK dari Jakarta Rabu (22/1) pagi, Ipen mendarat di Bandara Internasional Raden Inten II, Lampung, pukul 07.30. Bersama paramedis Taman Safari Indonesia Agung Dwi Wijaya, keeper harimau sumatera itu masuk area VIP. Mereka lalu menghampiri mobil pikap Polisi Kehutanan Indonesia yang diparkir sejak dini hari. Pelan-pelan Ipen mengintip muatannya. Terbungkus perangkap besi, berbalut rapat terpal hitam. Isinya: harimau sumatera.

Ipen tahu tugasnya.

Dia akan mengawal translokasi harimau yang disepakati bersama dipanggil Enim itu ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tepatnya ke Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di wilayah Pesisir Barat, Lampung.

Beberapa waktu terakhir sejumlah warga Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel), diterkam harimau. Di antara mereka, ada yang meninggal. Berbulan-bulan penerkamnya dicari. Apakah Enim? Ipen belum berani memastikan. Perlu waktu untuk menjawabnya.

Dengan perlahan Ipen mengangkat terpal bagian bawah untuk mengintip kondisi binatang yang masuk kategori terancam punah oleh lembaga konservasi dunia IUCN itu. Loreng khas harimau sumatera tampak. ”Kakinya,” kata dia sambil menunjuk.

Terusik, Enim mengaum. Pelan, tapi tetap mampu membuat bulu kuduk berdiri. Dari bandara tersebut Enim diterbangkan ke TNBBS. Diperlukan waktu 40 menit di udara sebelum mencapai TWNC. Padahal, sebelumnya Enim sudah melalui perjalanan darat lebih dari 300 kilometer.

Data Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mencatat, Enim masuk perangkap besi di Muara Enim Selasa (21/1) pagi. Perangkap berlokasi di Desa Pelakat, Kecamatan Semendo Darat Ulu, Muara Enim. Berjam-jam ada dalam perangkap, Enim sempat jadi tontonan warga. Sampai akhirnya BKSDA dan Pemerintah Daerah (Pemda) Sumsel memindahkannya ke Lampung. Berangkat sore, ia sampai tujuan menjelang subuh.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengirim Enim ke Lampung karena daerahnya belum punya rescue center harimau sumatera yang memadai. ”Harimau itu akan dievakuasi ke rescue center harimau sumatera di TWNC, Lampung, untuk diperiksa kesehatannya,” terang dia.

Sesudah itu, Herman bergegas mengirim tim untuk mengevakuasi harimau. TWNC dipilih lantaran sudah punya rekam jejak positif.

PENYELAMATAN RAJA HUTAN: Harimau sumatera Enim dibawa ke TWNC, Pesisir Barat, Lampung, dengan menggunakan Cassa PT-TWW dari Bandara Raden Inten II. (SAHRUL YUNIZAR/JAWA POS)

Sejak berdiri, rescue center TWNC sudah merehabilitasi 13 ekor harimau sumatera. Tujuh di antaranya sudah dilepasliarkan. Terhitung, empat kali pelepasliaran harimau sumatera dilakukan TWNC. Dua ekor harimau sumatera dilepasliarkan pada 2008, 2 ekor pada 2010, 2 ekor lagi di 2015, serta 1 ekor bernama Muli pada 2017.

Muli dilepasliarkan dua tahun setelah ditemukan dalam kondisi parah. Bagian perut sebelah kanannya menganga akibat serangan hewan lain. Beraroma cukup menyengat dan penuh belatung. Telat sebentar saja, Muli sangat mungkin tidak selamat. Untung, ia segera ditemukan. Setelah direhabilitasi, begitu kondisinya pulih, ia dilepasliarkan.

Pun demikian dukungan yang diberikan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi. Mantan kepala Dinas Kehutanan Lampung itu menilai TWNC punya fasilitas memadai untuk merehabilitasi Enim. ”Masih habitat yang memenuhi persyaratan hidup harimau,” kata dia.

Selain sudah memiliki catatan baik dalam merehabilitasi harimau sumatera, data TWNC menunjukkan bahwa populasi harimau sumatera di area yang mereka kelola membaik. Tidak kurang dari 43 individu harimau sumatera yang teridentifikasi. Lantaran TWNC hanya mengurus sedikit dari total luas keseluruhan TNBBS yang mencapai 324 ribu hektare itu, bisa jadi jumlah harimau sumatera lebih banyak dari yang sudah teridentifikasi. Arinal optimistis Enim direhabilitasi dengan baik oleh TWNC sampai tiba waktunya dilepasliarkan. ”Dengan harapan bisa menemukan kehidupan,” ucapnya.

Kepercayaan itu pula yang membuat Arinal yakin saat menandatangani berkas serah terima Enim di Bandara Internasional Raden Inten II. Dia bahkan tampak antusias mengantar harimau tersebut naik ke kabin Cassa PK-TWW yang menerbangkan Enim ke TWNC. Sepanjang proses evakuasi dari Muara Enim, harimau itu sama sekali tidak dibius. Paramedis beralasan bahwa tindakan tersebut dilakukan agar Enim tidak kelewat stres.

Namun, usaha itu ternyata belum cukup. Jadi tontonan berjam-jam, perjalanan darat ratusan kilometer, dan dilanjutkan penerbangan dari Raden Inten II ke TWNC tetap membuat Enim stres. ”Dari pengamatan kami, ia stres berat,” kata Sadmoko Kusumo Priyanto, koordinator proses translokasi harimau sumatera.

Diagnosis itu didapat pria yang juga dokter hewan di TWNC tersebut setelah mengamati kondisi Enim. Walau tidak banyak mengaum serta tampak tenang sepanjang perjalanan, Enim ternyata kelelahan. Untung, TWNC sudah makan asam garam menangani harimau sumatera. Termasuk yang pernah berkonflik dengan manusia seperti Enim. Memang Enim belum dipastikan sebagai penerkam warga Muara Enim. Namun, sudah pasti ia pernah berkonflik dengan manusia karena punya catatan masuk permukiman warga.

Harimau serupa Enim, lanjut Sadmoko, butuh perlakuan khusus. Bisa jadi tabiat aslinya mulai luntur. Menurut dia, perilaku Enim menunjukkan perubahan itu meski sejak bertolak dari Muara Enim ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melihat keluar. Perangkap ditutup terpal rapat.

Pesawat mendarat pukul 12.30. Setelah diturunkan dari pesawat, perangkap Enim ditambahi dedaunan. Menggunakan traktor, dengan pengawalan ekstra, Enim dibawa ke rescue center TWNC. Melewati jalur di pesisir pantai, menyisir hutan TNBBS. Proses itu dilakukan amat hati-hati.

Sadmoko mengawal. Begitu pula Ipen dan Agung. Mereka dibantu lagi oleh seorang dokter hewan bernama Sugeng Dwi Hastono yang mengurus Enim saat tiba di Lampung. Sugeng ditugasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Selain empat orang tersebut, belasan pegawai TWNC turut mengawal. Kanan, kiri, depan, dan belakang traktor yang membawa Enim ke rescue center dijaga. Begitu tiba, ternyata bukan perkara mudah membuat Enim mau keluar perangkap menuju kandang yang sudah disiapkan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ayi


Close Ads