alexametrics

Sijantang Koto Hidup Berdampingan dengan Cerobong Asap

Sampai Kapan Kami Harus Hidup Begini?
2 Desember 2019, 14:47:40 WIB

Sebagian anak di Desa Sijantang Koto terbiasa bernapas dengan udara bercampur abu cerobong asap PLTU Ombilin. Para ibu merasa sangat khawatir. Namun, mereka tak mampu berbuat banyak.

AGUS DWI PRASETYO, Jawa Pos, Sawahlunto

BOCAH laki-laki itu terus menunduk. Wajahnya agak lesu. Kurang bersemangat. Meski begitu, dia bergegas mengambil anyaman bambu berbentuk piring di ruang tengah, lalu menaruhnya di atas meja tamu.

Bocah tersebut kemudian kembali ke posisi semula, duduk di undakan lantai, menyimak obrolan ibunya bersama Jawa Pos dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang.

Bocah itu, Fairuz, tak banyak bicara saat kami tiba di rumah berukuran besar tersebut Senin (25/11). Namun, dia anak penurut. Tiap kali ibunya, Afni Efientri, 40, menyuruh, Fairuz melaksanakannya dengan baik. Termasuk ketika diminta mengambil anyaman bambu wadah obat herbal. ”Dua bulan terakhir ini kami berinisiatif berobat herbal,” kata Afni, menunjuk obat herbal di atas meja.

Obat herbal itu adalah suplemen bagi Fairuz. Ada banyak ragamnya. Setiap obat punya manfaat spesifik: meningkatkan daya ingat, menjaga kekebalan tubuh, hingga mengobati batuk dan peradangan. Setiap hari Afni mewajibkan Fairuz mengonsumsi obat-obat dari ekstrak bahan alam itu. ”Dulu kami kasih obat-obat kimia dari dokter,” tutur perempuan berjilbab tersebut.

Keluarga Afni tinggal di Desa Sijantang Koto, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Desa yang dihuni 1.237 penduduk itu berdampingan dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di bawah naungan PT PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan Sektor Ombilin. Lokasinya nyaris tak berjarak dengan permukiman warga.

Pembangkit listrik berbahan baku batu bara tersebut sudah ada sejak 1993. PLTU yang berlokasi di tengah perbukitan dan berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Sawahlunto itu memiliki dua unit mesin pembangkit. Masing-masing berkapasitas 100 megawatt.

Selama ini pengoperasian PLTU Ombilin dan keresahan warga Sijantang Koto berjalan beriringan. Gara-garanya, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa fly ash (abu terbang) dan bottom ash (abu kasar) mencemari lingkungan. Yang paling nyata dirasakan warga adalah buruknya kualitas udara.

Kualitas udara itu bisa dipantau melalui aplikasi Air Visual. Sejak Maret lalu, Greenpeace memasang alat pendeteksi kualitas udara di salah satu rumah warga. Tak jauh dari PLTU. Jawa Pos mengamati indeks kualitas udara (air quality index/AQI) melalui aplikasi tersebut selama tujuh hari terakhir guna mengetahui keparahan kualitas udara di Ombilin. Yakni, sejak Senin sampai kemarin (1/12).

Di awal pengamatan, AQI tertinggi berada di angka 60 atau level sedang. Selang sehari, tepatnya pada Selasa siang (26/11), AQI sempat menyentuh level tidak sehat. Yakni, angka 152. Di waktu yang sama, AQI di Jakarta berada di angka 135 atau udara tidak sehat hanya bagi kelompok sensitif. Artinya, saat itu kualitas udara Ombilin lebih parah daripada Jakarta.

Keresahan Warga

Semua orang di Sijantang Koto tahu bahwa abu terbang PLTU Ombilin berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, tidak sedikit yang telah mendengar kabar tentang keputusan menteri lingkungan hidup dan kehutanan (LHK) tertanggal 3 September 2018. Isinya menguraikan pelanggaran administratif yang dilakukan PLTU Ombilin.

