Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Mei 2017 | 00.13 WIB

Kisah Joko Darmaji, Penjaga Mercusuar Berusia 148 Tahun di Pulau Sebira

Joko operator mercusuar di puau sebira, Kepulauan Seribu, Jakarta. - Image

Joko operator mercusuar di puau sebira, Kepulauan Seribu, Jakarta.

JawaPos.com - Dedikasi Joko Darmaji tanpa batas. Sejak 1990, dia tetap gagah menjaga mercusuar di pulau-pulau jalur dagang antar perairan. Kini, menginjak usia 58 tahun dan menjelang purnabakti, Joko setia merawat mercusuar warisan Belanda di Pulau Sebira.

MUHAMMAD SUBADRI JARAWADU

SEKUJUR tubuh wartawan Jawa Pos gemetar hebat saat menaiki anak tangga sebuah mercusuar di Pulau Sebira. Otot betis dan lutut ini seakan kaku saat menginjak satu per satu anak tangga berusia 148 tahun itu. Secara kasat mata, konstruksi tangga besi tersebut terlihat masih kukuh meski berkarat di beberapa bagian.

Tak lama, tawa Joko pecah. "Segitu aja kok takut, Anak Muda," ujar pria asal Pekalongan itu. Dia tak kuasa lama-lama menahan tawa. Joko kemudian memandu wartawan koran ini hingga ke puncak mercusuar. Menakjubkan. Di ujung bangunan itu, keindahan terbentang sejauh mata memandang.

Tambah cantik setelah senja menyambut, menutup siang. Seantero Pulau Sebira tampak jelas. Dari atas menara tersebut, terlihat kilang-kilang minyak yang kukuh di tengah laut. Perahu-perahu yang terlihat begitu kecil hilir mudik di pelupuk mata.

"Kalau sudah sampai naik ke mercusuar, baru lulus. Kalau belum naik, belum terhitung pernah ke Sebira," ucap pria penyuka soto pekalongan tersebut.

Mercusuar yang dibangun Raja Belanda Z.M. Willem III pada 1869 itu tampak masih kukuh. Menjulang. Mercusuar tersebut merupakan saksi bisu hegemoni penjajah di tanah Batavia. Tembok-tembok dan seluruh bagian bangunan setinggi 48 meter itu seperti tak lelah bercerita tentang kapal-kapal penjajah yang hilir mudik di perairan Teluk Jakarta. "Ini navigasi buat keamanan pelayaran orang Belanda. Kalau di darat, rambu-rambu lah, buat patokan," kata Joko.

Otot kaki, lutut, dan sekujur tubuh pria 58 tahun tersebut mungkin sudah terbiasa naik turun mercusuar. Karena itu, Joko masih lincah saat menapaki satu per satu anak tangga. Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai anak tangga ke-210 di puncak mercusuar. "Saya tiap hari naik turun mercusuar. Kadang-kadang, saya bawa beban. Biasa saja. Masih kuat kok bangunan ini," ujarnya.

Setelah penjajah diusir dari tanah Indonesia, mercusuar itu berada di bawah kewenangan Direktorat Perhubungan Laut Kemenhub. Jauh sebelum era global position system (GPS) dan kompas, mercusuar setinggi 48 meter itu merupakan satu-satunya penuntun jalur pelayaran kapal-kapal. Misalnya, kapal Belanda dari Bangka dan Singapura yang hendak masuk Pelabuhan Tanjung Priok. "Sampai sekarang, jadi rujukan perjalanan walaupun pilihannya makin banyak," ucap pria tiga anak tersebut.

Karir Joko sebagai penjaga mercusuar teramat lama. Lebih dari 27 tahun atau sejak 1990. Uban yang memutihkan rambut hitamnya menjadi bukti otentik perjalanannya. Dia telah menjaga mercusuar di beberapa pulau. Karena itu, dia hafal karakter setiap pulau tempat dirinya bertugas. Bahkan, Joko sering ditugasi di pulau tak berpenduduk. Stres dan kesepian kerap menghantui.
Kejadian-kejadian mistis juga sering mengganggu saat malam. Namun, dia bertahan. Tugas tak bisa ditolak. Mundur dari tugas sama dengan mengkhianati pilihan hidup. "Mungkin karena sudah sering menemukan hal-hal mistis, lama-lama yang mistis itu malah takut lihat saya. Udah nggak mempan," katanya lalu terkekeh.

Untuk mengusir sepi, petugas jaga di-rolling tiga bulan sekali. Petugas di satu pulau ditukar ke pulau lain. Termasuk Joko. Namun, tiga bulan di pulau tanpa penduduk bukan waktu yang singkat. Bagi "kuncen" mercusuar level pemula, tiga bulan pertama bisa menjadi seperti neraka. Ujian berat datang dari rasa jenuh. Sangat menyiksa. Satu-satunya penghibur adalah nelayan yang mampir atau singgah di pulau saat badai datang. "Saat itu, baru nitip belanja di pasar walau bekal dari kantor ada," terang Joko.

Selama berkarir sebagai penjaga mercusuar, dia tidak pernah mengagendakan liburan atau pulang ke rumah. Satu-satunya yang bisa membuatnya pulang ke rumah adalah momen tertentu. Misalnya, pernikahan anggota keluarga atau Lebaran. Liburannya pun tak bisa lama. "Apalagi yang bertugas saya sendiri. Jadi, nggak bisa lama-lama," jelas Joko.

Di antara pulau-pulau yang pernah disinggahi, hanya Pulau Jaga Utara alias Pulau Sebira yang memberikan kesan kepada Joko. Bukan karena dekat dengan keluarga di Bekasi, melainkan dia bertugas paling lama di Pulau Sebira. Selain itu, Sebira merupakan pulau terakhir yang dijaga Joko sebelum pensiun. "Saya pensiun Oktober tahun ini. Sudah dua tahun saya tidak dipindah dari pulau ini," paparnya.

Joko menambahkan, penghuni Pulau Sebira juga ramah. Pulau tersebut pun memiliki masjid meski terisolasi. Di pulau itu, dia masih bisa tertawa geli ketika melihat warga dan para remaja ngemper di balik tembok kantornya. Mereka duduk sambil menikmati fasilitas wifi gratis. Dari situ, banyak kisah cinta yang terangkai, baik antar pengguna wifi maupun teman chatting. Ada ekspresi puas di wajah mereka. "Nggak ada password. Jadi, mereka berjajar di belakang tembok ini," ungkap sambil menunjuk salah satu sisi tembok di kantornya.

Joko sangat mencintai profesinya. Namun, dia tidak ingin anak dan cucunya mengikuti jejak tersebut. Cukup dirinya yang menjadi penjaga mercusuar peninggalan Belanda. "Jangan lah kalau bisa," ujarnya lalu tertawa.

Setelah pensiun dari penjaga mercusuar, Joko tampaknya akan mendapat jabatan baru. Warga di kompleks rumahnya di Bekasi tak pernah berhenti menanyakan waktu pensiunnya. Sejak belasan tahun lalu, warga di sana meminta Joko menjadi ketua RT. Namun, dia selalu menolaknya. "Saya selalu bilang, ya silakan aja kalau warga mau. Tapi, kalau butuh tanda tangan, ke pulau ya," katanya. Tentu, "prosedur" tersebut cukup berat.

Namun, jawaban itu sebentar lagi tak berlaku. Dia tak bisa menolak jabatan ketua RT di tempat tinggalnya setelah purnabakti pada Oktober. Jadi, sebelum resmi pensiun dan menjabat ketua RT, warga ramai-ramai mengucapkan selamat kepada Joko. Ya, selamat datang, ketua RT baru. "Saya kehilangan alasan (untuk menolak jadi RT, Red)," ucapnya lalu tersenyum. (*/co1/ilo/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore