JawaPos Radar

Pemenang Program Astronot Amerika (Bagian I)

Sempat Ragu, Nur Fitriana Tak Percaya Kalahkan Ribuan Pendaftar

03/07/2018, 06:01 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Nur Fitriana
ASTRONOT: Nur Fitriana, guru SD Negeri Deresan Condongcatur Depok Sleman, berkesempatan mengikuti pelatihan astronot. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this image

Nur Fitriana, 1 dari 10 guru yang terpilih untuk mengikuti pelatihan astronot dan luar angkasa di U.S. Space & Rocket Center (USSRC) di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat. Selama 5 hari ia dididik dan belajar untuk menjadi seorang astronot. Bagaimana kisahnya.

Ridho, Jogjakarta

Terbang ke Negeri Paman Sam dan belajar langsung tentang seluk beluk astronot dari ahlinya tidaklah terbayangkan di benak Fitriana selama ini. Ia masuk dalam program tahunan Honeywell Educators at Space Academy (HESA). Guna mengikuti program tersebut tidaklah mudah, terlebih hanya untuk melakukan submit data pendaftaran saja membutuhkan waktu 1,5 tahun.

Nur Fitriana
Nur Fitriana, 1 dari 10 guru yang terpilih untuk mengikuti pelatihan astronot dan luar angkasa di U.S. Space & Rocket Center (USSRC) di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

Pada Senin (2/7), perempuan kelahiran 9 Juni 1986 tersebut berbagi cerita kepada JawaPos.com di tempatnya mengajar, di SD Negeri Deresan, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Program yang diikuti selama 5 hari tersebut pada awalnya didengarnya 2015 silam dari alumninya. Ketika itu Fitri, panggilan akrabnya, setelah mengetahui pengalaman dari temannya itu tak berani langsung melakukan pendaftaran.

"Ada suatu acara berskala Asia Tenggara, teman ada yang cerita langsung. Saya tak berani submit karena di web-nya itu kayak pelatihan jadi astronot pergi ke bulan. Jadi saya harus pelajari dulu dengan seksama," katanya.

Ia harus mempelajari dahulu apakah relevan atau tidak dengan dunia pendidikan. Terutama kaitannya dengan profesinya sebagai seorang guru Sekolah Dasar (SD). "Nah. setelah kurang lebih 1,5 tahun saya pelajari, ternyata astronot ini bagian dari pembelajaran STEAM. Steam ini setelah saya baca-baca di jurnal internasional merupakan pembelajaran integratif," katanya.

Pembelajaran Integratif yaitu penyatuan mata pelajaran Science, Technologi, Engineering and Mathematics (STEAM). Setelah mempelajarinya, baru ia menyadari apa itu astronot. "Ternyata astronot itu kan misinya dia ke angkasa itu bukan sekedar gaya-gayaan, bisa menginjakkan kakinya ke bulan atau ke luar angkasa," katanya. 

Namun, astronot ketika di luar angkasa melihat seluruh isi bumi. Bagian manakah yang sudah kekeringan, atau kutub es yang es-nya sudah mencair. Dari hal itu kemudian ditemukan hal apa yang harus dilakukan oleh penduduk bumi.

Seperti dengan kebiasaan baik yang harus ditanamkan sejak usia dini. Semisal mengurangi sampah plastik, mengurangi berkendara kendaraan bermotor. "Nah. dari itu semua misi dari astronot itu adalah penyelamatan bumi. Yang itu kalau dikaitkan dengan pendidikan karakter, kebiasaan baik itu sangat bagus ditanamkan sejak dini," ungkapnya.

Ketika disambungkan dengan pendidikan di Indonesia, maka itu relevan dengan pembelajaran karakter. Pada September 2017, ia pun memberanikan diri untuk submit data melalui online.

"Yang saya lampirkan artikel penelitian tentang batu baterai yang diisi kulit sayur dan buah untuk menjadi sumber listrik alternatif. Selain itu membuat jembatan dari koran bekas dan batubata. Saya submit pembelajaran pakai barang bekas," katanya.

Pengumuman mereka yang lolos pun dijadwalkan pada 28 Desember 2017 lalu. Namun sempat molor sekitar 2 hari. "Saat itu sempat mengira tidak diterima," katanya.

Ia pun merasa tak terpuruk, karena program ini diketahui berskala internasional. Namun nasib berkata lain. Saat itu pada hari Senin pagi ketika akan salat subuh Fitri mendapatkan email diterima. "Saya kucek-kucek mata, dan cek ulang ternyata memang benar," katanya.

Fitri menjadi salah 1 dari 10 orang yang berkesempatan mengikuti pelatihan astronot dan luar angkasa di U.S. Space & Rocket Center (USSRC) di Huntsville, kawasan milik National Aeronautics and Space Administration (NASA). Program selama 5 hari ini yakni dari 21 hingga 25 Juni 2018 menjadi astronot.

Ia bersaing dengan 2776 pendaftar lainnya dari 67 negara. Mereka yang lolos berjumlah 118 orang, termasuk Indonesia sebanyak 10 orang. (Bersambung)

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up