Ada beberapa pelanggaran yang berdampak langsung pada warga yang tercantum dalam surat itu. Di antaranya, melakukan kegiatan penimbunan limbah B3 berupa fly ash dan bottom ash tanpa izin di lima lokasi. Kemudian, menggunakan diesel fire fighting sebagai backup power supply dalam kondisi darurat atau blackout.

Sejak surat itu diterbitkan, pemerintah desa bersama warga rutin menagih tindak lanjut penyelesaian masalah lingkungan tersebut ke manajemen PLTU. Terakhir, PLTU mengatakan bahwa sampai saat ini proses pembenahan masih berlangsung. Proses tersebut, antara lain, meliputi penggantian peralatan penangkap abu (electrostatic precipitator) dan pemindahan bottom ash ke tempat penampungan sementara (TPS).

Selain itu, PLTU telah menganggarkan pembangunan jembatan untuk jalur alternatif pengangkutan batu bara. Namun, pengadaan tersebut tertunda lantaran menunggu kejelasan peruntukan lokasi lahan dan akses dari Pemkot Sawahlunto. ”Kalau masih berlarut-larut, kami surati PLN pusat (untuk minta percepatan, Red),” kata Kepala Desa Sijantang Koto Delfi Makmur.

Sembari menunggu realisasi janji-janji PLTU, warga di desa itu tetap melakukan rutinitas seperti biasa. Pun, Yusuf Jamal, 61, bersama istrinya, Novrianis Iliyas, 49. Mereka tetap mengantarkan anaknya, Fadli Jamal Al Azaky, 9, ke SDN 19 Sijantang Koto. Seperti biasa, mereka sarapan ketupat sayur di warung di depan PLTU sebelum memulai rutinitas.

”Kalau hari sudah panas, abu itu pasti terasa,” ujar Yusuf sambil menatap cerobong yang hanya berjarak puluhan meter dari tempat duduknya. Abu hitam beberapa kali keluar dari cerobong saat Yusuf bersama istri serta anaknya menikmati ketupat sayur. Seperti orang kebanyakan, mereka pun sudah terbiasa. ”Kalau pagi cerah, nanti perubahannya waktu siang,” kata Yusuf.

Tak jauh dari warung, anak-anak berseragam berjalan santai menapaki jalan menanjak menuju Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cinta Ananda dan SDN 19 Sijantang Koto. Posisi PAUD paling dekat dengan PLTU. Sementara itu, lokasi sekolah dasar masuk ke gang permukiman warga. Meski begitu, dua lembaga pendidikan tersebut bernasib sama. Sama-sama kena imbas abu terbang.

Ada 16 murid PAUD yang saban hari menghirup udara bercampur limbah B3 dari PLTU. Bila diamati, udara itu mengandung debu halus yang dapat dengan mudah masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan. Seperti kebanyakan anak-anak di desa tersebut, para murid tidak menghiraukannya. Mereka tetap bermain dan tertawa girang bersama.

”Kalau ada debu, kami sarankan (anak-anak) beraktivitas di dalam ruangan,” kata Misdawati, guru PAUD Cinta Ananda. Para orang tua di desa itu memang tidak bisa berbuat banyak melihat anak-anaknya bermain di luar ruangan. ”Anak-anak nggak bisa dilarang bermain (di luar ruangan, Red),” kata Gusrinal, 53, warga Sijantang Koto lainnya.

Kaum ibu sejatinya paling khawatir dengan dampak pencemaran lingkungan. Namun, mereka tidak dapat berbuat banyak. Mereka pun pasrah ketika anak-anak mereka mulai mengeluhkan gangguan kesehatan. Juga, lantai rumah yang terus-menerus kotor, jemuran pakaian kotor, hingga air penampungan berubah keruh akibat abu PLTU.

