alexametrics

Ikasatya Surabaya Donasikan Ponsel untuk Siswa Sekolah Pelita Permai

4 Agustus 2020, 06:06:47 WIB

Belajar jarak jauh secara daring memang punya banyak tantangan. Uluran tangan dari sesama pun sangat dibutuhkan demi membantu anak-anak yang kesulitan belajar. Sebab, tak semua keluarga mampu dan belum tentu setiap anak punya ponsel pribadi.

SHABRINA PARAMACITRA, Surabaya

Rifantino Martinus Mbete tak kuasa menutupi kebahagiaannya. Dia memeluk sebuah kotak kecil Sabtu lalu (1/8). Kotak bercorak hitam-putih itu memuat ponsel dengan sistem operasi Android yang berkapasitas RAM 16 gigabyte (GB). Masih disegel dan berhologram. Digenggamnya kotak yang berisi ponsel baru itu erat-erat.

”Senang sekali,” kata Rifan. Face shield yang dipakai bocah cilik itu tak mengurangi pancaran senyum polosnya ketika menerima ponsel bermerek Advan tersebut.

Hari-hari Rifan kini akan dijalani dengan lebih ringan. Ponsel baru pemberian Ikatan Alumni Satya Wacana (Ikasatya) Surabaya yang digenggamnya itu akan menemaninya belajar dari rumah setiap hari. Selama ini siswa kelas V SD Pelita Permai itu selalu pergi ke rumah Derlan, teman sekelasnya di sekolah. Dia meminjam ponsel milik orang tua Derlan demi mengakses materi dan mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Sang ibunda, Anastasia Rediva, turut senang karena anaknya kini mempunyai ponsel baru.

”Handphone saya rusak, sudah lama. Tidak bisa dipakai lagi,” katanya. Biasanya, Rifan pergi ke rumah Derlan pada pagi hari untuk mengisi presensi siswa. Lalu, Rifan dan Derlan menghabiskan pagi dengan belajar bersama. Siang hari, sekitar pukul 12.00, Anastasia pergi ke rumah Derlan. ”Saya harus cek apakah Rifantino benar-benar belajar,” imbuh ibu tiga anak itu.

Untung, guru-guru Rifan di sekolah selama ini penuh pengertian, kendati Rifan sering terlambat mengumpulkan tugas. Sebab, ponsel yang dipinjam dari sahabat Rifan tetap saja tak cukup membantu jika digunakan dua anak sekaligus.

Anastasia berjanji mengawal proses belajar Rifan di rumah. Dia juga akan membantu Rifan agar tak lagi terlambat mengumpulkan tugas. ”Pasti akan saya dampingi anak saya,” terangnya dengan mata berbinar.

Senyum Rifan dan Anastasia membuat Yonatan Rudyanto Kusumo ikut senang. Sebab, ketua Ikasatya Surabaya itu prihatin dengan kesulitan belajar anak-anak selama masa pandemi. Memang tak semua anak berasal dari keluarga mampu dan bisa mengakses pembelajaran secara daring dengan mudah.

Yonatan menceritakan, awalnya Ikasatya Surabaya ingin mendonasikan ponsel bekas. Namun, mengingat ponsel bekas mempunyai kualitas yang tentu tak sebagus ponsel baru, jadilah komunitas itu memutuskan untuk mendonasikan ponsel baru.

Sekolah Pelita Permai dipilih karena merupakan sekolah gratis yang didirikan khusus untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Orang tua beberapa siswa bekerja sebagai pemulung, buruh cuci, pekerja serabutan, dan lain-lain. Menurut Yonatan, mereka layak dibantu agar anak-anak tetap bisa belajar tanpa repot mencari pinjaman ponsel.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Ikasatya Surabaya juga memberikan donasi yang berupa perangkat komputer untuk sekolah yang sama. Juga buku, sepatu, tas, dan perlengkapan sekolah lainnya bagi para siswa. Mereka diajak ke toko dan memilih sendiri sepatu, tas, dan buku yang diperlukan. ”Tapi, tahun ini kami melihat, ada kebutuhan yang berbeda. Itu sebabnya kami tidak mendonasikan barang-barang lain seperti yang sudah-sudah,” papar Yonatan.

Ponsel baru dari Ikasatya Surabaya akan dibagikan kepada siswa kelas IV dan V SD Pelita Permai. Sebelumnya, beberapa siswa kelas VI yang tidak mempunyai ponsel sudah mendapatkan donasi ponsel dari para donatur. Namun, jumlahnya tidak banyak, tak sampai sepuluh unit.

”Kalau ada yang mau membantu anak-anak kami, tentu kami terima dengan senang hati,” tutur Ketua Yayasan Kasih Pengharapan Liana Christanti. Sebagai ketua yayasan yang menaungi Sekolah Pelita Permai, Liana mengaku selama ini sering mendapat keluhan dari para wali murid. Entah karena orang tua yang tak mampu membeli ponsel untuk anaknya atau satu keluarga hanya punya satu ponsel dan tak bisa digunakan bersama dengan anak-anak. Belum lagi keluhan soal mahalnya paket data internet.

Sedangkan anak-anak di sekolah itu memang tidak dituntut untuk membayar biaya sekolah. Mereka hanya menyumbang uang Seninan Rp 1.000, Rp 2.000, bahkan tidak perlu menyumbang sama sekali.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c11/ady




Close Ads