alexametrics
Dunia yang Dilipat dalam Sepeda Lipat

Inden Dua Tahun untuk Sepeda Handmade pun Rela

5 Juli 2020, 14:40:08 WIB

Gaya dan nggaya jadi alasan utama orang kembali melirik sepeda lipat. Pemerintah perlu menyiapkan jalur sepeda berkeselamatan.

AGAS P.H., JakartaCHARINA M., SHABRINA P., Surabaya, Jawa Pos

PANDEMI menjerat, manusia bersiasat. Di hari-hari penuh pembatasan, hidup pun pindah ke dalam tas tentengan.

Dwi Ari Prastantyo, misalnya. Dari rumahnya di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, menuju tempat kerjanya di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, pria yang berprofesi kamerawan itu menempuhnya dalam tiga etape. Dua di antaranya dia lewati dengan bantuan Dahon Vybe D7.

Enam kilometer pertama dari rumah menuju Stasiun Bojong Gede. Dahon dilipat, masuk KRL sampai Stasiun Kalibata. Lalu, 6 kilometer berikutnya ke tempat kerja

”Sudah jadi gaya hidup,” kata dia kepada Jawa Pos.

Keluar dari apartemen tempat dia tinggal yang melarang penghuninya memiliki sepeda balap, road bike, atau MTB (mountain bike), Asungsyah Yusuf mengeluarkan Dahon tipe K3 Plus miliknya. Gowes 11 kilometer menuju kantor tempatnya bekerja di Jakarta.

Tak perlu ribet memesan taksi online atau berdesakan di kendaraan umum di tengah ancaman virus korona yang tak kunjung habis. Dwi pun tak pernah mengenal macet atau telat sampai ke tempat bekerja.

Cepat, ringkas, dengan bantuan teknologi yang mewujud dalam sepeda lipat mereka. Hidup jadi lebih efisien, jarak dan ruang mengecil. Tidakkah itu tak ubahnya hidup yang, meminjam istilah Yasraf Amir Piliang, dilipat?

Bike to work seperti yang dijalani Dwi, Asung, dan ribuan atau bahkan jutaan lainnya memang bukan sesuatu yang datang dari rumah hampa. Sudah berakar sejak beberapa tahun silam.

Tapi, kian kuat menggema ketika pandemi Covid-19 menggedor. Orang-orang menjadi khawatir dengan higienitas kendaraan umum. Di sisi lain, mereka juga dituntut hidup sehat agar imun terjaga sehingga bisa jadi benteng alami terhadap serbuan virus korona.

Jadi, kenapa tidak melipat dua kepentingan itu di dalam sepeda lipat. Sekali mengayuh Dahon, Brompton, Kreuz, atau merek apa saja, dua tujuan tercapai. ”Futsal atau sepak bola dianjurkan untuk tidak dulu selama pandemi ini, sedangkan badminton tempatnya di dalam ruangan. Jadi, ya ini saja sepedaan,” kata Asung.

Hari-hari ini ada jutaan orang Indonesia yang juga berpikir demikian. Karena itu, tempat-tempat publik, ajang car free day, di berbagai kota, terutama pada Sabtu-Minggu, pun dipadati ”goweser”. Entah mereka yang memang sehari-hari bike to work, sudah jadi hobi selama ini, atau sekadar ikut-ikutan tren saja.

Selain itu, pemerintah mendukung dengan membangun fasilitas untuk pesepeda. Khususnya, DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, dan sekitarnya.

RINGKAS, PRAKTIS: Asungsyah Yusuf setelah mengendarai sepeda lipat di Jakarta, Sabtu (4/7). (MIFTHULHAYAT/JAWA POS)

Di MRT, misalnya, disediakan gerbong 3 dan 4 khusus untuk pesepeda lipat. Begitu pula KRL. ”Jadi, kalau ditanya akan musiman atau nggak, mungkin tiga atau empat tahun lagi masih booming,” kata Asung.

Produsen dan toko sepeda pun otomatis ketiban rezeki, khususnya sepeda lipat. Faktor kepraktisan dan tampilan yang nggaya jadi alasan utama.

