alexametrics

TK ABA Kauman, Jogjakarta, setelah Satu Abad Berdiri

Gedungnya Jadi Jujukan Kunjungan
4 September 2019, 13:58:04 WIB

Prinsip pengajaran yang terus dijaga di TK Aisyiyah Bustanul Athfal adalah keseimbangan antara pengetahuan agama dan umum. Banyak tokoh besar yang pada masa kanak-kanaknya dididik di sini.

WINDA ATIKA IRA PUSPITA, Jogja, Jawa Pos

MEJA, papan tulis, dan lemari di dalam gedung tua nan kukuh itu seperti bersepakat melempar siapa saja ke mesin waktu.

Ke dekade demi dekade yang telah mereka lewati bersama-sama. Jadi saksi keteguhan TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Kauman, Gondomanan, Jogjakarta, berkhidmat dalam pendidikan usia dini. Yang telah dimulai jauh sebelum negeri ini merdeka. Satu abad silam.

”Banyak turis asing yang ke sini, sering tanya dan juga foto-foto. Belum lama ini dari Prancis yang datang,” kata Dewi Widiastuti, ketua bidang kesiswaan TK ABA Kauman, Jogjakarta, kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Gedung itu memang telah jadi cagar budaya. Jadi sasaran kunjungan berbagai kalangan. Mulai para murid dan guru serta para wisatawan, termasuk turis asing. Karena di tempat itulah pada 21 Agustus 1919 berdiri sekolah setingkat taman kanak-kanak (TK). Pionir pendidikan usia dini di tanah air.

Awal berdiri, sekolah tersebut numpang di gedung di sebelah masjid keraton. Sebelum akhirnya KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, membangun gedung pesantren Aisyiyah. Ke sanalah sekolah yang dirintis Nyai Ahmad Dahlan tadi kemudian berpindah.

”Kala itu banyak orang tua yang disibukkan bekerja sebagai buruh batik di sekitar Kauman. Anak-anak pun bermain tanpa pendampingan,” ungkap Pengurus TK ABA Kauman Siti Zawidah Indiyati tentang motivasi awal pendirian sekolah.

Mengutip situs Universitas Muhammadiyah Malang, melalui Aisyiyah, organisasi otonom bagi perempuan Muhammadiyah yang didirikan pada 19 Mei 1917, Nyai Ahmad Dahlan mengumpulkan anak-anak tersebut untuk diajak bermain dan belajar. Bukan hanya anak laki-laki yang diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan itu, anak perempuan pun diberi akses yang sama oleh Nyai Ahmad Dahlan. Padahal, saat itu pendidikan masih menjadi ”milik” laki-laki.

Zawidah melanjutkan, Aisyiyah pun tergerak. Memberikan pencerahan, pencerdasan, pendidikan, dan pembinaan sejak dini dengan penanaman nilai-nilai akidah dan akhlak kepada anak-anak.

Pendidikan usia dini yang dirintis Nyai Ahmad Dahlan itu diberi nama Froebel Kindergarten ‘Aisyiyah. Nama tersebut di kemudian hari berubah menjadi ‘Aisyiyah Bustanul Athfal yang berarti taman bermain anak Aisyiyah.

Saat ini Aisyiyah telah memiliki Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), Taman Pendidikan Qur’an (TPQ), PAUD, dan pendidikan sejenis berjumlah puluhan ribu yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Keberadaan TK ABA juga menginspirasi organisasi lain untuk mendirikan pendidikan sekolah sejenis.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Rita Pranawati menganggap Nyai Amad Dahlan layak disebut pahlawan perlindungan anak. ”Jasa Nyai Ahmad Dahlan sangat besar dalam menjadikan anak Indonesia sebagai pribadi yang mandiri dan berkepribadian baik,” katanya sebagaimana yang juga dikutip dari situs Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam perjalanan panjangnya selama seabad itu pula, TK ABA telah mendidik banyak sekali sosok yang tumbuh menjadi tokoh besar di kemudian hari. Di antaranya, Siti Baroroh Baried, profesor perempuan pertama di Indonesia; Prof Dr dr Siti Dawiesah Ismadi MSc yang semasa hidupnya pernah menjadi guru besar Fakultas Kedokteran Pertama Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta; dan Herry Zudianto, mantan wali kota Jogjakarta.

Kini di sekeliling gedung bersejarah yang difungsikan sebagai aula itu ada bangunan lain yang digunakan sebagai kelas baru dan ruang guru serta ruang tamu. Pada Kamis pagi pekan lalu (29/8), saat Jawa Pos Radar Jogja ke sana, suara riang para murid terdengar dari berbagai sudut.

Aula yang jadi cagar budaya itu memang dikelilingi taman bermain anak-anak. Ada ayunan, perosotan, tangga-tanggaan, dan alat permainan lainnya.

Para murid yang dididik di situ meliputi 113 anak. Masing-masing terdiri atas 13 murid kelompok bermain (KB) dan 100 lainnya anak TK. Dengan jumlah guru 14 orang (gabungan dengan karyawan). Mereka datang tidak hanya dari kawasan sekitar Kauman dan wilayah Kota Jogjakarta lain, tapi juga ada yang dari Sleman dan Bantul.

Menurut Kepala Sekolah TK ABA Emi Widayati, poin penting pola pendidikan di TK ABA yang terus dipertahankan adalah menyeimbangkan antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Artinya, harus ada pendidikan agama untuk anak usia dini yang dikemas dengan menyenangkan. Untuk menggarisbawahi bahwa Islam itu rahmatan lil’alamin atau rahmat bagi sekitarnya.

”Iman dan takwanya bagus, tapi pengetahuan umumnya juga bagus,” terang Emi.

Dan, tentunya dibarengi pula dengan peningkatan minat serta bakat. Untuk itu, sekolah menyediakan tambahan kegiatan seperti drumband, melukis, menyanyi, berenang, dan pencak silat.

”Saya memilih menyekolahkan anak di sini karena di sini pendidikannya lengkap dan sudah teruji. Bekal agamanya mantap, tapi pendidikan umumnya juga dijaga,” ungkap Maryam, ibunda salah seorang anak TK.

Hari kian beranjak meninggalkan pagi. Para murid pun sibuk di kelas bersama guru masing-masing. Sebuah proses pendidikan yang telah satu abad berlangsung di sana.

”Kami akan terus melestarikan dan menjaga peninggalan sejarah di sekolah ini, termasuk tentu prinsip-prinsip dalam pengajaran para murid. Untuk itu, dalam waktu dekat ini kami juga berencana mendirikan museum di sini,” kata Dewi.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c5/ttg

Close Ads