Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 April 2022 | 14.48 WIB

Eka Hardianti Suteja, Satu-satunya Driver Perempuan di Suroboyo Bus

DRIVER KARTINI: Eka Hardianti Suteja mengemudikan Suroboyo Bus. Eka ingin perempuan bisa tampil di segala bidang. (Eka Hardianti untuk Jawa Pos) - Image

DRIVER KARTINI: Eka Hardianti Suteja mengemudikan Suroboyo Bus. Eka ingin perempuan bisa tampil di segala bidang. (Eka Hardianti untuk Jawa Pos)

Eka Hardianti Suteja berjuang keras melawan stigma yang melekat di masyarakat. Bahwa menjadi driver alias sopir adalah domain kaum laki-laki. Baginya, perempuan juga mampu menjalani pekerjaan apa pun tanpa mengubah kodrat sebagai seorang ibu.

UMAR WIRAHADI, Surabaya

KITA dapat menjadi manusia seutuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.’’ Kutipan itu melekat kuat di benak Eka Hardianti Suteja. Kalimat tersebut digoreskan Raden Ajeng Kartini dalam secarik surat yang dikirim kepada Nyonya Abendanon pada Agustus 1900. ”Kutipan Kartini ini jadi inspirasi saya menjalani pekerjaan sebagai driver Suroboyo Bus,’’ tutur Eka kepada Jawa Pos, Senin lalu (25/4).

Eka satu-satunya perempuan yang menjadi driver Suroboyo Bus. Dia mulai bekerja sejak Februari 2020 melalui serangkaian tes. Mulai interview, psikotes, hingga test drive. Semua tahapan seleksi dilalui dengan mulus. Sampai saat ini semua rute Suroboyo Bus sudah pernah dijajal. ”Motivasi utama saya adalah anak. Karena saya kan tulang punggung keluarga,’’ ujar perempuan 31 tahun itu.

Dia bilang, bekerja sebagai driver Suroboyo Bus sangat nyaman. Sebagai sopir perempuan, dia merasa dihargai.

Para penumpang, baik wisatawan maupun penumpang lokal, sangat ramah. Dia paling terkesan dengan penumpang ibu-ibu yang kerap mengajak guyon di dalam bus. ”Karena driver cewek kan jarang ya. Jadi, banyak yang ngajak selfie,’’ ujar Eka, lalu tersenyum.

Sebelum menjadi driver Suroboyo Bus, Eka lebih dulu bekerja sebagai sopir taksi. Dia bekerja di perusahaan transportasi itu sejak 2018 sampai 2020. Tidak mudah bagi ibu satu anak tersebut menjalani pekerjaan yang sangat identik dengan laki-laki itu.

Selain menguras tenaga, mental dan psikis harus tahan banting. Dibutuhkan kebulatan tekad untuk bisa bertahan. Eka sering ngetem menunggu penumpang di Stasiun Gubeng dan Stasiun Pasar Turi. Dia terbiasa menunggu penumpang kereta eksekutif yang tiba di stasiun subuh.

”Tidur ya di stasiun. Menunggu sampai pagi,’’ ujarnya.

Pertahanan mental Eka Hardianti sering diuji ketika dirinya menjadi objek ledekan. Baik oleh rekan sesama karyawan sopir maupun tetangga rumahnya. Banyak yang mempertanyakan pilihannya sebagai driver taksi karena Eka adalah perempuan. ”Heran saja kok saya jadi sopir taksi. Sebagai wanita, apa tidak ada pekerjaan lain? Tapi, dasarnya saya memang suka nyetir,’’ tutur ibu satu anak itu.

Namun, Eka memilih tidak memedulikan sorotan miring itu. Di zaman emansipasi ini, perempuan juga bisa mengerjakan profesi yang sama dengan pria. ”Bagi saya, tugas perempuan tidak hanya seputar sumur, dapur, dan kasur. Kalau mampu menangani urusan publik, kenapa nggak?’’ tegas sarjana ekonomi alumnus STIE Urip Sumoharjo Surabaya itu.

Pernah suatu waktu dia mendapat pelecehan verbal dari driver laki-laki. Eka dikirimi gambar dan video tidak senonoh ke ponselnya. Karena merasa dihina harga dirinya, dia melapor ke HRD perusahaan. Driver yang bersangkutan pun dijatuhi sanksi berupa skors dari perusahaan. Yang bersangkutan tidak boleh bekerja selama tiga pekan. ”Sampai waktu itu ramai di kantor,’’ ujarnya.

Atas laporan tersebut, Eka mendapat teror dan ancaman fisik. Tapi, dia tidak mau kalah. Perempuan asal Magelang itu kemudian melapor ke pihak kepolisian. ”Sampai sekarang tidak berani lagi,’’ ungkapnya.

Oleh penumpang pria, dia juga pernah menjadi sasaran celaan. Biasanya dilakukan oleh penumpang mabuk yang baru pulang dari kelab malam. Karena selain di stasiun, kala itu Eka juga sering ngetem di mal dan beberapa tempat hiburan. Motivasinya adalah kejar target agar mendapat fee lebih banyak dari perusahaan. Tidak jarang, Eka mendapat pelecehan verbal dari penumpang.

”Dasar orang mabuk mungkin ya. Jadi, telinga harus tebal,’’ ucapnya.

Kini dengan bekerja sebagai sopir Suroboyo Bus, dia memiliki lebih banyak waktu buat keluarga. Sebab, di transportasi publik milik pemkot itu, dia bekerja lima hari dan libur dua hari. Jam operasional sampai pukul 22.00 juga membuatnya bisa pulang lebih cepat untuk bertemu anaknya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore