alexametrics

Adya Rezky Mulya Dewa, Siswa SD yang Mengubah Karung Bekas Menjadi Tas

Bisa Didaur Ulang, Mengapa Harus Dibuang?
5 Agustus 2020, 07:07:57 WIB

Di tengah pandemi seperti sekarang, kreativitas tetap harus tumbuh. Misalnya, yang dilakukan Adya Rezky Mulya Dewa. Siswa kelas V SDN Tanah Kali Kedinding I itu terus membuat tas dan kresek berbahan karung beras bekas di tengah kesibukannya belajar daring saat ini.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

Begitu sampai di depan pintu rumah Dewa yang beralamat di Jalan Kalilom Lor Timur 3A, beragam bahan bekas terlihat jelas. Mulai jenis kertas hingga plastik. Yang paling banyak tentu saja karung beras bekas beraneka rupa. Bahan itulah yang digunakan Dewa untuk membuat kresek dan tas ekonomis beragam warna setiap hari.

Dalam pengerjaan itu, Dewa memilih karung beras bekas karena bahannya gratis dan mudah didapat di toko atau grosir. ”Jadi, saya kumpulin. Minta ke tetangga yang punya itu. Lalu, diproses bersama ibu,” ujar Dewa sembari melirik sang bunda, Herni Indah Wati. Dia mengatakan, produk daur ulang itu dipilih karena lebih praktis dan tahan air.

”Ide awalnya terinspirasi dari pembeli di pasar yang bawa kresek. Kok rasanya enggak zero waste gitu ya. Mulanya saya coba-coba. Eh, malah kecanduan buat ini,” ungkap bocah yang punya hobi main anggar itu.

Dia ingin produk yang dihasilkannya bermanfaat dan mengurangi sampah di lingkungan. Terutama plastik yang sulit terurai. ”Kalau bisa didaur ulang, mengapa harus dibuang? Soalnya, banyak warga yang buang plastik sembarangan. Padahal, kan bisa diolah,” ucap pria 11 tahun itu.

Dengan produk yang ramah lingkungan itu, Dewa sudah mendapat penghasilan sendiri. Dia bisa membuat 20 produk berupa tas atau kresek. Baik yang memiliki sablon maupun berdesain polos. ”Yang desain polos dihargai Rp 5 ribu. Yang pakai sablon Rp 8 ribu,” tuturnya saat dijumpai pada Minggu (2/8). Para pembeli berasal dari tetangga. Namun, ada pula dari sekolah hingga pembeli luar kota.

”Di sekolah saya sendiri sudah pesan 850 buah kresek dan 120 tas,” ujarnya. Selain itu, penjualan lewat daring berkisar 5−10 buah, bergantung pesanan. ”Pemesan ada dari Jakarta. Mama yang kirim lewat pos,” kata Dewa.

Proyek itu sebenarnya dimulai sejak pertengahan 2019. Hingga kini ada 3.550 kresek dan tas berbahan karung bekas beras yang sudah dipasarkan ke berbagai tempat. ”Pembuatannya ini tidak sulit. Jadi, bisa produksi banyak,” ucapnya. Dia juga tidak bekerja sendirian. ”Saya yang mengumpulkan karung itu. Membuat desainnya. Mama bantu jahit,” ujar dia.

Meski begitu, Dewa mulai belajar untuk menjahit. Tujuannya untuk jangka panjang. ”Siapa tahu saya bisa buka usaha sendiri, Kak. Kan bagus juga,” ungkapnya disambut senyum sang bunda.

Dia juga terus belajar tentang pemasaran di media sosial dari sang ibu. Bagaimana membuat promosi dan memberikan penjelasan kepada pelanggan tentang produk tersebut. ”Nah selain fokus ke penjualan produk, saya juga mengedukasi dan memberikan produk ini secara gratis ke tempat umum. Tapi sebelum korona ini, Kak,” ucap dia, lantas tertawa.

Biasanya, Dewa membagikan kresek buatannya itu di pasar atau lampu lalu lintas. Banyak pengendara yang stop saat lampu merah mengapresiasi hal itu. Mereka juga yang bertanya tentang pembuatan produk tersebut. ”Sama seperti pembeli di pasar. Mereka penasaran, lalu bertanya bagaimana membuatnya. Saya jelaskan pelan-pelan. Pokoknya gampang,” ungkap dia.

Nah, karena saat ini keluar rumah dibatasi, dia berfokus untuk pengembangan produk berbahan dasar karung bekas itu. ”Saya sekarang buat ini, Kak. Masker dengan paduan kain di bagian dalam. Lalu, potongan karung bekas di bagian luar,” ucapnya. Produk itu mulai dikerjakan sejak awal 2020 ini. ”Banyak yang bilang, masker ini bisa simpan uang juga. Karena ada kantongnya,” katanya, kemudian tertawa.

Dewa berharap produknya bisa diterima oleh masyarakat. Selama belajar daring di rumah, dia membagi waktu sebaik-baiknya untuk mengembangkan produknya. Bukan saja untuk tujuan ekonomis. Tapi, juga ada nilai edukasi yang tersimpan dalam pembuatan produk tersebut.

Ramah lingkungan dan berdampak panjang. Khususnya mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai. ”Jadi, bisa didaur ulang untuk Indonesia yang lebih bersih dari sampah,” tambahnya.

Sementara itu, Herni mengatakan, selama ini usaha yang dilakukan anaknya betul-betuk didukung sepenuh hati. Dia melihat Dewa memiliki passion dalam bidang pengolahan limbah rumah tangga. ”Saya bantu kumpulin bahan-bahannya. Mendesain hingga menjahit pula,” tuturnya.

Melihat anaknya semangat, dia bersama sang suami, Mulyadi, memberikan waktu penuh dalam mengerjakan produk tersebut. ”Alhamdulillah, sudah banyak yang bisa dihasilkan. Kami akan kembangkan terus,” ujar perempuan 41 tahun itu.

Di masa pembelajaran jarak jauh saat ini, memang berat rasanya bagi orang tua membagi waktu dengan alasan kerja. Namun, dia bersama Mulyadi masih bisa membagi waktu hingga saat ini. Tujuannya tidak hanya untuk mengembangkan bakat Dewa. Tapi, juga untuk Indonesia yang lebih baik. ”Dimulai dari hal kecil, lalu ke hal yang lebih besar. Ini harus terus didukung serta dicontoh banyak orang,” ungkap Herni, kemudian tersenyum.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git




Close Ads