alexametrics

Warga Kebangsren dan Blauran Kidul tanpa Air Bersih Bertahun-tahun

5 Agustus 2022, 07:48:39 WIB

Jika ada pikiran hidup di jantung kota bakal semanis madu, anggapan itu belum 100 persen benar. Buktinya, bertahun-tahun rumah warga di Kebangsren, Kecamatan Genteng, tak dialiri air bersih. Mereka bertahan dengan air sumur.

DIMAS NUR APRIYANTO, SURABAYA

SERBAREPOT. Itulah yang dihadapi warga Kebangsren setiap hari terkait penyediaan air bersih. Mau membeli air gledekan, khawatir kantong jebol. Pengeluaran bulanan bisa bertambah. Jika mengonsumsi air sumur, kualitasnya kurang bagus. ’’Sehari kebutuhan air gledekan lebih kurang Rp 20 ribu.

Kadang bisa lebih juga,” kata Lilik Kristin, warga Kebangsren, yang ditemui Jawa Pos pada Senin (1/8) lalu. Sambil mengobrol dengan koran ini, Lilik membantu suaminya, Koesno, yang menuangkan air dari satu ember ke ember lain.

Air-air tersebut diambil dari sumur. Lokasi sumur dengan kediaman Lilik lebih kurang 25 meter. Dengan sempoyongan, tangan kanan dan kiri Koesno membawa air. Bahu ayah satu anak itu terlihat bergerak ke kanan-kiri.

Napasnya ngos-ngosan. Keringat yang mengucur dari kening ke pipi dilap dengan bahu. Koesno membelah setiap gang-gang kecil di Kebangsren dengan membawa ember berisi air. Lilik mengikutinya dari belakang.

Sesekali, Lilik juga membantu membawakan ember. Koesno mengerek ember ke dalam sumur. ’’Ini sumur musala. Tidak bayar,” ucap Koesno.

Kali terakhir air dari PDAM mengalir di rumahnya pada 2008. Setelah itu, air tak lagi mengalir.

Koesno mengatakan, beberapa waktu lalu dirinya sering mengalami gangguan pencernaan. Dia khawatir penyebabnya adalah air sumur yang digunakan. Warga Kebangsren lainnya, Zulkarnaen, juga kecewa terhadap pelayanan air PDAM.

Zul menuturkan, sekitar 20 rumah di Gang Kebangsren VI dan Blauran Kidul 1 yang disebut gang pertolongan itu tak mendapatkan air dari PDAM. Beberapa kali warga menyampaikan keluhan ke perusahaan milik pemkot tersebut. Sayangnya, tak ada solusi yang didapat. ’’Kenapa hanya gang ini yang aliran airnya mati, sedangkan rumah di sekitar kami tetap mengalir,” terangnya.

Meski tidak ada air, tagihan tetap muncul. Zul semakin bingung dengan pelayanan PDAM. ’’Kalau telat bayar, kami didenda. Kok bisa begitu ya,” imbuhnya.

Wakil Ketua Komisi B Anas Karno menyayangkan pelayanan PDAM yang kurang prima. Apalagi, kawasan Kebangsren masuk segitiga emas.

Politikus PDI Perjuangan itu meminta PDAM segera memberikan solusi yang pas. ’’Akses air bersih itu wajib, maka sediakan air secepatnya. Rata-rata masyarakat di sana pedagang asongan dan berpenghasilan rendah,” jelas Anas.

Terpisah, Direktur Operasional PDAM Nanang Widyatmoko mengatakan, pihaknya telah menerjunkan tim untuk menganalisis wilayah. Menurut dia, kawasan Kebangsren masih menggunakan pipa lama. Diameternya sekitar 75 milimeter. Ada sedimentasi juga di dalam pipa.

’’Paling lambat akhir tahun ini sudah diganti. Tapi, kalau pipanya tidak sampai kilometeran, penggantian bisa segera dilakukan,” ungkapnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini: