alexametrics

Melihat Aktivitas di Perbatasan di Tengah Krisis di Marawi

Lebih Waspada kalau Ada Warga Asing Masuk
4 Juni 2017, 18:37:01 WIB

Warga Sangihe biasa membarter rokok dan tuna dengan ayam dan barang keperluan dapur dengan warga Mindanao. Di Miangas, sebagai bentuk kewaspadaan, disiapkan razia KTP. SRIWANI ADOLONG, Sangihe
MARAWI memang ada di Filipina. Tapi, tak kunjung selesainya konflik bersenjata antara pasukan pemerintah dan kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS di sana rupanya mencemaskan Umar. Maklum, dia tinggal di kawasan yang termasuk bertetangga dengan Mindanao, kepulauan di selatan Filipina tempat Marawi berada. ”ISIS (Negara Islam di Iraq dan Syria, Red) kan nekat dan bersenjata. Jika mereka terdesak di Filipina dan lari ke Sangihe, kami tidak akan bisa melawan,” kata warga Petta, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Sangihe, itu. Sangihe memang termasuk kepulauan Indonesia yang berhadapan langsung dengan Mindanao. Kecamatan tetangga Tabukan Utara, Nusa Tabukan, juga merupakan kawasan border crossing area (BCA). Warga Sangihe yang memiliki keluarga di Filipina dan sebaliknya bisa melakukan pertukaran kunjungan dengan dokumen yang jelas. ”Tetapi, banyak juga warga Sangihe ke Filipina untuk berbisnis dan begitu sebaliknya tanpa melewati jalur resmi BCA. Melainkan melalui jalur gelap untuk menghindari biaya,” ujar Camat Nusa Tabukan T.M. Karim Malik kepada Manado Post (Jawa Pos Group). Dari Pulau Tinakareng, salah satu pulau di Nusa Tabukan, ke Mindanao dibutuhkan waktu satu malam jika menggunakan kapal. Namun, jika dengan pump boat hanya sekitar enam jam. Diperkirakan sekitar 10 ribu penduduk Sangihe tinggal di Mindanao. Secara umum, kondisi di Nusa Tabukan masih kondusif. Seperti terlihat pada Jumat lalu (2/6), aktivitas warga yang berpusat di pelabuhan berjalan normal. Warga hilir mudik mengangkat barang ke puluhan pump boat yang terparkir rapi di Pantai Petta. Mayoritas milik warga Kecamatan Nusa Tabukan yang terpisah dari daratan utama Sangihe. Warga Kecamatan Nusa Tabukan biasa mengunjungi Petta untuk menjual ikan hasil tangkapan. Sebab, mayoritas masyarakat Nusa Tabukan adalah nelayan. Ada juga yang datang membeli kebutuhan hidup setiap hari seperti sembako atau barang dagangan yang nanti dijual di Nusa Tabukan. Karim mengakui, kondisi warga di kecamatannya dan Tabukan Utara secara umum masih kondusif. Sebab, penjagaan di wilayah perbatasan dengan Filipina memang telah ditingkatkan belakangan. Tapi, kalau masih ada yang cemas, tentu juga bisa dimaklumi. Pasalnya, masih banyak pelintas ilegal yang masuk ke Sangihe dari Mindanao. Misalnya melalui Pulau Tinakareng. ”Yang penting, kalau ada orang asing masuk harus ditelusuri tujuan kedatangannya,” katanya.

Pengamanan di wilayah Nusa Utara yang mencakup Kabupaten Talaud, Sangihe, dan Sitaro diperkuat TNI-Polri. Personel gabungan jajaran Polda Sulut, Kodam XIII/Merdeka, Lantamal VIII, hingga Lanudsri Manado juga mulai menerapkan pola razia deteksi orang asing.

Melihat Aktivitas di Perbatasan di Tengah Krisis di Marawi
WASPADA: Suasana di Kampung Nanudakele, Nusa Takuban, Sangihe (30/5). (Chanly Mumu/Manado Post/JPG)

Operasinya dilakukan dengan cara pemeriksaan terhadap lalu lintas kapal. Seluruh penumpang hingga barang bawaan dan semua isi kapal dipastikan tak akan luput dari pemeriksaan petugas.

”Situasi saat ini masih aman terkendali. Tim tetap melaksanakan tugas dengan pola bertindak dalam pelaksanaan Operasi Aman Nusa III,” ungkap juru bicara Polda Sulut Kombes Ibrahim Tompo.

Di antara semua pulau di Sangihe, yang terdekat dengan teritorial Filipina sebenarnya adalah Pulau Salibabu. Hanya sekitar empat jam perjalanan laut. Tapi, akses utama biasanya tetap lewat Pulau Tinakareng.

Kebanyakan warga Sangihe menyeberang ke Filipina untuk melakukan barter. Yang dibawa untuk dijual adalah rokok dan tuna. Menurut John Hiwo, mantan camat Nusa Tabukan, sekembalinya, warga membawa minuman beralkohol, ayam, dan barang-barang keperluan dapur.

Akses penyeberangan warga Sangihe ke Filipina adalah Pelabuhan Batu Gandi dan General Santos, kota paling selatan Filipina. Sedangkan warga Filipina masuk ke Sangihe melalui Pulau Tinakareng

”Setahu saya, banyak warga Filipina yang tinggal di Sangihe. Dengan dalih datang mengunjungi keluarga. Kemudian, mereka bekerja sebagai nelayan untuk menangkap ikan tuna,” katanya.

Sejauh ini, di tengah pengetatan keamanan, hubungan bisnis antara Sangihe dan Mindanao masih berjalan normal. Warga kedua negara hilir mudik melalui berbagai akses yang selama ini digunakan.

Warga juga turut membantu mengantisipasi dampak krisis di Marawi, Filipina. Yaitu, dengan men-sweeping orang baru yang masuk. ”Dulu sebelum ada krisis Marawi, patroli seminggu sekali. Tapi, pascakrisis Marawi, patroli pihak keamanan dilakukan setiap hari,” katanya.

Di Kabupaten Sitaro yang juga masuk kawasan perbatasan, suasana juga tetap kondusif. ”Kami sudah berkoordinasi dengan seluruh masyarakat, pemerintah kampung, aparat kepolisian, TNI Angkatan Darat, Marinir, dan tokoh-tokoh agama untuk saling memberikan informasi jika memang ada hal yang mencurigakan,” jelas Toni Supit, bupati Sitaro.

Toni juga menjamin tidak ada masyarakat lokal yang dijadikan tempat persembunyian pelarian dari daerah konflik di Mindanao. ”Apalagi, sekarang perbatasan dikawal ketat,” katanya.

Begitu pula di Miangas. Menurut Camat Steven Maarisit, aktivitas di wilayahnya berjalan seperti biasa. Pihak keamanan rutin melakukan patroli mengelilingi pulau, baik jalur darat maupun laut.

”Dalam waktu dekat pemerintah kecamatan juga akan melakukan pemeriksaan KTP untuk setiap warga yang tinggal di Miangas,” kata Steven. (*/JPG/c10/ttg)

Editor : Suryo Eko Prasetyo


Close Ads
Melihat Aktivitas di Perbatasan di Tengah Krisis di Marawi