alexametrics

Kepak Sayap ”Si Walang Kekek” Waldjinah setelah Kesehatannya Pulih

2 September 2017, 16:34:44 WIB

Waldjinah tengah mempersiapkan biografi untuk diluncurkan pada ulang tahun ke-72 pada November nanti. Berencana membuka lagi kursus gratis menyanyi keroncong.

ANDRA NUR OKTAVIANI, Solo

BAGI Waldjinah, tak ada perjuangan yang lebih berat sekarang selain ”menghadapi” sambal terasi dan tongkol mangut. Maksudnya, keduanya ada di hadapan mata, tapi tak boleh menyantap.

Kepak Sayap ”Si Walang Kekek” Waldjinah setelah Kesehatannya Pulih
BERSAMA GENERASI MUDA: Berduet dengan Sruti Respati di Kretakencana World Music Festival 2012 di PG Colomadu, Karanganyar. (DAMIANUS BRAM/Radar Solo/JPR)

”Sambele ngono enak bianget (Sambelnya itu enak banget, Red). Tapi, sudah ndak boleh, ndak berani sama sekali hehehe,” katanya kepada Jawa Pos pada Rabu pekan lalu (23/8).

Ratu keroncong itu memang harus menjaga betul pola makan. Itu harga yang harus dia bayar agar kesehatannya tak kembali drop seperti pada November 2013. Ketika itu penyanyi berjuluk Si Walang Kekek tersebut mesti beristirahat total, bahkan sampai sepanjang 2014.

Buntut lainnya, anak-anaknya pun melarang perempuan kelahiran 7 November 1945 tersebut menyanyi secara profesional. Sebab, pemicu awal penurunan kondisi penyuka makanan pedas dan asam tersebut saat itu adalah kelelahan.

”Tahun 2013 itu memang tahun yang sangat sibuk bagi ibu,” kata Ari Mulyono, anak keempatnya yang turut mendampingi.

Namun, upaya keras Waldjinah menjaga kondisi itu berbuah. Saat berbincang dengan Jawa Pos di kediamannya di kawasan Purwosari, Solo, ibu lima anak dan nenek delapan cucu itu terlihat bugar. Dalam balutan baju dan kerudung merah, wajah perempuan 71 tahun tersebut tampak cantik dan berseri.

Pulihnya kesehatan itu juga seperti membuat ”sayap” Waldjinah mengepak lagi. Penyanyi yang telah menelurkan puluhan album keroncong tersebut kembali aktif beraktivitas. Bak kelincahan si walang alias belalang di petikan lagu yang melambungkan namanya tersebut: ”Walang kekek, menclok ning tenggok//Mabur maneh, menclok ning pari.”

Yang terkini, penembang Jangkrik Genggong dan Ayo Ngguyu itu tengah menyelesaikan proyek biografi. Menurut Ari, biografi tersebut awalnya hanya dibuat sederhana. Sekadar bingkisan kepada teman dan keluarga saat ulang tahun ke-70 Waldjinah pada 2015.

Tapi, ternyata biografi yang ditulis Ning Yulia itu menarik perhatian seorang produser dari Dian Records. Si produser kebetulan turut hadir pada acara ulang tahun Waldjinah. ”Ternyata dia bisa carikan sponsor untuk bikin biografi yang lebih komplet dan didistribusikan lebih luas,” kata Ari.

Sekarang ini sedang proses pengerjaan. Materi sudah komplet. Tinggal melengkapi foto dan daftar lagu. Nanti biografi penyanyi yang mulai melejit saat menjuarai kontes menyanyi Ratu Kembang Katjang pada 1958 tersebut akan terdiri atas tiga buku.

Buku pertama bercerita tentang Waldjinah kecil hingga sekarang. Buku kedua berisi foto-foto Waldjinah. Lalu, buku ketiga berisi lagu-lagu Waldjinah. ”Mudah-mudahan November nanti, ketika ibu ulang tahun ke-72, sudah bisa diluncurkan,” ucap Ari.

Kalau nama Waldjinah sedemikian sinonim dengan keroncong, itu wajar. Cengkoknya khas. Sekar Larasati, dalam abstraksi skripsinya di Universitas Pendidikan Indonesia bertajuk Gaya Vokal Waldjinah pada Langgam Keroncong, menulis, penempatan cengkok, gregel, luk, dan teknik bernyanyi Waldjinah memiliki karakteristik gaya vokal yang unik.

Dengan menjadikan Bengawan Solo dan Walang Kekek sebagai sampel penelitian, Sekar menyimpulkan, seperti dikutip dari situs UPI Digital Repository, dengan mengetahui serta memahami pembawaan vokal Waldjinah, seorang penyanyi keroncong bisa mengapresiasikannya pada sebuah pertunjukan maupun kompetisi musik keroncong.

