alexametrics

Dentingan Guzheng, Spirit Ngartini Huang Lestarikan Budaya Tiongkok

5 Februari 2019, 14:44:07 WIB

Jari-jari mereka begitu lentik menari-nari di atas dawai. Alunan petikannya terdengar syahdu. Tampak jelas bahwa mereka bukan pemain amatir. Di balik merdunya melodi, ada semangat untuk melestarikan Guzheng.

Prayugo Utomo, Medan

JawaPos,com- Guzheng atau Kecapi  Tiongkok, nasibnya tak sepopuler alat musik modern. Di Indonesia, peminatnya terbilang sangat jarang. Sehingga perlu komitmen tinggi untuk tetap melestarikannya.

Dentingan Guzheng, Spirit Ngartini Huang Lestarikan Budaya Tiongkok
Ngartini Huang (dua dari kiri) bersama para anak didiknya menunjukkan kepiawaiannya memetik Guzheng. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)

Di Kota Medan, terdapat satu sekolah yang tetap melestarikan budaya alat musik dari zaman kedinastian Tiongkok ribuan tahun silam. Sekolah tersebut bernama Jade Music School. Sekolah musik di kawasan, Jalan Singosari , Kelurahan Sei Rengas Permata, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Sumatera Utara tetap setia mengajarkan alat musik asal Negeri Tirai Bambu kepada para peminatnya.

Tak hanya Guzheng, di sekolah tersebut juga mengajarkan Pipa. Alat musik petik yang bentuknya menyerupai gitar.

JawaPos.com berkesempatan menyaksikan saat Jade Music School berlatih, Selasa (5/2). Melodi dari lagu Gong xi Gong xi menjadi pembuka. Lagu itu biasanya dimainkan untuk mengiringi acara-acara perayaan Tahun Baru Imlek.

Petikan demi petikan seolah membawa pendengarnya hanyut ke dalam imajinasi. Saat nada-nada itu dimainkan, rasanya begitu tenang. Rasanya seperti sedang besantai di tengah-tengah hutan dengan desiran angin sepoi-sepoi.

Emosi jiwa memang betul-betul dimainkan ketika mendengarkan susunan pentatonik yang apik. Jika dihayati betul, pendengar bisa meneteskan air mata.

Bentuk Guzheng terdiri dari kotak kayu dengan lengkung cembung pada bagian atas. Di sana ada 21 senar yang terpasang di kayu-kayu kecil sebagai penyangga. Guzheng 21 senar adalah yang paling modern dan telah banyak berevolusi.

Dari berbagai sumber menyebut Guzheng awalnya hanya memiliki 5 senar. Pada zaman dinasti Qin dan Han jumlah senarnya bertambah menjadi 12. Pada zaman dinasti Ming dan Qing jumlah senarnya bertambah lagi menjadi 14-16 . Standar Guzheng yang digunakan sejak tahun 1970 hingga saat ini terdiri dari 21 senar.

Melodi merdu dentingan senar Guzheng biasanya hanya bisa dinikmati dari film-film kung fu macam The Legend of Condor Heroes maupun drama kolosal kisah kekaisaran Tiongkok. Suara Guzheng juga sering kita dengar di mal-mal jelang perayaan hari besar etnis Tionghoa.

Ngartini Huang adalah sosok di balik pelestarian Guzheng di Kota Medan. Melihat parasnya sekarang, tak sedikit yang mengira dia masih muda. Padahal usainya hampir separo abad. Ngartini sudah mengajarkan Guzheng sejak 10 tahun terakhir.

Bisa dibilang, Ngartini adalah satu-satunya pemain Guzheng dari Kota Medan. Selebihnya banyak berasal dari Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Jumlahnya juga tak banyak.

Melihat hal itu Ngartini makin bersemangat untuk melestarikanya. Paling tidak, ada yang melanjutkan kepiawannya bermain.

Ngartini sempat menunjukkan skil permainannya. Sungguh takjub jika melihat pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara  (USU) ini bermain. Jari-jari lentik yang dipasangi pick (pemetik senar) bak menari di atas dawai.

Tak hanya lagu Tionghoa yang dimainkannya. Dia bersama para muridnya juga menggarap, lagu-lagu dari tanah air. Bahkan saat memainkan lagu Indonesia Pusaka, gubahan Ismail Marzuki, permainannya begitu harmonis.

Kegemaran Ngartini kepada musik tradisional Tiongkok sudah muncul sejak kecil. Akhirnya dia memutuskan memperdalam ilmu ke Tiongkok. Belajar langsung dari sang maestro Guzheng, Sun Wen Yan. Maestro itu adalah guru besar Guzheng, di Universitas Musik Shanghai.

“Saya dapat sertifikat menjadi pemain Guzhen profesional. Jadi ibarat pepatah. Carilah ilmu sampai ke Tiongkok,” ujar Ngartini.

Dia lantas berinisiatif mendirikan Jade Music School. Muridnya mulai dari usia 3 hingga 80 tahun. Jumlahnya sekarang ada 100 murid.

Para murid  diajarkan dari teknik dasar hingga mahir. Musik yang dipelajari mulai jenis klasik sampai modern. Dia menyesuaikan selera pasar, namun tetap tidak menghilangkan unsur kebudayaan.

“Kalau yang klasik permainannya lebih sulit. Kalau musik populer lebih gampang,” tambahnya.

Dari sekolah yang berdiri sejak 2008 silam itu, Ngartini banyak menghasilkan pemain andal. Di antaranya juga mengajar di sekolah yang kini punya cabang di kawasan Cemara Asri. Semangat Ngartini pun makin memuncak untuk melestarikan Guzheng.

Kini, dentingan Guzheng Ngartini sudah lebih diterima masyarakat Kota Medan. Kehadiran Guzheng mendapat tempat di hati para penggemarnya.

Di Kota Medan, Ngartini kerap mengisi berbagai acara. Saat Imlek mereka kebanjiran order. Sudah sejak jauh hari, jadwalnya full.

“Jadi ada yang minta sudah lama. Kalau pas musim Imlek itu ramai manggung. Biasanya menunjukkan permainan dua kecapi, empat kecapi, atau bisa lebih besar lagi,” katanya.

Setiap penampilannya, Ngartini mengenakan busana khas Tiongkok. Hal itu sekaligus ingin mengenalkan kebudayaan Tiongkok kepada masyarakat. Apalagi Medan juga dihuni etnis Tionghoa dalam jumlah cukup besar.

“Lagu yang kami bawa kalau pas Imlek, misalnya Gong xi Gong xi atau bisa juga mandarin pop. Yang bernuansa riang untuk Imlek,” tutur Ngartini.

Sebelum menggelar pertunjukan, mereka berlatih secara rutin. Tujuannya untuk memastikan bahwa anak didiknya hafal notasi lagu yang akan dibawakan. Masing-masing pemain nantinya dikombinasikan, sehingga membentuk orkestra mini.

Ngartini punya pengalaman segudang yang tak perlu diragukan lagi. Selain mengisi acara, mereka juga sering ikut dalam konser-konser Guzheng. Akhir 2009, Ngartini menggelar konser Nasional Perdana yang berjudul Konser 999 roses di Kota Medan. Konser nasional keduanya digelar pada Agustus 2014. Bertepatan pada hari kemerdekaan.

Pada Mei hingga Juni 2015 adalah konser yang paling berkesan bagi Ngartini. Mereka menggelar road show ke empat kota besar, Palembang, Jakarta, Bandung dan Magelang .

“Saat di Magelang sekaligus perhelatan Waisak Nasional di Candi Borobudur. Pak Joko Widodo hadir menyaksikan penampilan kami,” ungkapnya.

Perempuan dengan rambut bergelombang itu berharap supaya kecapi Tiongkok itu tidak punah, termakan modernisasi. Harus ada penerus Ngartini untuk melestarikan kebudayaan tersebut. Paling tidak ilmu itu diturunkan kepada anaknya.

“Kami berharap alat ini lebih diminati lagi oleh kawula muda karena punya nilai sejarah yang sangat tinggi. Pada zaman dahulu, kaum bangsawan saja yang boleh memainkan alat musik ini. Tentunya alat musik ini, sangat berharga. Hanya ada di lingkungan kerajaan pada masa itu,” tutupnya.

Editor : Dida Tenola

Reporter : prayugo utomo

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Dentingan Guzheng, Spirit Ngartini Huang Lestarikan Budaya Tiongkok