Anak-Anak Terjangkit Penyakit

TERDAMPAK: Lokasi PAUD Cinta Ananda berseberangan dengan cerobong asap. (Imam Husein/Jawa Pos)

M. Mirza, siswa SDN 19 Sijantang Koto, berlari ke arah tanah lapang di samping PLTU sore itu. Di lokasi tersebut, belasan anak-anak dan remaja tanggung sudah bergerombol. Sebagian bermain bola voli. Lainnya menonton balapan burung dara yang dimainkan beberapa bocah. Mirisnya, keseruan sore itu harus ditemani pemandangan semburan abu dari cerobong PLTU.

Sudah dua bulan Mirza mengeluh gatal-gatal di beberapa bagian tubuh. Tangan, kaki, hingga punggung. Tapi, sore itu dia seperti melupakannya. Bocah 10 tahun tersebut asyik bermain bersama temannya. Begitu pula Fano Arka Devano yang sebenarnya punya alergi abu yang membuat matanya tampak tak normal.

Penyakit begitu rentan menjangkiti warga di desa tersebut. Selain penyakit kulit dan iritasi mata, tidak sedikit warga yang terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan gejala batuk, pilek, disertai demam.

Data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Sawahlunto mencatat, pasien ISPA di Puskesmas Talawi paling banyak jika dibandingkan dengan yang lain pada 2018. Total 5.308 pasien ISPA ditangani puskesmas yang mencakup Desa Sijantang Koto itu. Hingga Oktober tahun ini, jumlahnya masih cukup banyak, yakni 1.929 pasien. Angka sesungguhnya diprediksi lebih banyak. Sebab, tidak semua warga pergi ke puskesmas untuk memeriksakan diri ketika mengalami gangguan kesehatan. ”Ada yang langsung ke dokter spesialis atau bidan,” kata Deny Septimar, pegawai Puskesmas Talawi.

Abu beracun yang seolah ”abadi” tersebut mimpi buruk bagi sebagian besar warga Sijantang Koto. Karena itulah, Afni betul-betul menjaga Fairuz agar gangguan kesehatan yang menimpa anaknya tidak lagi berujung kesedihan mendalam seperti yang dulu pernah dia alami pada 2014. Yakni, ketika anak pertamanya, M. Zikri, meninggal gara-gara infeksi paru-paru.

Semua anak Afni alergi dengan abu. Setiap kali beraktivitas di luar ruangan, daya tahan tubuh Fairuz melemah. Bocah 10 tahun itu rentan terjangkit pilek dan batuk. Begitu pula dengan kakaknya, Anisah Salwa, 13. Namun, beda dengan Fairuz, Anisah kini sudah tak lagi menetap di Sijantang Koto sejak menekuni pendidikan agama di Kota Padang. ”Terus sampai kapan kami harus begini? Kalau pindah bukan solusi lagi buat kami, karena kami sudah pindah dari bawah ke (dataran) atas, tapi tetap saja ada abu itu,” kata Afni dengan suara pelan. (*/c10/oni)

Status Warisan Dunia Terancam Dicabut

MENUNGGU JANJI PEMBENAHAN: Cerobong asap PLTU Ombilin mengeluarkan debu saat proses produksi. (Imam Husein/Jawa Pos)

BEROPERASILAH sewajarnya saja. Kalau sudah rusak, ya diperbaiki dulu,” kata Gusrinal, warga Sijantang Koto, kepada Jawa Pos. Gusrinal bersama kelompok ibu-ibu aktif mengikuti perkembangan penanganan dampak abu PLTU Ombilin.

Mereka terus bersuara lantang mengecam persoalan abu yang bikin susah warga.

Beberapa kali diskusi dilakukan bersama pemerintah desa untuk menagih solusi dari pihak terkait. Mengadu kepada pemerintah kota sudah dilakukan. Begitu juga kepada wakil rakyat. Namun, percepatan penyelesaian masalah tak kunjung terealisasi. ”Warga mungkin ndak banyak punya ilmu tentang abu. Kalau tidak terbujur, (warga, Red) belum merasakan sakitnya,” ujarnya.

Tak terhitung banyaknya surat perjanjian yang disepakati warga dengan PLTU terkait dengan masalah lingkungan itu. Mereka ingin abu pembuangan dikelola dengan baik. Bukan dibuang sembarangan ke udara atau ditumpuk di pekarangan PLTU yang berdampingan dengan permukiman warga. ”Dulu tidak menumpuk seperti itu,” papar guru SMPN 9 Sawahlunto tersebut.

Warga juga mengeluhkan debu yang tiap hari bertebaran di jalanan karena hilir mudik kendaraan pengangkut batu bara. Selama ini, PLTU memanfaatkan jalan umum untuk kegiatan itu. Padahal, di sepanjang jalur tersebut berderet permukiman warga. ”Debu (di jalan, Red) itu disiram, disapu (oleh petugas PLTU, Red). Padahal, kalau disapu, abu itu justru terbang,” imbuh perempuan kelahiran Sijantang Koto tersebut.

Kepala Desa Sijantang Koto Delfi Makmur menyebut persoalan itu pernah ”meledak” pada 2011. Tepatnya ketika abu yang dibuang di bukit di atas desa berhamburan gara-gara angin kencang. Kala itu abu menyelimuti perkampungan terus-menerus selama beberapa waktu. Mirip bencana letusan gunung berapi. ”Warga pun mulai resah,” kenangnya.

Keluhan atas pencemaran lingkungan di Sijantang Koto saat ini merupakan akumulasi dari kegelisahan warga selama bertahun-tahun. Dan, belum ada solusi yang terwujud. Mulai rencana membangun jembatan untuk rute alternatif pengangkutan batu bara dan limbah hingga upaya mengganti alat penangkap abu yang rusak saat ini. ”Kami hanya ingin percepatan. Kemudian, pengadaan jembatan secepatnya, pembuangan abu (bottom ash) secepatnya,” pintanya. Begitu pula soal kesehatan. Pihaknya meminta program pemeriksaan kesehatan yang diselenggarakan oleh PLN tidak sekadar formalitas. ”Sebatas memeriksa secara umum, tidak sampai pada (diagnosis, Red) penyakit orang ini apa,” imbuh dia.

Kegelisahan warga itu mendorong Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang untuk menggalang dukungan guna mencabut izin PLTU Ombilin lewat petisi. Petisi tersebut telah ditandatangani 14.550 ribu orang sejak dirilis 5 bulan lalu. LBH juga memberikan advokasi kepada warga terdampak dan berencana menggugat PLTU Ombilin atas pencemaran lingkungan yang membuat orang-orang sulit mendapatkan udara segar itu.

”Kalau PLTU Ombilin sudah berhenti beroperasi, udara akan bersih,” kata aktivis LBH Padang Diki Rifki yang menggagas petisi tersebut. Tuntutan pencabutan izin itu sejalan dengan upaya melestarikan alam di kawasan tambang batu bara Ombilin yang ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai warisan dunia tahun ini. ”Kalau pemerintah tidak mengerjakan catatan yang salah satunya konservasi, status itu akan dicabut.”

Sementara itu, Jawa Pos berupaya meminta konfirmasi kepada pihak manajemen PLTU Ombilin. Kami mendatangi kantor operasional perusahaan tersebut di Sijantang Koto. Namun, petugas sekuriti tidak mengizinkan kami masuk ke area perusahaan. Mereka mengatakan bahwa aturan itu berlaku untuk semua media. ”Mohon maaf, ya, bukan maksud kami mengusir,” ujar seorang petugas sekuriti.

Jawa Pos juga mengonfirmasi isu pencemaran udara oleh PLTU Ombilin kepada PT PLN. Namun, Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah belum memberikan jawaban dan respons.

Di lain pihak, Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga juga tak memberikan jawaban pasti atas isu tersebut. ’’Saya belum dengar kasusnya. Karena belum dapat info, saya belum bisa berkomentar,’’ ujar Arya kepada Jawa Pos kemarin.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */tyo/agf/c10/c11/oni



Close Ads