alexametrics

Budiyanto, Pemandu Jelajah Situs Kuno yang Juga Kreator Patung Kayu

Sering Diajak Mencari Pesugihan
5 Juni 2019, 20:47:43 WIB

Berawal dari hobinya yang suka mblakrak, Budiyanto menemukan banyak inspirasi untuk berkarya. Pria 40 tahun itu membuat banyak patung kayu yang bertema budaya.

Eko Hendri Saiful, Surabaya

BELASAN patung kayu dengan berbagai ukuran menghiasi ruang tamu rumah Budiyanto di Gang Tembusan, Kapasari Pedukuhan, Simokerto. Hasil karya lelaki yang akrab disapa Reang itu cukup menghipnotis. Selain unik, patung tersebut melambangkan keanekaragaman budaya suku-suku di Nusantara.

Salah satu yang paling berkesan bagi Reang adalah patung model manusia yang menggambarkan suku Asmat sedang duduk-duduk santai. Pembuatan karya seni itu tidak saja memerlukan kejelian. Reang mengaku harus sungkem kepada tokoh suku Asmat demi mendapatkan restu untuk berkarya.

’’Yang paling susah bikin ekspresi wajah. Jangan sampai patung yang seharusnya gembira jadi sedih,” tutur Reang sambil memamerkan karyanya. Selain patung bermodel suku Asmat, warga asli Surabaya itu memperlihatkan hasil seni pahat lainnya. Di antaranya, Sabda Palon, Barong Bali, dan Naga Puspa. Itu hanya segelintir karya Reang. Sebab, sebagian patung kayu miliknya sudah terjual. Harganya beragam dan bergantung pada tingkat kesulitan pembuatannya.

Selain masyarakat Surabaya, Reang mengatakan sering mendapat pesanan dari warga luar kota dan pulau. Namun, penghobi traveling itu tidak hafal secara detail jumlah patung yang sudah dibeli orang.

’’Sebenarnya ini hanya usaha sampingan dan iseng-iseng. Jadi, saya tidak pernah mematok harganya secara pasti,” turut Reang. Sebab, bagi lelaki yang bekerja di sebuah perusahaan percetakan buku tersebut, karya seni memang tidak bisa ditukar dengan uang.

’’Ada beberapa patung yang ditawar ratusan ribu sama teman. Namun, saya kasihkan gratis,” tambahnya.

Aktivitas Reang dalam memproduksi patung tak lepas dari hobi dan pekerjaan sampingannya. Yakni, menjelajahi situs-situs kuno di Indonesia. Sasarannya, antara lain, candi, makam keramat, dan bekas kerajaan.

Reang merupakan pengurus Komunitas Jelajah Situs Pawitra. Berkat hobinya, dia sering diminta orang untuk menjadi pemandu wisata. Hampir setiap minggu, kolektor senjata-senjata lawas itu bepergian ke luar daerah untuk sekadar mengantar kliennya.

Bukan hanya para mahasiswa, dia juga sering dimintai bantuan traveler, akademisi, dan peneliti dari berbagai kampus. Uniknya lagi, Reang pernah diajak orang-orang yang mencari pesugihan di makam-makam keramat. ’’Saya hanya menjadi penunjuk jalan. Tidak sampai memandunya ke ritual-ritual tertentu,” cerita Reang, lantas tertawa.

Berawal dari seringnya menjelajah, dia sering menemukan inspirasi untuk membuat patung kayu. Reang menggambar seluruh benda lawas yang ditemuinya dalam kertas. Kreativitasnya lantas dilanjutkan dalam bentuk patung dan ukiran kayu. ’’Salah satunya patung kayu Sabda Palon. Dulu, saya ambil gambarnya dari sebuah candi di Jogjakarta,” kata Reang. Sekali lagi, anggota Komunitas Laskar Soeroboyo itu menyebutkan bahwa aktivitas mengukirnya memang tidak ditekuni secara serius.

Tak heran, bahan-bahan yang dipakai ala kadarnya. Seluruh produknya dibuat dari bongkaran perabotan yang tak terpakai. Kayu dibeli dengan harga murah. ’’Jadi, saya cukup senang melihat karya saya diminati banyak orang,” kata Reang. Dia merasa lebih bangga setelah mendapat pesanan banyak sekolah. Banyak patung kayu yang dibeli untuk alat pembelajaran ilmu sejarah.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/ano



Close Ads