JawaPos Radar

Upaya Prof Rujito Optimalkan Produksi Padi di Lahan Rawa

05/02/2017, 17:58 WIB | Editor: Mochamad Nur
Upaya Prof Rujito Optimalkan Produksi Padi di Lahan Rawa
Ilustrasi (Dok.JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Potensi lahan rawa yang besar di Indonesia belum dimanfaatkan secara penuh untuk meningkatkan produksi pertanian.   Kondisi ini memantik keinginan Prof Dr Ir H Rujito Agus Suwignyo MAgr untuk mengembangkan varietas unggul bibit padi di rawa. Apa saja yang telah dilakukan?

“Tanaman di budidaya rawa atau lebak itu sulit. Sering banjir, atau tanah kering saat kemarau. PH rendah, rentan terserang penyakit dan keracunan logam,” jelas Rujito mengenai sejumlah tantangan dalam pengembangan rawa sebagai lahan pertanian.

Itulah kenapa, kata dia, lahan rawa di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan  belum banyak dioptimalkan petani. "Saya tertarik untuk mengangkatnya karena sayang cukup banyak lahan rawa di Sumsel yang bisa digarap," tuturnya. 

Permasalahan kompleks di lahan ini, terangnya, sering ia presentasikan. Bagai gayung bersambut, pada seminar Crop Science se Asia di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2011 silam, mendapat respons ang cukup baik.

"Apa yang kita sampaikan ternyata menarik perhatian peneliti Jepang. Dan  terjalinlah kerja sama di 2012, melibatkan kedua negara, Indonesia dan Jepang untuk proyek ini," ungkap dosen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian (FP) Unsri tersebut.

Selain membiayai penelitian, lima Universitas asal Jepang ikut ambil bagian. Seperti Kagoshima University, Nagoya University, Mie University, Tohoku University, Tokyo University. Ditambah dua lembaga penelitian, JIRCAS dan NICS. Para profesor serta doktor terlibat, sebagian merupakan kakak tingkatnya. 

Diakuinya, terlibatnya Jepang dalam peningkatan produksi padi di lahan rawa, lebih karena kondisi alam. Dia mengaku banyak peneliti lahan rawa di Jepang. “Cuma di Jepang tidak ada yang namanya lahan rawa kayak kita. Mereka itu kan punya empat musim, bukannya negara tropis seperti Indonesia. Makanya peneliti Jepang banyak datang ke kita atau Thailand,” jelasnya seperti ditulis Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group), Minggu (5/2).

Setelah penelitian berjalan, calon varietas unggulan pun disiapkan dari Laboratorium Nagoya University dan Kampus Unsri di Inderalaya. Diambillah beberapa bibit benih padi berbeda. Jepang, lanjutnya, menyumbang benih unggulan tahan penyakit serta toleran terhadap logam. 

Sementara Unsri dan IPB dari Indonesia, menyumbang benih padi lokal, tahan rendaman. Benih asal Balai Besar (BB) Padi Sukamandi itu, kemudian dikirim ke Jepang. 

Hingga 2016 silam, kerja sama lintas negara ini pun berakhir, calon varietas baru sudah didapat. Rencananya, calon varietas asal Jepang ini, bakal diuji coba di Sumsel. Namun, sejumlah prosedur harus dilakukan. “Kedua negara, harus buat proposal kerja sama baru. Ini juga sedang saya siapkan,” ucap Rujito sembari menunjukkan proposal berbahasa Jepang dari layar laptopnya.

Jika seluruh urusan selesai, calon varietas baru itu masih harus dipilih lagi setelah panen. Selain sifat tahan penyakit, toleran logam serta tahan banjir, benih dengan produksi tinggi serta rasa yang enak akan diambil. “Rencana kita, nomor seri padi hasil seleksi nanti, kita buatkan nama Unsri Para. Kepanjangan dari Padi Rawa,” urainya.(Wiwin Kurniawan/ce2/nas/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up