Direktur PT Insera Sena (produsen Polygon) William Gozali menjelaskan, kenaikan demand sepeda lipat terjadi sejak tiga tahun lalu. Tapi, puncaknya baru dirasakan mulai akhir 2019 sampai sekarang.

”Perkiraan saya, peningkatan sales sepeda lipat secara total market di kisaran 20 persen (yoy/year-on-year) selama tiga tahun terakhir ini,” kata dia kepada Jawa Pos kemarin (4/7).

Menurut dia, lonjakan tersebut terjadi karena tidak perlu effort besar untuk membawa sepeda lipat. ”Karakter pembeli sepeda lipat mayoritas adalah orang-orang yang sangat memperhatikan fashion. Ingin gaya dan stylish,” ucap William.

Kreuz, produk sepeda lipat handmade buatan Indonesia, juga kebagian berkah. Terinspirasi dari Brompton, kini Kreuz telah kebanjiran order produksi.

Owner Kreuz Yudi Yudiantara menceritakan, awal mula bisnis itu bukan untuk produksi sepeda. Tapi, berjualan tas sepeda. ”Kami jualan tas sudah sejak empat tahun lalu,” tuturnya.

Kemudian, pada pertengahan 2019 dia melihat animo masyarakat Indonesia untuk gowes dengan Brompton tinggi. Padahal, harganya selangit.

Gara-gara itulah akhirnya Yudi bersama rekannya, Jujun Junaedi, langsung berinisiatif bikin produk sepeda lipat. Sekitar akhir tahun lalu mereka berdua mulai membuat pola dan gambar hingga menjadi sebuah sepeda utuh. Tak lupa mereka juga memodifikasi hasil karyanya itu agar sesuai dengan jalan Indonesia yang kebanyakan tidak rata. ”Setelah jadi, kami coba test ride ke Surabaya, Solo, dan Purwokerto. Ternyata di sana banyak komunitas yang penasaran dengan Kreuz,” jelasnya.

Dalam sebulan, Yudi hanya mampu merakit 10 hingga 12 sepeda. Sebab, semua prosesnya handmade dan butuh ketelitian ekstra.

Konsumen pun rela inden sampai dua tahun produk yang dibanderol Rp 7 juta–Rp 8 juta itu. ”Sampai sekarang kami sudah mendapatkan pesanan lebih dari 200 unit sepeda yang akan dikerjakan hingga 2022,” ungkapnya.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, pemerintah perlu mengatur pedoman teknis keselamatan bersepeda di jalan. Selain itu, pemerintah daerah perlu menyediakan jalur khusus sepeda yang tidak hanya dapat digunakan pesepeda manual, tapi juga sepeda listrik. ”Pasalnya, jalan dengan kewenangan pemda (kota/kabupaten/provinsi) lebih cocok untuk mewujudkan jalur sepeda berkeselamatan,” ujarnya.

Pada hidup yang dilipat, jarak pun jadi pendek.

Andik Setiawan, seorang pencinta Brompton, menuturkan bagaimana sepeda lipat selalu masuk item yang dibawa di dalam koper saat dia ke Arab Saudi, Australia, Amerika, Inggris, Belanda, atau negara-negara lain.

”Yang penting lagi, nggak capek kalau jalan-jalannya naik sepeda dan sekaligus bakar kalori,” kata pekerja swasta di Surabaya itu.

Tentu attitude juga harus selalu dijaga. Asung termasuk yang mengecam kelakuan sekelompok pemakai Brompton yang beberapa waktu lalu masuk ke sebuah kafe di Semarang, Jawa Tengah, sambil tetap mengendarai sepeda.

”Saya sendiri, seumpama beli sesuatu di minimarket, ya dilipat, bawa masuk. Karena juga harus saling menghormati,” katanya.

Dwi juga menganggap, pelan-pelan semua penggowes akan terbuka kesadarannya. ”Mereka juga akan semakin merasakan kenikmatan bersepeda,” katanya.

Kultur bersepeda yang beradab dari belahan dunia lain, lewat pencangkokan melalui proses globalisasi, semoga bisa membuat kejadian memalukan di atas tak terulang.

Karena sepedanya saja yang dilipat. Jangan otaknya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg



Close Ads