Desainer Catherine Wong Bikin Gaun Wedding untuk Tunanetra

3 Desember 2022, 07:48:12 WIB

Desainer Catherine Wong yang kerap mendapat permintaan membuat gaun dari para public figure hingga artis kini membikin gaun untuk saudaranya sendiri. Yang spesial, saudaranya adalah penyandang tunanetra. Catherine membuat kreasi berbeda dengan menambahkan huruf braille pada desain baju untuk momen istimewa itu.

MARIYAMA DINA, Surabaya

HURUF braille menjadi salah satu sarana agar para penyandang tunanetra bisa membaca. Hal itu diterapkan Catherine dalam desain gaun wedding untuk saudaranya yang kala itu akan menikah. Berkolaborasi dengan calon suami saudaranya, Catherine membubuhkan puisi di gaun pengantin yang dikenakan pada acara spesial tersebut.

”Karena jujur saya sedih saat mereka yang tunanetra ini ternyata nggak excited pas mau milih gaun pengantin.

Katanya, pakai apa aja juga nggak kelihatan,” ceritanya saat ditemui Senin (28/11). Namun, Catherine tidak ingin kliennya yang adalah saudaranya tersebut sedih seperti itu. Terlebih untuk hari paling bahagia.

”Akhirnya saya coba bikin surprise bareng calon suami dia. Yang sekarang sudah jadi suami sih. Menambahkan puisi yang ditulis suaminya itu di baju wedding dia,” katanya. Suami saudaranya sebenarnya juga berkebutuhan khusus. Tapi, dia sangat pintar membuat puisi. Poin itulah yang ingin ditonjolkan Catherine.

Puisi itu diaplikasikan pada gaun wedding lewat manik-manik. Jadi, dari jauh akan terlihat hiasan. Tapi, mereka yang paham huruf braille akan bisa membacanya. ”Dan surprise itu ternyata berhasil. Si ceweknya, yang saudara saya itu, sampai nangis,” kenangnya.

Dari situ, pemilik brand Anarav itu pun mengaku semakin tertantang untuk bisa lebih aware dengan sekitar dan sesama. Terlebih untuk mereka yang berkebutuhan khusus. Kreasi gaun pengantin dengan huruf braille pertamanya itu pun menginspirasinya untuk membuat kreasi yang kedua. Kreasi tersebut diperkenalkan ke publik pada Senin lalu.

”Di sini braillenya saya sisipkan di selendangnya. Tulisannya the happiest are the pretties,” terangnya. Kalimat itu pun diharapkan bisa menjadi hal yang spesial bagi mereka yang spesial.

”Kalimat ini saya pilih khusus karena orang tunanetra mungkin nggak bisa bilang cantik itu yang gimana. Tapi, mereka yang paling bahagia itulah yang sebenarnya yang paling cantik,” imbuh dia.

Pemilihan letak huruf braille pada selendang pun bukan tanpa alasan. Hal itu disebabkan dia tidak ingin mereka yang ingin membaca kesulitan dengan huruf braille yang bercampur payet ataupun monte lain pada area baju.

”Kalau bajunya polos aja juga kan kosong. Jadi, kita kasih opsi di selendang,” tambahnya. Dengan begitu, meski menyisipkan huruf braille, konsep desain masih terlihat tetap cantik.

Catherine juga menceritakan bahwa motivasinya berkreasi dengan huruf braille untuk desain baju pengantin ternyata didasari banyak hal. ”Saya kayak mendapat sentilan-sentilan yang nggak terduga akhir-akhir ini,” ceritanya lagi.

Dimulai Catherine yang merayakan ulang tahun anaknya dengan anak-anak panti yang khusus untuk penyandang disabilitas. ”Waktu itu cuman kayak, iya kasihan ya. Tapi, belum sampai tergerak yang gimana-gimana,” lanjutnya.

Sentilan yang kedua datang dari saudaranya yang tunanetra itu. Dia banyak belajar dari momen tersebut karena selama dirinya berkarier menjadi seorang desainer, memang hal itu merupakan sesuatu yang baru.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/may

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads