alexametrics

‘Bonus Ganda’ Pemudik yang Melintasi Jalur Pantura Bagian Timur Jatim

Kalau Lewat Selatan Anak-Anak Sering Mual
4 Juni 2019, 12:32:37 WIB

Tol trans-Jawa menghindarkan pemudik dengan tujuan Banyuwangi dan Bali atau sebaliknya dari potensi kemacetan di Probolinggo serta Pasuruan. Selepas tol, jalan bersandingan dengan laut yang menyejukkan mata.

AHMAD DIDIN KHOIRUDDIN, Banyuwangi

HAMPIR tiap Lebaran Budi Irawan memboyong keluarga besarnya ke Bali. Namun, baru di tahun ini perjalanannya dari Malang sampai ke kabupaten di ujung timur Jawa Timur (Jatim) itu terasa cepat.

“Tahun lalu belum ada tol, masih lewat Pasuruan terus Probolinggo yang merupakan biangnya macet. Sekarang lumayan, Malang-Probolinggo cuma satu jam,” katanya sambil menunggu antrean di Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, kemarin (3/6).

Tol trans-Jawa memang saat ini baru sampai di Probolinggo. Persisnya di gerbang tol Probolinggo Timur. Tapi, bagi para pemakai jalan yang berniat mudik atau liburan ke Banyuwangi atau Bali seperti Budi, itu sudah sangat membantu.

Para pemudik ke arah timur Pulau Jawa itu pun jadi seperti mendapat “bonus ganda” selama perjalanan. Yang pertama terhindar dari kawasan-kawasan rawan macet berkat adanya tol. Otomatis pula perjalanan juga jadi lebih cepat. Dan, yang kedua, selepas tol, ditemani panorama pantai yang lumayan menyejukkan mata. Mulai Probolinggo, Situbondo, sampai memasuki wilayah Banyuwangi.

Budi, misalnya. Dia start dari pintu tol Singosari, Malang, sekitar pukul 06.00 kemarin. Tak ada antrean berarti di titik itu. Melaju mulus dengan kecepatan rata-rata 100 kilometer per jam. Jam 7 lebih sedikit, mereka sudah keluar di gerbang tol Probolinggo Timur. Tarif yang dibayarkan Rp 44 ribu untuk rute tersebut.

Melintasi jalan beton panjang membuat mata Budi cepat lelah. Alhasil, tiap menjumpai tempat peristirahatan atau rest area, mereka sempatkan mampir. Sejenak untuk cuci muka, meregangkan otot biar badan tidak kaku.

“Saya suruh gantian anak atau istri yang pijitin kalau pas capek,” turut pria dengan rambut yang sudah memutih itu.

Tim Jawa Pos kebetulan juga ikut menelusuri jalur yang dilalui Budi hingga sampai ke Pelabuhan Ketapang. Meski tidak secepat lewat tol, menyusur jalur Pantura mengasyikkan.

Pelabuhan Ketapang Banyuwangi(Allex Qomarulla/Jawa Pos)

Tak terlalu lama keluar dari gerbang tol Probolinggo Timur, sudah bertemu dengan lokasi wisata Pantai Bentar. Yang sudah jenuh di perjalanan bisa mampir untuk menikmati deburan ombak laut. Apalagi, ada jembatan kayu yang menjorok ke laut sepanjang 50 meter sebagai lokasi selfie favorit pengunjung.

Kalau Budi mengarah ke Bali, keluarga Ditta Ayu justru sebaliknya. Dia bersama suami dan tiga anaknya bertolak dari Bali untuk mudik ke Lamongan, Jatim. Jalur pantura adalah jalur favorit mereka tiap tahun.

Mereka lebih memilih jalur utara karena dirasa lebih cepat. Selain itu, aneka pemandangan tersaji lengkap di jalur itu. “Gunung ada, laut ada, hutan ada, serta banyak tempat makan yang enak-enak,” tuturnya.

Sedangkan kalau lewat jalur selatan, terlalu berbukit dan berkelok. Anak-anaknya, kata Ditta, kerap merasa mual. “Selain itu, jika mau mencari laut, harus belok cukup jauh dari rute pulang. Berbeda dengan jalur utara yang seolah-olah jalan dan laut ingin terus berdampingan,” katanya.

Tapi, selepas Bentar, konsentrasi pemudik harus ditambah. Seperti ditemui tim Jawa Pos, mulai daerah Gending hingga Kraksaan, keduanya masih di Probolinggo, terdapat proyek pelebaran jalan yang belum sepenuhnya rampung.

Sebagian jalan sudah lebar, lalu tiba-tiba menyempit. Jalur itu perlu diwaspadai karena berisiko tinggi terjadi kecelakaan. Saat jalan lebar, kendaraan saling menyalip, kemudian dikagetkan dengan lebar jalan yang tinggal separo.

Jika sudah lepas dari titik itu, Anda akan menjumpai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton. Salah satu objek vital nasional itu memiliki pemandangan yang indah kala malam.

Ribuan lampu kecil terpasang di sela bangunan, membuat dari kejauhan tampak seperti gugusan bintang di daratan. Tapi, jika melintas saat siang, Anda sedikit bisa mengintip adanya laut di belakangnya. Beserta kapal tongkang pengangkut batu bara yang sedang bersandar.

Mulai di titik itulah, jalur pantura akan semakin mepet dengan pinggir pantai. Rasa jenuh pun seketika terobati kala melihat birunya laut dengan beberapa mangrove di sepanjang perjalanan. Kalau mau mampir, tahan dulu. Sebab, ada lokasi yang lagi-lagi dapat dipakai sebagai alternatif rest area di jalur pantura tersebut.

Tempat itu tentu tak asing bagi pelancong yang biasa mondar-mandir Surabaya-Banyuwangi. Yakni, Pantai Pasir Putih. Jangan takut kehabisan tempat. Sebab, lokasi wisata itu punya kawasan yang cukup luas.

“Kalau sebelum Lebaran memang cenderung sepi. Tapi, saat H+2 ke atas pasti langsung penuh tempatnya,” ujar Nasirin, salah seorang petugas loket wisata Pantai Pasir Putih.

Jika memang ingin santai saat mudik, Anda dapat mengunjungi satu lagi wisata yang ada di perbatasan Situbondo-Banyuwangi: Taman Nasional Baluran.

Sedikit melanjutkan perjalanan dari lokasi itu, Anda akan tiba di Kabupaten Banyuwangi. Patung Gandrung dan sebuah bongkahan batu besar bernama Watu Dodol akan menyambut.

Meski tidak ada tempat khusus parkir, Anda bisa berhenti sejenak di lokasi itu. Dari kejauhan tampak Pulau Bali. Bahkan, saat malam, Anda juga bisa menemukan Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang dari banyaknya lampu yang menyala.

Ditta dan keluarga tentu sudah hafal titik-titik yang menyajikan pemandangan elok di pantura bagian timur Jatim itu. Yang dia tidak begitu tahu justru soal tol baru di Probolinggo. “Pernah lihat beritanya saja, tapi tidak tahu arahnya ke mana,” ujar perempuan 40 tahun tersebut saat ditemui di salah satu rumah makan di Banyuwangi kemarin.

Saat Jawa Pos memberi tahu rutenya, Ditta langsung tertarik. Menurut dia, mereka memang sering terjebak macet di beberapa daerah, terutama Probolinggo dan Pasuruan. “Enak dong, cepet, tidak macet. Mau lah saya nanti lewat tol itu,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c10/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads