alexametrics

Melihat Mahasiswa-Mahasiswa Rusia Belajar Bahasa Indonesia

Mereka Masih Kesulitan Pahami Istilah Politik
3 Januari 2019, 10:55:30 WIB

Bahasa Indonesia cukup dikenal di Rusia. Beberapa kampus di sana memiliki kelas khusus bahasa Indonesia. Seperti apa suasana pembelajarannya? Berikut laporan wartawan Jawa Pos Bayu Putra yang baru pulang dari Rusia.

STREBKOVA Anastasia Sergeevna tampak antusias mengikuti kuliah di Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika Lomonosov Moscow State University Senin (10/12) lalu. Hari itu sang dosen Hilda Septriani mengenalkan Jakarta lebih dalam kepada dia dan sembilan rekannya. Mulai kondisi kotanya hingga apa saja yang menarik dari Jakarta.

Hari itu Rusia begitu dingin. Suhu tercatat minus 1 derajat Celsius. Salju menumpuk di halaman gedung fakultas yang dicat warna dominan kuning gading. Meskipun demikian, kelas bahasa Indonesia yang diikuti Nastya -sapaannya- dan kawan-kawan tetap hangat dengan bantuan pemanas ruangan.

Kelas yang cukup lapang itu berisi sepuluh orang. Tiga bendera terpajang di tembok kelas: Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Di bagian belakang terdapat lemari yang berisi buku-buku berbahasa asing. Baik Indonesia, Filipina, maupun bahasa lainnya. Ada pula alat musik angklung yang dipajang di atas lemari buku tersebut.

Sebagai mahasiswa jurusan bahasa Indonesia, Nastya juga memiliki nama Indonesia. Oleh pengajar sebelum Hilda, Nastya diberi nama Asti. Kawan-kawannya juga demikian. Ada yang bernama Elis, Wening, Satria, hingga Galang. Nama itu hanya dipakai saat mereka berada di kelas bahasa Indonesia.

Kelas bahasa di kampus tersebut benar-benar dibatasi dalam hal jumlah peserta. Total ada 20 mahasiswa, baik di level S-1, S-2, hingga S-3, yang mempelajari Indonesia. Tidak hanya belajar bahasa, mereka juga mempelajari kondisi sosial dan politik Indonesia sebagai bagian dari perkuliahan. Tidak sekadar belajar kata-kata sederhana.

Asti sudah setahun belajar bahasa Indonesia. Meskipun gaya bicaranya masih kaku, tampak jelas penguasaan kosakatanya semakin baik. Gadis 19 tahun itu juga tampak berupaya membalas obrolan dengan bahasa Indonesia.

Mahasiswa tingkat pertama tersebut sudah pernah datang ke Indonesia pada Agustus lalu. Saat itu dia dan sejumlah temannya berlibur ke sejumlah kota di Jawa dan Bali. “Ke Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan saya juga pernah ke Bali. Di Bali saya tinggal di Ubud,” jelasnya. Penguasaan terhadap kosakata Indonesia sehari-hari cukup membantu selama dia berlibur.

Mahasiswi asal Tambov, Rusia, itu menerangkan, di jurusan bahasa Indonesia itu dirinya mengambil studi ilmu politik. Hanya, dia merasa masih kesulitan untuk memahami istilah-istilah politik. “Tapi, saya senang karena bahasa Indonesia itu unik,” lanjut gadis berambut cokelat tersebut.

Di Rusia, ungkap Asti, tidak banyak perempuan yang berkarir di bidang politik. Karena itu, dia mengaku sempat bingung akan bekerja di mana bila lulus kuliah nanti. Yang membuat Asti tertarik dengan ilmu politik adalah dirinya bisa mempelajari hubungan antara Rusia dan Indonesia. “Sejarah Indonesia juga menarik dipelajari,” ucapnya.

Asti masuk jurusan bahasa Indonesia karena dorongan sang ayah. Awalnya dia justru lebih tertarik belajar bahasa Mandarin. “Tapi, ayah saya mau saya belajar bahasa Indonesia,” tambahnya. Sang ayah sangat menyukai Indonesia meskipun tidak bisa berbahasa Indonesia dan belum pernah datang ke Indonesia. Setelah beberapa kali mengikuti kelas, Asti akhirnya makin menyukai pengalaman barunya itu.

Untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia, KBRI Moskow sudah mendapat bantuan pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) dari Kemendikbud. Pada semester kali ini, yang datang untuk mengajar di Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika adalah Hilda Septriani. Sehari-hari Hilda adalah dosen Universitas Padjadjaran Bandung.

Menurut Hilda, tugasnya adalah membantu dosen-dosen Rusia yang ada di kelas bahasa Indonesia tersebut. “Tidak hanya soal bahasa, tapi juga budaya, sistem politik, sejarah, ekonomi, dan sebagainya,” terangnya. Semua harus diajarkan secara inklusif kepada para mahasiswa. Karena itu, bahan ajarnya pun beragam.

Biasanya Hilda menggunakan artikel di majalah-majalah maupun surat kabar Indonesia. Tidak jarang pula dia memutarkan video berita dari berbagai media. Karya-karya sastrawan Indonesia juga tidak luput menjadi bahan ajar. “Jadi, lebih banyak lagi yang bisa mereka dapat, bukan hanya bahasa dan tata bahasa. Untuk belajar bahasa Indonesia saja, dosen Rusia sudah cukup mampu,” paparnya.

Satu hal yang dia syukuri, Universitas Moskow merupakan salah satu kampus terbaik di Rusia. Sehingga mahasiswanya sudah terseleksi sejak awal. “Sejauh ini saya senang karena dari motivasi yang kuat (pada mahasiswa), kesulitan-kesulitan itu bisa diatasi dengan baik,” tutur perempuan 25 tahun itu. Apa yang dia sampaikan relatif cepat diterima mahasiswa.

Mengajarkan bahasa Indonesia tidak hanya soal arti kata. Ada konteks yang juga harus dipahami mahasiswa. “Dalam konteks yang berlainan, belum tentu artinya sama,” tambahnya. Itulah yang kadang menyulitkan. Solusinya, dia akan memberikan alternatif berupa bahasa Inggris. Meskipun demikian, perempuan asal Bogor tersebut berupaya agar penggunaannya benar-benar minim.

Pengajaran bahasa Indonesia di Rusia telah terbentuk sejak tahun-tahun awal hubungan diplomatik kedua negara. Seiring waktu, peminatnya makin banyak karena masyarakat Rusia semakin menyukai Indonesia. Lebih tepatnya, mereka menyukai budaya Indonesia karena begitu beragam.

Masyarakat Rusia sudah sejak lama cinta terhadap budaya. Bila sedang masa liburan, pilihan utama untuk menghabiskannya adalah menonton pertunjukan budaya atau piknik di taman. Tidak banyak yang menghabiskan liburan di pusat-pusat perbelanjaan. Warga Rusia juga disebut-sebut tidak segan mengeluarkan biaya besar untuk menyaksikan pertunjukan budaya yang berkualitas. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/oni)

Melihat Mahasiswa-Mahasiswa Rusia Belajar Bahasa Indonesia