JawaPos Radar

Kampanye Akses Layanan Publik Komunitas Disable Motorcycle Indonesia

05/06/2017, 18:35 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Kampanye Akses Layanan Publik Komunitas Disable Motorcycle Indonesia
SELALU JAGA KEKOMPAKAN: Sayful Bahri (tiga dari kanan) dan Budi Hariyanto (lima dari kiri) bersama para anggota DMI dan keluarganya. (Jos Rizal/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

Sama dengan komunitas motor lainnya, Disable Motorcycle Indonesia (DMI) merupakan komunitas motor yang gemar melakukan touring lintas kota. Tapi, mereka tak pernah kebut-kebutan. Sebab, misi utama mereka adalah mengampanyekan layanan publik yang ramah bagi para difabel.

JOS RIZAL

MUHAMMAD Dartis tampak begitu berkeringat di bawah rindangnya pohon mangga Minggu (4/6) siang. Dia tidak sendiri. Rekannya, Sayful Bahri, duduk di kursi roda tepat di sampingnya. Keduanya tengah berjibaku dengan tang, baut, dan sejumlah peralatan mekanik lainnya.

Keduanya sedang memasang shockbreaker baru pada sepeda motor roda tiga milik Dartis. Shockbreaker yang lama sudah tidak layak dipakai sehingga harus diganti.

Selain kerap digunakan untuk membawa barang, sepeda motor itu sering dipakai untuk memboncengkan anak dan istrinya. Sepeda roda tiga tersebut memiliki badan tambahan di sisi kiri. Biasa disebut box. Ada tempat duduk dengan sandaran. Dartis sendiri yang memodifikasinya. ”Selesai. Sekarang tinggal dilas,” kata Sayful kepada Dartis.

Dartis pun segera merapikan peralatan mekanik yang berserakan di halaman rumah Sayful. Setelah itu, Dartis beranjak menuju sepeda motor Yamaha Vega hitam miliknya. Dia menaiki sepeda motornya dengan cara memanjat. Ya, Dartis memang seorang difabel. Dia tidak punya kaki untuk berjalan. Begitu mesin motor menyala, Dartis langsung pergi menuju bengkel las.

Dartis tampak lihai mengemudikan sepeda motor ”istimewa” itu. Bila pada sepeda motor normal pedal gigi ada di sebelah kiri, tidak demikian halnya dengan sepeda Dartis. Pedal gigi motornya berada di sebelah kanan dan tersambung dengan tuas mirip pedal mobil. Dengan begitu, pedal tersebut mampu dijangkau tangan. Sementara itu, pedal remnya tepat berada di tengah.

Sejak 2009, rumah Sayful di Griya Permata Hijau Blok U, Desa Wedoro Klurak, Candi, menjadi jujukan komunitas Disable Motorcycle Indonesia (DMI). Bukan komunitas sepeda motor yang hobi kebut-kebutan di jalan. Namun, komunitas yang khusus menampung pengendara difabel dari seluruh daerah.

Sayful menjabat wakil ketua DMI Jatim. Persis di depan rumahnya terdapat kediaman Budi Hariyanto, ketua DMI Sidoarjo. Itu semata-mata kebetulan. Karena rumah dua orang tersebut berdekatan, anggota DMI pun kerap datang berkunjung. Siang itu beberapa anggota lain juga tengah berkumpul sembari menunggu waktu berbuka puasa.

”Begini nasib kami. Kami harus pasang shockbreaker sendiri dan ngerangkai ini-itu,” ucap Sayful. Dia menyatakan, difabel kerap mendapat perlakuan kurang mengenakkan ketika mengakses sejumlah fasilitas umum. Termasuk saat membutuhkan bantuan bengkel untuk memperbaiki sepeda motornya yang ”istimewa”. Mereka kerap ditolak. Berbagai alasan dikemukakan.

”Mulai mengaku gak paham mesin motor roda tiga sampai bagian-bagian sepeda. Bengkel-bengkel sering menolak kami,” lanjutnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memperbaiki kendaraan tersebut secara mandiri. Tak jarang mereka saling bantu. Mulai memodifikasi sepeda motor roda dua menjadi roda tiga hingga servis atau pemasangan suku cadang.

Hingga kini ada 14 kabupaten/kota yang tergabung dalam komunitas DMI Jatim. Jumlah anggotanya ratusan dengan beragam kegiatan. Mulai touring sampai saling berbagi ilmu mekanik sepeda motor. ”Tiap anggota kami punya teknik dasar perbengkelan,” lanjut pria 55 tahun itu.

Menurut Sayful, tidak setiap kota memiliki bengkel khusus untuk memodifikasi sepeda motor roda tiga. Di kawasan Sidoarjo-Surabaya, misalnya, hanya ada satu bengkel khusus yang dapat memodifikasi roda dua menjadi roda tiga. Bengkel yang berlokasi di Kedungdoro, Surabaya, tersebut juga melayani jasa servis dan perawatan.

Budi Hariyanto yang saat itu duduk di atas kursi roda ikut menimpali. Dia menyatakan, DMI bukan sekadar komunitas para difabel yang menyukai sepeda motor. Komunitas tersebut lahir untuk mendorong pemerintah agar memberikan pelayanan yang layak digunakan, baik bagi orang normal maupun individu penyandang disabilitas.

”Setahun sekali kami touring,” ujar ayah satu anak itu. Dalam setiap touring, ada misi utama yang diusung. Yakni, mendorong kabupaten atau kota yang disinggahi agar membuat kebijakan yang pro terhadap setiap warga.

Dia teringat ketika melakukan touring ke Pulau Bali pada pertengahan 2013. Saat hendak menyeberang dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, anggota kerap mendapat pelayanan yang tidak layak. Mereka juga kesulitan untuk memasuki kapal. Palang sepeda motor pada dermaga tidak sesuai dengan sepeda mereka yang lebar. Mereka akhirnya diperbolehkan menggunakan jalur mobil.

Ketika melakukan touring menuju Pulau Madura pertengahan 2014, anggota DMI kembali kesusahan saat hendak melintasi Jembatan Suramadu. Palang sepeda motor di sisi jembatan tidak bisa dilewati sepeda motor roda tiga. Mereka memohon agar bisa menggunakan lajur mobil, tapi tetap tidak diperbolehkan petugas.

”Karena sebal, akhirnya kami mogok. Waktu itu pintu masuk Suramadu dari sisi Surabaya sempet macet. Kami dibolehin masuk setelah palang pembatas sepeda motor dilepas dan disesuaikan dengan lebar kendaraan kami,” ucapnya.

DMI memang aktif menyuarakan keadilan akses jalan dan jembatan yang ramah bagi difabel. Termasuk fasilitas publik lain seperti trotoar dan tempat ibadah. Banyak fasilitas tersebut yang dinilai kurang ramah. Misalnya, tidak menyediakan jalan atau pintu masuk yang dikhususkan bagi para difabel. Mereka masih menggunakan tangga-tangga kecil yang menyulitkan laju kursi roda mereka.

”Kalau ke bank, misalnya, kami bayar ke teller harus dangak-dangak. Pemerintah harus sadar dan membuat keadilan. Makanya, kami akan terus touring dan mengadvokasi kaum difabel,” jelas Budi. (*/c10/pri)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up