Masih Temukan Rumah-Rumah Tradisional dengan Struktur Tahan Guncangan

2 Desember 2022, 14:27:59 WIB

Ekspedisi JawaDwipa Para Peneliti Muda Catat Musibah Gempa dan Tsunami di Jatim

Ekspedisi JawaDwipa menemukan beragam kearifan lokal mengenai pengenalan tanda-tanda alam maupun mitigasi terkait gempa dan tsunami. Riset oleh para peneliti lintas universitas itu dimaksudkan buat membangun kesadaran bersama tentang bencana, bukan untuk menakut-nakuti.

EDI SUSILOSidoarjo

WARGA Pacitan di sudut selatan Jawa Timur menyebutnya dengan ”pasang grasa”. Nun di wilayah paling timur Pulau Jawa, masih di provinsi yang sama, masyarakat setempat mengenalnya sebagai ”banyu lampeg”

Di catatan yang lebih tua di kitab Hariwangsa (1135–1157) kala Kerajaan Panjalu atau Kadiri dipimpin Jayabaya, istilah yang dipakai ”rwab” atau ”rob”.

Semua sebutan itu merujuk pada kejadian alam yang sama: tsunami. Pasang grasa merujuk pada gelombang pasang, air lampeg adalah air naik, dan rwab alias rob masih dipakai sampai sekarang untuk menyebut masuknya air laut sampai ke daratan.

Itulah sebagian temuan Ekspedisi JawaDwipa oleh sekelompok periset muda. Mereka datang dari berbagai universitas dengan latar disiplin ilmu berbeda, bergerak menyusuri dusun dan desa, baik di sepanjang pantai maupun perbukitan, di sepuluh daerah di Jawa Timur (Jatim) untuk membuat catatan panjang tentang sejarah bencana.

Sejarah bencana yang menjulur panjang dari masa kerajaan hingga tsunami terakhir di wilayah Jatim yang melanda Banyuwangi pada 1994. Dua puluh hari lamanya mereka berkeliling.

”Tak hanya mengumpulkan bukti kejadian bencana, kami juga melakukan riset mengenai upaya mitigasi masyarakat,” ucap Ketua Divisi Riset Ekspedisi JawaDwipa Lien Sururoh setelah memaparkan hasil riset lapangan di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim di Waru, Sidoarjo, kemarin (1/12).

Ekspedisi itu dimulai Senin (14/11) petang dua pekan lalu. Menggunakan dua mobil, sebelas peneliti berusia di bawah 30 tahun bergerak dari Surabaya menuju Pacitan.

Selama ekspedisi itu, mereka mengumpulkan cerita-cerita sesepuh desa sampai nukilan relief di candi, prasasti, hingga bangunan kuno. Semuanya dicatat, dipotret, dan diambil video dokumentasinya untuk dijadikan narasi panjang mengenai bencana gempa dan tsunami.

Salah satu tetinggalan leluhur untuk mengatasi gempa adalah bentuk bangunan tahan guncangan. Situs Watu Gong di Ketawanggede, Kota Malang, misalnya, menunjukkan itu.

Batu upak itu dianggap sebagai fondasi bangunan yang dinilai tahan guncangan. Situs batu upak serupa banyak ditemukan di sejumlah wilayah Jatim. Di antaranya, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Di Situbondo yang berada di kawasan pantura Jatim, di beberapa desa bahkan hingga kini masih ditemui rumah tradisional tabing tongkok. Yang struktur bawahnya mirip watu gong.

Di Pacitan, perempuan 27 tahun itu mengisahkan, beberapa sesepuh hafal betul tanda-tanda alam. Jika sudah ada perubahan cuaca dan pasang grasa, mereka melarang keluarga untuk melaut. Di wilayah pesisir selatan tersebut, masyarakat sebenarnya juga telah mengenal jalur evakuasi. Jika sewaktu-waktu ada gelombang tinggi muncul dari laut.

Catatan lain dikemukakan Ketua Tim Ekspedisi JawaDwipa Nugrah Aryatama. Di Banyuwangi, kata dia, tsunami yang menewaskan 222 nyawa pada 1994 juga membuat masyarakat pesisir setempat waspada.

Mereka saling mengingatkan kepada pemuda yang nongkrong di tepi pantai agar selalu sigap membaca perubahan cuaca di pantai. Jika ada potensi gelombang pasang, mereka diminta memberi kabar warga kampung untuk segera berkemas dan menjauhi pantai.

Dalam ekspedisi JawaDwipa, para peneliti muda dari berbagai disiplin ilmu itu mengunjungi tiga sampai empat desa di setiap kabupaten. Semua desa yang dikunjungi punya catatan bencana.

Meski hanya berlangsung 20 hari, lawatan ke berbagai kota di Jatim itu mereka persiapkan selama dua tahun. Dimulai dari riset kesejarahan, geofisika, sampai literatur, dan dilanjut diskusi dengan berbagai pakar. Itu untuk memperkuat temuan mereka selama ekspedisi berlangsung.

”Semua kami lakukan untuk mengingatkan agar semua memiliki kepedulian mengenai bencana. Bukan untuk menakut-nakuti,” kata lelaki 29 tahun tersebut.

Sampai sekarang memang masih ada yang memandang riset bencana sebagai hal ”mengganggu”. Pengalaman itu dirasakan sendiri oleh Nugrah yang bergabung dalam Ekspedisi Palu-Koro 2018 lalu yang dinaungi Yayasan Skala Indonesia.

Dia ingat betul, sebulan sebelum terjadi gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, dirinya bersama tim telah berdialog dengan pemerintah daerah setempat. Kala itu mereka memaparkan hasil riset lapangan selama sebulan.

Didukung penelitian sebelumnya, tim mengingatkan potensi sesar aktif di wilayah ibu kota Sulawesi Tengah tersebut. Itu agar pemerintah daerah siap siaga, khususnya terkait penanganan dampak bencana.

Tapi, bukannya bersiap dan merespons temuan tim, pejabat setempat justru memberi jawaban yang membuat tim ekspedisi gemas. ”Kalian jangan nakut-nakutin,” ujarnya menirukan omongan sang pejabat.

Kondisi lupa akan potensi bencana dan kearifan lokal dalam mengatasi musibah itulah yang mendorong Ekspedisi JawaDwipa digelar. Tujuannya hanya satu: nukilan peristiwa panjang bencana itu bisa dicatat.

Lalu disebarluaskan agar tumbuh kesadaran bersama. Bahwa bencana selalu mengiringi negeri ini dan perlu langkah mitigasi untuk mengatasinya.

Lien menyebutkan, setelah ekspedisi lapangan kelar kemarin, mereka akan menyusun temuan secara terperinci. Rencananya, laporan itu disampaikan ke BPBD kabupaten dan kota di Jatim.

”Kami rencananya memublikasikannya pada Januari tahun depan,” tuturnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c19/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads