alexametrics

Dua Kali Batal, Sempat Tidak Tahu Bakal Dihelat di Mana

4 Agustus 2022, 14:55:07 WIB

Kolonel Senior Wandee Tosuwan dan Liku-Liku di Balik ASEAN Para Games 2022

Wandee Tosuwan mengapresiasi respons Indonesia dan cepatnya proses mempersiapkan ASEAN Para Games 2022. Dia banyak belajar tentang pengorganisasian para atlet difabel dari sang mentor, jenderal militer Thailand.

RIZKY A. FAUZI, Jakarta

DIDIKAN militer membuat sang kolonel terbiasa berpikir cepat. Pendekatan dengan Indonesia dilakukan dan akhirnya ajang akbar yang selama dua tahun terakhir gagal dihelat bisa terlaksana.

’’Sejak presiden (Joko Widodo) mengumumkan, semuanya berjalan secara dramatis. (Hasilnya) menakjubkan,’’ ujar Kolonel Senior Wandee Tosuwan, Sekjen ASEAN Para Sport Federation (APSF).

Ajang yang dimaksud adalah ASEAN Para Games 2022 yang berlangsung pada 30 Juli–6 Agustus di Solo, Jawa Tengah, dan mempertandingkan 14 cabang olahraga. Edisi tahun ini seharusnya dihelat di Manila, Filipina, dua tahun lalu, tapi gagal terlaksana. Setahun berselang, ajang tersebut direncanakan dihelat di Hanoi, Vietnam, tapi kembali batal. Penyebabnya sama: pandemi Covid-19.

Keterlibatan Wandee dalam gerakan paralimpiade dan olahraga dimulai pada 2015 saat dirinya menjadi tangan kanan Mayor Jenderal Osoth Bhavilai yang terpilih memimpin APSF sebelumnya.

Dari mentornya yang merupakan jenderal di militer Thailand tersebut, perempuan Thailand itu terus belajar. Dia mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana mengelola organisasi olahraga yang berisi para atlet dari kalangan difabel.

Perempuan kelahiran Songkhla, Thailand, itu mengaku sempat tidak tahu ASEAN Para Games 2022 bakal dihelat di mana. Maklum, pandemi belum berakhir. Pagebluk itu juga sangat berdampak pada perekonomian di kawasan Asia Tenggara.

Kepastian Indonesia sebagai tuan rumah pun baru diputuskan pada 14 Februari. Waktu yang sebetulnya cukup mepet. Tapi, Indonesia sebelumnya terbukti sukses menggelar Asian Games 2018 yang kala itu juga menggantikan Vietnam.

Karena itu, Wandee sangat berterima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu. Terutama Presiden Joko Widodo, Ketua NPC Indonesia Senny Marbun, dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka yang sudah memelihara mimpi atlet ASEAN Para Games. ’’Di Solo akhirnya kami bisa berbagi semangat dan kegembiraan,’’ katanya.

Wandee mengakui, tak mudah memimpin organisasi di masa pandemi. Apalagi organisasi seperti APSF yang memiliki sebelas negara anggota dengan ribuan atlet di dalamnya.

Atlet sangat butuh ajang untuk menunjukkan bakat dan hasil latihan. Ketika event yang sangat mereka tunggu beruntun gagal dihelat, bisa dibayangkan dampaknya. Apalagi, ajang akbar untuk para atlet dari kalangan difabel tidak banyak.

Menjaga semangat para atlet itu menjadi salah satu tantangan Wandee. Dengan pertemuan fisik yang sangat dibatasi, dia terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan di APSF secara daring.

Biasa berada di lingkungan militer yang menuntutnya aktif di lapangan, Wandee bukan tipe pemimpin yang hanya mengawasi dari jauh. Dia turut terlibat dalam persiapan ASEAN Para Games di Solo yang merupakan edisi kesebelas.

Mulai proses tender hingga berbagai hal mendesak lainnya. Juga, pendelegasian tanggung jawab untuk memastikan kelancaran persiapan venue dan pemenuhan berbagai kebutuhan atlet.

Sejak Indonesia diumumkan jadi ruan rumah, sudah tiga kali dia tercatat berkunjung ke Solo. Dia juga terlibat langsung dalam penyelesaian masalah.

Misalnya, Kolam Renang Intan Pari di kota tersebut yang sempat disiapkan jadi venue ternyata tak memenuhi standar. Sedianya akan dibangun kolam baru. Namun, karena waktu mepet, akhirnya venue dipindah ke Kolam Renang Jatidiri, Semarang. ’’Semua pihak bekerja dengan sangat cepat,’’ pujinya kepada panitia penyelenggara.

Karena itu pula, dia sangat terkesan karena akhirnya ASEAN Para Games bisa terselenggara. Dia juga bungah melihat banyaknya atlet muda potensial. ’’Indonesia punya populasi terbanyak di Asia Tenggara dan juga banyak atlet muda yang mau belajar. Ini bisa menjembatani kesenjangan antargenerasi,’’ ucapnya.

Di setiap ajang Para Games, sisi edukasi kepada para atlet juga tak pernah absen. Di edisi kali ini, misalnya, terkait medis yang tak cuma berurusan dengan doping. ’’Kami harus memastikan bahwa kesehatan, pandemi, dan infeksi sangat menjadi perhatian,’’ tuturnya.

Wandee menambahkan, bisa terlaksananya ASEAN Para Games kali ini setelah dua kali tertunda jadi penyemangat bagi APSF. ’’Kami bertekad membawa APSF untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi di masa depan,’’ jelasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c18/ttg

Saksikan video menarik berikut ini: