Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 April 2023 | 19.54 WIB

Kisah Surtini Merantau ke Jakarta 3 Dasawarsa: Ke Wonosobo Aku Kan Kembali…

Jakarta masih menjadi kota yang molek bagi para kaum urban sebagai jalan pintas untuk mengubah nasibnya. Daya tariknya begitu luar biasa, sehingga jutaan orang rela berbondong-bondong meninggalkan desa-nya demi meraih pundi-pundi rupiah meskipun nilainya tak seberapa. Setelah satu tahun lamanya merantau di Jakarta, tiba saatnya mereka mudik ke kampung halaman untuk mengobati rasa rindunya dengan sanak famili dan handai tolan.

Surtini,51, saat menunggu bus di Terminal Pulo Gebang, Minggu (16/4) sore

Oleh: Tazkia Royyan Hikmatiar, Jakarta


JawaPos.com - SOROT mata Surtini, 51, tajam bak burung Elang menatap deretan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang berdiri kokoh di hadapannya menunggu penumpang. Tak ada kata yang dia ucapkan dan tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan paruh baya itu pada Minggu (16/4) sore.

Sore itu, hujan baru mereda setelah beberapa saat jalanan Kota Jakarta diguyur hujan. Bau tanah yang terguyur air hujan masih terasa. Namun tak menyurutkan para pemudik bergegas ke Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur. Tak terkecuali dengan Surtini dan keluarganya.

Dengan posisi duduk di kursi besi tempat menunggu penumpang, sesekali pandangannya teralihkan oleh aksi cucunya yang masih berusia lima tahun.

Surtini sudah tak tahu persisnya ia menginjakkan kaki di Kota Megapolitan Jakarta. Yang pasti, sejak tahun 90-an, saat masih gadis, ia memutuskan untuk menjejak wilayah baru dari tanah kelahirannya di Wonosobo, Jawa Tengah. Tujuannya satu, yaitu mencari hidup yang lebih baik lagi.

"Nyari duit susah di Wonosobo. Apalagi dulu. Kalau sekarang Dieng udah rame ya. Dulu mah susah, makanya merantau aja. Udah keenakan merantau," ujarnya saat berbincang dengan JawaPos.com.

Kerudung putihnya ikut bergetar karena tawanya saat mengatakan itu. Baginya, tempat asing bernama Jakarta sudah menjadi topik yang menyenangkan untuk ditertawakan. Berbagai kerjaan mulai dari pembantu hingga usaha kecil-kecilan sudah pernah dilakoninnya. Kini, ia kembali ke posisi awal, menjadi Asisten Rumah Tangga (ART). Tepatnya, ia memasak makanan untuk majikannya yang kini mengalami stroke.

"Masakin orang stroke. ART. Sementara saya mudik, catering itu. Jadi saya pamitan dulu, terus pesan catering," ungkapnya.

Meski dengan penghasilan yang tak seberapa, ia mengaku sudah betah di Jakarta. Sebagai buktinya, di sinilah ia menemukan cintanya, suaminya. Padahal, suaminya pun orang perantauan juga. Asli Solo.

"Dulu dari gadis, terus nikah ya tetap Jakarta. Ampe punya anak, anaknya nikah masih di Jakarta. Suami asli orang Jawa, orang solo. Ketemu di Jakarta," tutur Surtini lagi-lagi dengan tawanya.

Jakarta merupakan kota yang sangat berkesan baginya. Namun begitu, darah Wonosobo-nya tak dapat raib. Itu sebabnya hingga kini ia sekeluarga masih juga mengontrak di Pulo Gebang, Jakarta Timur. Uang yang dikumpulkannya justru malah untuk membangun rumah di kampung halamannya yang dikunjungi setahun sekali.

"Tapi anak saya satu lagi kan sekolah di sana. Pesantren," kata perempuan berumur setengah abad itu.

Buah hatinya itulah yang menjadi satu dari sekian alasan betapa pun nyamannya Surtini tinggal di Jakarta, Wonosobo tetap tempat pulangnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore