Perhelatan Konser Ketiga Swara Svarna Indonesia

Pertama setelah Pandemi Covid-19
2 Desember 2022, 07:48:46 WIB

Merupakan kali ketiga konser tersebut dihelat. Sempat diselenggarakan secara virtual saat pandemi, tahun ini konser itu kembali semarak diadakan di Balai Budaya. Lagu yang dibawakan pun sarat dengan semangat bangsa.

RAMADHONI CAHYA C., Surabaya

KONSER Gemilang Indonesia membuat gedung Balai Budaya menggema. Sopran, alto, tenor, dan bas berpadu harmonis pada Sabtu (19/11) lalu. Itu merupakan konser ketiga yang diadakan Swara Svarna Indonesia. Serta, yang kali pertama dihelat secara luring setelah pandemi Covid-19.

Momen peringatan Hari Pahlawan merupakan tema konser tersebut. Lagu yang dibawakan selama dua sesi pun sarat dengan nuansa perjuangan. Mulai Api Kemerdekaan, Merah Putih, hingga Indonesia Jaya. Pemilihan lagu pun dilakukan dengan ketat berdasar sejumlah kriteria.

Tentu, salah satu kriteria lagu adalah penyesuaian tingkat kesulitan dengan kemampuan para penyanyi. Sebab, kebanyakan di antara mereka adalah warga senior dengan umur di atas 50 tahun. Mereka pun membahas lagu yang cocok dinyanyikan bersama sang pelatih.

’’Kalau lihat dari latihan, yang paling sulit itu lagu Merah Putih. Soprannya bisa sampai G2, itu tinggi sekali,’’ ucap Ketua Panitia Konser Gemilang Indonesia Ni Putu Galuh. Anggota Swara Svarna Indonesia merupakan alumnus Universitas Airlangga (Unair).

Mereka berasal dari berbagai program studi dan tergabung di unit kegiatan mahasiswa (UKM) paduan suara. Ketika mereka bertemu di suatu reuni akhirnya terbentuk pada 2012. Semangat mereka pun sangat tinggi agar konser berjalan lancar dan sempurna.

’’Bertajuk Gemilang Indonesia. Artinya, kecintaan, semangat, dan jiwa untuk bangsa harus ditanamkan ke generasi yang akan datang,’’ jelas perempuan asal Blitar itu.

Menurut Galuh, persiapan konser kali ini merupakan yang tercepat. Hanya 22 kali selama empat bulan untuk 11 lagu yang dibawakan. Padahal, latihan umumnya bisa menghabiskan waktu satu tahun. Hal itu tak terlepas dari komitmen di tengah kesibukan mereka.

Setiap Minggu sore mereka berkumpul dan berlatih bersama. ’’Teman-teman dari luar kota tetap datang meskipun hujan atau banjir. Ada yang dari Bojonegoro dan Malang,’’ terangnya.

Konser itu sempat akan dihelat pada Agustus lalu. Namun, tak memungkinkan karena pandemi. Bahkan, konser kedua digelar secara daring dan memakan waktu lebih lama. Mulai rekaman suara hingga movie shooting. Bagi dia, konser secara luring lebih disukai karena atmosfer dan interaksi dengan penonton lebih terasa.

’’Seperti resonansi suara yang harus sampai ke penonton paling belakang. Memang pakai mic, tapi hanya berfungsi sekitar 30 persen,’’ katanya.

Penonton yang hadir mencapai 450 orang. Tepuk tangan yang diberikan begitu meriah setiap pergantian lagu. Rencana ke depan, konser dua tahunan itu akan dilakukan lagi dan berkolaborasi dengan musisi. Penentuan musisi yang dipilih akan dibahas lebih lanjut.

’’Sudah ada ide. Namun, kami harus tentukan dulu,’’ jelas perempuan alumnus Program Studi Hukum Unair 1992 itu.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c12/tia

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads