
SALING MENGUATKAN: Maureen Hitipeuw (tengah) bersama anggota komunitas Single Moms Indonesia dalam sebuah kegiatan pemberdayaan.
”Sampai tahun 2012, aku diundang di acara Mommies Daily, yang bikin buku antologi single moms. Di sana, launching buku malah jadi momen sharing session, haha,” katanya.
Tapi, hal itu belum jadi pemantik dirinya membuat komunitas yang kini sudah memiliki sekitar 8 ribu anggota tersebut. Waktu itu, dia masih fokus pada dirinya sendiri untuk bangkit.
Butuh dua tahun hingga akhirnya dorongan itu muncul. ”Akhirnya bikinlah Facebook group. Tujuannya, benar-benar supaya punya wadah ngobrol, bisa curhat dengan bebas tanpa takut dihakimi,” papar alumnus Interstudy School of Public Relation itu.
Dalam grup privat tersebut, semua ibu tunggal, calon ibu tunggal, atau mantan ibu tunggal diperkenankan bergabung. Terbuka pula bagi mereka yang ditinggal pasangannya berpulang dan single mom by choice.
Tak ada persyaratan khusus, hanya mengisi formulir yang di dalamnya berisi ketersediaan mengikuti aturan yang dibuat. Salah satunya, menjaga kerahasiaan dari apa yang diceritakan oleh anggota di grup.
Maureen pernah kecolongan. Di awal terbentuknya komunitas itu, ada salah satu anggota yang dengan sengaja men-screenshot curhatan dari anggota lain. Parahnya, curhatan tersebut diadukan pada calon mantan suami dari pemberi cerita yang sekantor dengannya. ”Itu aku murka banget. Apalagi suaminya ada tendensi kekerasan, kan aku takut dia diapa-apain,” ungkap pemegang sertifikat meta certified community manager itu.
Lambat laun, ibu satu anak ini menyadari bahwa kegiatan curhat di grup saja tak cukup. Para member komunitas kudu diajak untuk bangkit dan berdaya.
Apalagi, masalah ibu tunggal itu berlapis. Mendapat stigma, juga harus berjuang dengan patah hati dan traumanya. Belum lagi, ditinggal mantan suami yang kabur begitu saja tanpa melaksanakan kewajibannya kepada anak.
Pada 2017, Maureen mulai putar otak untuk bisa membantu para single moms ini. Di tengah keterbatasan dana, dia terpikir mengadakan sesi webinar dengan sejumlah pakar. Mulai dari psikolog hingga para ahli bisnis.
Kini, minimal sebulan dua kali, SMI rutin mengadakan acara untuk pemberdayaan ibu tunggal, baik secara psikologis maupun finansial. Ada pula kelas bucin yang tak sekadar memberi dukungan kepada para ibu tunggal memulai hubungan kembali. Tapi, lebih kepada mendorong agar tahu hidup mereka mau dibawa ke mana.
”Karena ibu tunggal itu rapuh. Jadi, kalau kita secure sama diri sendiri, pasti alarm kita pasti bunyi saat ketemu orang nggak baik,” jelasnya.
Sembilan tahun bergelut dalam dunia komunitas tersebut, asam garam telah dirasakan Maureen. Dia pernah merasakan patah hati berat saat dikhianati salah satu pengurus.
Tapi, itu tak membuatnya jatuh terlalu lama. Dia sadar betul, banyak manfaat yang diterima oleh anggota komunitas ini. Salah satunya saat mereka saling menguatkan hingga berhasil menggagalkan niat salah satu ibu tunggal yang ingin bunuh diri lantaran tak sanggup menghadapi masalah.
”Akhirnya Puji Tuhan gak jadi. Sampai beberapa tahun selanjutnya, aku dengar anak ini sedang kuliah S-2 dan bilang kalau gak kenal SMI, mungkin dia udah gak ada,” kenangnya.
Rahmaningtyas juga merasakan betul dampak positif setelah bergabung dalam komunitas tersebut. Perempuan 32 tahun itu menemukan teman-teman yang sangat paham atas kondisinya tanpa ada penghakiman.
