Taufiq Harris, Sosok di Balik Penataan Wisata Religi Kota Giri

05/07/2017, 22:00 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
TATA WISATA: Taufiq Harris berada di kompleks Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim. Dia mengonsep pengelolaan wisata religi tersebut. (Nurul Komariyah/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

Wisata religi menjadi tujuan wisata yang menjanjikan. Di Kota Wali ini, potensi wisata tersebut ditangani dengan serius. Objek maupun pengelolaan ditata.

ARIS IMAM MASYHUDI, Gresik

DI kawasan wisata religi Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, selalu ditemukan beragam imbauan. Misalnya, setiap peziarah wajib menyerahkan identitas. Terutama bagi musafir atau peziarah yang menginap. Satu aturan lain yang perlu diperhatikan adalah larangan memberikan sumbangan kepada petugas.

Selain soal aturan bagi peziarah, ada penataan kompleks-kompleks wisata religi. Misalnya, kebersihan masjid di sekitar makam lebih terjaga. Bahkan, lebih jauh dari itu, sirkulasi kendaraan peziarah ditata ulang. Semua kendaraan kini ditempatkan di terminal baru, kawasan lumpur. Sementara itu, terminal lama dijadikan area transit.

Siapakah sosok di balik itu? Dialah Taufiq Harris. Lelaki yang juga dosen pascasarjana Universitas Gresik tersebut dikenal sebagai ”ahli” wisata religi. Harris selama ini dikenal sebagai pakar genealogi yang tergabung dalam Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa. Juga, pengurus Klompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jatim.

Bahkan, Kementerian Pariwisata dan Pemprov Jatim menunjuknya sebagai motor pengembangan wisata religi. Salah satunya menjadi pengelola kompleks Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim sejak 2012. Banyak perubahan yang terjadi di sana. Salah satunya adalah pengelolaan kebersihan.

Dia menerapkan sistem cleaning service layaknya perusahaan-perusahaan profesional. Tidak ada kesan kotor meski hanya sebentar. ”Sebab, kebersihan sangat berpengaruh pada tingkat kepuasan peziarah,” katanya.

Untuk para petugas di kawasan makam, diberlakukan presensi elektronik. Mereka mendapatkan penghasilan dari pengelola. Namun, petugas dilarang keras menerima pemberian dari peziarah. ”Jika peziarah ingin beramal, kami arahkan langsung untuk keperluan pengembangan,” lanjutnya.

Sistem tersebut membuat kawasan wisata religi Makam Syekh Malik Ibrahim kini lebih nyaman. Pengelola mendanai berbagai kegiatan. Misalnya, haul tahunan. Pengelola juga rutin menggelar program-program sosial. ”Bisa disebut CSR dari kami untuk masyarakat sekitar,” ujar lelaki 52 tahun tersebut.

Saat ini Harris juga memperoleh amanah menyusun roadmap destinasi wisata religi di seluruh Gresik. ”Nanti Gresik menjadi pusat destinasi wisata religi,” jelasnya. Sebab, beragam literatur sejarah membuktikan bahwa Gresik merupakan pusat perkembangan Islam di Jawa. Buktinya adalah keberadaan makam Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Yang pasti, Gresik merupakan tempat awal penyebaran Islam di Indonesia. Salah satu buktinya adalah literatur tentang masuknya kapal dagang ke Leran, Manyar, pada 1082 Masehi. ”Sementara itu, mengacu sejarah umum, Islam masuk lewat Pasai pada 1427 Masehi,” terangnya.

Pada abad ke-11 Masehi, nama Gresik terkenal di dunia. Ada beragam sebutan. Nama-nama itu didasari penyebutan dari sejumlah negara. Warga Portugis dan Prancis menyebut Gresik sebagai Agaze. Orang Tiongkok menamai Tse-Tsun dan Klisik. Masyarakat Timur Tengah menyebut Qurrosyik. ”Sementara itu, warga lokal menyebut Kersik atau Giri Kisik,” tambahnya. (*/c16/roz)

Berita Terkait

Rekomendasi