Walang Kekek yang dirilis pada 1967 itu, menurut Waldjinah, juga kegemaran Tien Soeharto, istri mantan presiden Indonesia. Itu juga yang membuat Waldjinah kerap diundang untuk menyanyi di Istana Negara.

”Ibu Tien menyukai lagu Walang Kekek karena punya pesan yang begitu pas untuk para laki-laki agar tidak berselingkuh,” katanya.

Waldjinah juga tak bisa melupakan saat konser di Malang pada 1968. Kala itu lagu Walang Kekek sedang booming. ”Waktu itu saya manggung di sebuah lapangan yang cukup luas. Penontonnya penuh, bahkan ada yang naik ke dahan pohon dan akhirnya meninggal karena terjatuh,” cerita Waldjinah.

Waldjinah juga dikenal luwes bekerja sama dengan berbagai musisi serta penyanyi dari beragam genre. Mulai Mus Mulyadi sampai Chrisye. Itu pula yang membuat popularitasnya menembus batas.

Pada Juli 2013, misalnya, setelah menghadiri Pasar Malam Tong-Tong di Den Haag, Belanda, dua bulan kemudian dia terbang ke Suriname. Dia diundang untuk mengisi acara ulang tahun Partai Pertjajah Luhur di negeri Amerika Selatan tempat banyak keturunan Jawa bermukim itu.

Kemudian, pada Oktober mengisi pemecahan rekor Muri 1.000 Lagu Keroncong di Kodam Diponegoro, Semarang. ”Saya menyanyikan lagu ke-1.000, lagu Ayo Ngguyu. Sebulan kemudian, kesehatan saya menurun dan harus istirahat full sepanjang 2014,” ungkap Waldjinah.

Ari menambahkan, perjalanan luar negeri yang dilakoni ibunya sebelum jatuh sakit itu memang betul-betul menguras energi. Durasi perjalanan yang panjang serta transit yang cukup lama membuat Waldjinah kelelahan. ”Apalagi, selama transit berjam-jam, kami hanya di bandara. Tidak menginap di hotel untuk istirahat,” terang Ari.

Terbiasa aktif sejak usia belia, harus bed rest total tentu sangat menyiksa Waldjinah. Karena itu, begitu sudah pulih seperti sekarang ini, dia manfaatkan betul waktunya. Di antaranya untuk momong cucu.

Selain itu, Waldjinah tetap menyanyi. Tidak secara profesional. Hanya ketika ada teman atau keluarga yang meminta. ”Nomboni, wong senengane menyanyi, ya tidak bisa lepas dari menyanyi,” tutur Waldjinah, lalu tertawa.

Di rumah pun, kata Ari, ibunya kerap bersenandung jika sedang mendengarkan lagu-lagu keroncong dari radio. Biasanya saat malam, sebelum tidur.

Tidak jarang juga Waldjinah baru tidur menjelang pagi karena keasyikan mendengarkan lagu keroncong yang dilanjutkan dengan pergelaran wayang. ”Enggak kok. Sampai jam 12 malam saja,” kata Waldjinah membela diri.

Keterlibatana dalam lomba menyanyi lagu keroncong antar pelajar di Solo tahun lalu juga membungahkan hati Waldjinah. Sebab, di ajang yang diikuti mulai workshop sampai final tersebut, dia melihat banyak sekali anak muda berbakat di musik keroncong. ”Suaranya bagus-bagus, cara bernyanyinya juga baik. Harus dibimbing lah bisar tambah apik,” katanya.

Semangat Waldjinah untuk terus melestarikan musik yang telah melambungkan namanya itu memang tak pernah surut. Dulu, sebelum sakit, perempuan yang telah memiliki tiga cicit tersebut pernah membuka kursus menyanyi keroncong gratis. Di garasi rumahnya.

Kebetulan pada periode ketika kursus itu berlangsung, 2005–2011, Waldjinah sedang menjabat ketua Himpunan Artis Musik Keroncong Republik Indonesia (Hamkri) Solo. Hamkri-lah yang membiayai berbagai keperluan untuk kursus tersebut. ”Biasanya, jadwal kursusnya Jumat sore,” katanya.

Kendati tidak berjalan lama, kursus di garasi rumah itu berhasil menelurkan beberapa penyanyi yang karirnya lantas berlanjut. Tiga di antaranya masuk jajaran tiga teratas dalam kontes bintang radio kategori pop. Sedangkan satu murid lainnya hijrah ke Jakarta untuk menyanyi keroncong bersama musisi pop Jawa Koko Thole.

Kini Waldjinah bermaksud menghidupkan lagi kursus tersebut. Dia masih ingin membagi ilmu, melahirkan generasi penerus di keroncong. Sebanyak-banyaknya. ”Rencananya pas wetonan saya (akan saya hidupkan lagi kursus itu, Red),” ungkapnya.

Editor : admin

Reporter : (*/c10/ttg)


Close Ads
Kepak Sayap ”Si Walang Kekek” Waldjinah setelah Kesehatannya Pulih