alexametrics

Persewaan Buku Melati di Surabaya yang Menolak Redup

2 Juli 2022, 07:48:17 WIB

Persewaan buku pernah berjaya hingga puluhan jumlahnya di Surabaya. Namun, kini tinggal beberapa nama yang masih menunjukkan eksistensinya. Berbeda di era misuwur-nya, persewaan itu kini berganti menjadi tempat nostalgia bagi orang yang ingin mengulang memorinya.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

BERJILID-JILID buku menutupi seluruh sisi tembok ruangan berukuran 2,5 x 3 meter itu. Tersusun rapi layaknya sebuah wallpaper yang enak dipandang. Dengan beragam sampul warna dan judul yang bagi sebagian orang terlintas masa lalu mereka.

Persewaan Buku Melati sudah 40 tahun berdiri. Tempat pinjam buku itu merupakan satu di antara sekian tempat sewa buku yang menolak untuk redup. Tahun milenium berhasil dilewati dan sekarang tempat tersebut berusaha bertahan di era industri digital 4.0.

”Kondisi dulu dan sekarang jelas beda. Tahun 2005 ke bawah, setiap hari Rabu orang-orang mengantre untuk pinjam buku. Karena hari itu jadwalnya buku-buku baru keluar, rebutan. Luar biasa ramainya,’’ kata Suhardi, pemilik Persewaan Buku Melati.

Dari 100 orang yang setiap hari datang ke persewaan di kawasan Pucang Sewu itu, kini tinggal 5–10 orang yang membawa pulang buku. Apalagi setelah ada pandemi, bahkan dalam sehari pernah tidak ada satu pun penyewa yang datang. Rasanya hampir mati, namun Suhardi tahu bahwa usaha yang sudah mampu menjadikan dua anaknya sarjana itu tidak boleh kukut begitu saja.

”Meskipun sekarang surut antara 4–5 orang saja, namun pelanggannya istimewa. Mereka orang-orang yang mengulang nostalgia. Datang bareng anaknya, ibu dan bapaknya pinjam buku, anaknya juga ikut pinjam,’’ ujar pria 54 tahun itu.

Kata Hardi, sapaan pemilik Persewaan Buku Melati, akhir-akhir ini mulai banyak muncul penggemar yang mau mengingat-ingat masa mudanya. Penyewa komik bukan lagi anak-anak, melainkan orang dewasa, bahkan lansia, juga banyak.

”Bahkan, sepekan lalu ada penyewa dari Kebraon yang meminjam komik dan novel. Tapi bukan untuk dia, ternyata untuk neneknya yang berusia 80 tahun. Benar itu kejadiannya. Si nenek kangen baca-baca novel dan komik,’’ ungkap Hardi dengan wajah semringah.

Novel karya Mira W., Maria A. Sardjono, kemudian komik Legenda Naga, Kungfu Boy, Koping Ho, Mahabharata. Itu merupakan sederet judul yang sedang naik daun sekarang. Rata-rata rindu membaca kisah lucu sambil berimajinasi. Meski sudah tahu plot dan ending-nya, penyewa ingin membaca ulang.

Agar tetap segar, jumlah komik juga terus ditambah. Terutama untuk seri yang belum tamat, seperti Legenda Naga dan Kungfu Boy. Dia bermitra dengan toko buku agar terus update.

”Kalau dulu saya boleh menunggu orang datang, tapi sekarang saya yang menghubungi mereka dulu. Saya sodorkan ratusan list judul buku koleksi saya, kemudian tinggal didata mintanya apa. Setelah itu, dikirim bukunya,’’ ungkap pria yang nyambi jadi driver ojek online itu.

Tarif sewa pun tidak berubah sampai sekarang, yakni 10 persen dari harga buku. Soal lama sewa, Hardi punya kebijakan yang sangat luwes. Sepekan, sebulan, atau berbulan-bulan silakan asal ada jaminan KTP.

”Eman untuk menutup usaha ini, langganan minta untuk dipertahankan. Di satu sisi, saya juga butuh pemasukan. Jadi, ya sekarang tempat sewa merangkap warung kopi. Beli kopi mau baca buku silakan, gratis,’’ ujarnya semangat. 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Saksikan video menarik berikut ini: