alexametrics

Desainer Novita Rahayu Purwaningsih Turun Tangan Menjahit APD

Kepala Dinas Perdagangan Terus Menyemangati
2 April 2020, 20:48:14 WIB

Banyaknya kebutuhan atas alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga kesehatan mendorong desainer ikut turun tangan. Mereka membantu menjahit APD. Tak terkecuali yang dilakukan desainer asal Surabaya ini. Bekerja dalam tenggat yang ketat.

MARIYAMA DINA, Surabaya

Novita Rahayu tak mau diam. Dia seperti tak ingin membuang waktu. Termasuk ketika Jawa Pos mewawancarainya pada Minggu (29/3). ’’Kita ngobrolnya sambil saya menjahit nggak apa ya?” ucap Novita saat ditemui di rumahnya di kawasan Kenjeran.

Rumah dua lantai itu memang tampak lengang. Namun, coba Anda naik ke lantai atas, termasuk ruang kerjanya. Di mana-mana ada tumpukan bahan. Perempuan kelahiran 24 November tersebut sedang menggarap pesanan APD milik pemkot. Dia hanya diberi tenggat sehari.

Pengerjaan APD Minggu itu merupakan pesanan kedua. Sebelumnya, dia menyelesaikan 215 set APD pada gelombang pertama.

’’Yang ini sudah pembuatan gelombang kedua. Kainnya baru datang kemarin (Sabtu sore, Red). Seharusnya selesai malam ini (Minggu). Tapi, saya minta keringanan jadi besok pagi (Senin),’’ jelasnya.

Untuk menggarap pesanan APD, Novita menjahit bersama enam pegawainya. Tentu agak lebih berat. Beda halnya dengan pesanan pertama. Dia mendapatkan bantuan penjahit dari usaha konfeksi kenalannya. ’’Soalnya, usaha konfeksi libur pada Minggu. Jadi, kami kali ini beneran kerja sendiri,’’ ujarnya sambil terus menjahit.

Ibu dua anak itu bercerita, sebenarnya banyak UKM binaan dinas perdagangan (disdag) yang ditawari untuk bisa membantu membuat APD. ’’Tapi, banyak yang bilang enggak sanggup karena memang waktunya pendek dan kuotanya banyak. Belum lagi, mereka harus mengerjakan pesanan dari pihak lain,’’ katanya.

Namun, Novita menyanggupi tawaran tersebut. Bagi dia, tawaran dari pemkot adalah tantangan tersendiri. ’’Awalnya, saya juga mikir. Tapi, saya ini kan punya kenalan banyak teman dan beberapa kerja sama dengan usaha konfeksi,’’ jelasnya.

Namun, penggarapan APD itu ternyata tak mudah. Kenalannya yang diharapkan membantu ternyata angkat tangan. Novita tak menyerah. Dia merayu teman-temannya untuk mau turun tangan. Sebab, dalam pandangannya, apa yang dia lakukan termasuk aktivitas kemanusiaan. Banyak petugas di rumah sakit yang membutuhkan APD tersebut. Dia tak bisa membayangkan bila banyak pasien yang tak tertangani gara-gara petugas medis kehabisan APD. Tentu persoalan pandemi bakal makin tak karuan.

’’Pokoknya, waktu itu saya coba rayu terus. Kan di gelombang pertama dikasih lima gelondong kain. Itu saya bagi, tiga gelondong di konfeksi dan dua gelondongnya di UKM saya,’’ terangnya.

Sampai-sampai, Kepala Disdag Kota Surabaya Wiwiek Widayati terus menemaninya. Wiwiek selalu memberi motivasi agar Novita mampu menyelesaikan tantangan tersebut. Wiwiek menyatakan bahwa apa pun yang dibutuhkan Novita akan dibantunya. ’’Bu Wiwiek di belakang saya terus. Sejak pagi sampai malam. Soalnya, beliau selalu ditanyai Bu Risma,’’ ungkapnya.

Namun, berkat kesungguhan dan kerja keras, dia berhasil menyelesaikan tantangan menjahit APD di gelombang pertama tersebut. Novita sampai ikut turun tangan. Sebab, pekerjaan yang dikuasakan pada usaha konfeksi kenalannya belum bisa dituntaskan. Novita tak tinggal diam. Dia mengerahkan penjahitnya untuk membantu pekerjaan yang belum rampung.

Saat dia mengejar target tersebut, ada saja hambatan yang harus dihadapi. Betapa tidak, saat perjalanannya dari tempat konfeksi ke rumahnya, Novita baru ingat bahwa kunci rumahnya dibawa salah seorang pegawai disdag yang sebelumnya mampir untuk mengambil ritsleting. Sampai-sampai, dia bingung bagaimana bisa masuk ke rumah. Hingga akhirnya, dia nekat masuk ke rumah dengan membongkar jendela. ’’Jadi, saya sibuk menjahit. Yang di bawah sibuk membetulkan jendela lagi. Wes rame banget pokoknya waktu itu,’’ ceritanya, lantas terbahak-bahak.

Perempuan yang pernah menerima beasiswa sekolah desain dari pemkot tersebut sangat senang bisa ikut membantu menjadi bagian melawan pandemi Covid-19. Terlebih saat APD-APD itu dipakai para petugas medis di garda terdepan. ’’Soalnya, ini saja yang mungkin sesuatu yang bisa saya bantu dan berikan. Selama masih bisa dan bermanfaat, pasti saya bantu,’’ tuturnya.

Novita tak mempermasalahkan berapa pun upah dalam pembuatan APD tersebut. ’’Berapa pun enggak masalah,’’ tegasnya.

Dia menjelaskan, sementara ini memang banyak pesanan untuk baju-baju pengantin dari kliennya yang belum tergarap. Novita sedikit terbantu waktu karena banyak acara resepsi pernikahan yang juga tertunda. ’’Banyak yang acara resepsinya ditunda karena wabah ini juga. Jadi, saya masih punya waktu untuk bantuin buat APD,’’ terangnya.

Selain itu, Novita bercerita bahwa Pemkot Surabaya ingin dirinya tetap bisa membuat APD setiap hari. Pemkot menargetkan Novita mampu menjahit 150 APD dalam sehari. ’’Sampai-sampai, saat tertidur pun, saya terus teringat wajah Bu Risma. Hahaha. Tapi, kalau banyak yang bantu, sebenarnya mungkin bisa lebih ringan,’’ ucapnya.

Langkah Novita Rahayu mungkin bisa menginspirasi pengusaha konfeksi lainnya. Bila mereka mau bahu-membahu, penanganan virus korona jenis baru (Covid-19) tentu akan lebih baik lagi.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git



Close Ads