JawaPos Radar

Atlet Paralayang Korban Gempa Sulteng

Keluarga Fahmi R Rizky Masih Trauma Menonton Televisi

01/10/2018, 15:03 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Korban Gempa Sulteng
HILANG: Serda Fahmi, atlet paralayang yang hilang saat gempa bumi di Kota Palu. (Instagram @fahmiruddo)
Share this

Serda Fahmi R Rizky merupakan salah satu atlet paralayang yang mengikuti kejuaraan tingkat internasional di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Hotel Roa-roa tempatnya menginap, rata dengan tanah setelah diguncang gempa bumi berkekuatan 7,4 SR. Kini, keluarga menunggu kepastian nasib anak sulungnya.

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

Suasana rumah Fahmi di kompleks Perumahan Kertanegara, Lanud Abdulrachman Saleh, Singosari, Kabupaten Malang, tampak lengang pada Senin (1/10) siang. Hanya ada satu motor terparkir di bawah pohon mangga, samping rumah bercat biru muda itu.

Korban Gempa Sulteng
BERUSAHA TEGAR: Bambang, ayah Fahmi menunjukkan postingan terakhir anaknya di Instagram. (Tika Hapsari/JawaPos.com)

Ada tiga orang laki-laki duduk di depan teras rumah Fahmi. Salah satunya Peltu Dwi yang merupakan tetangga dekat Fahmi. "Bapak ibunya ada di dalam. Tapi masih shock setelah kejadian itu (kabar gempa di Palu)," kata Dwi kepada JawaPos.com.

Sejak mendapatkan kabar bahwa Fahmi yang juga anggota Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh belum ditemukan usai gempa, kedua orang tuanya lebih banyak menutup diri. Mila (ibu Fahmi) dan Peltu Bambang Tri (ayah Fahmi) menjadi sedikit irit bicara. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dan kamar.

Keduanya tampak terpukul dengan kejadian ini. Belum lagi tidak ada sepotong kabarpun yang menenteramkan hati mereka. "Namanya orang tua, pasti shock. Apalagi anak mereka tidak bisa dihubungi. Belum tahu kondisi anak, jadi bingung. Mereka banyak diam," cerita Dwi.

Awalnya, mereka tahu kondisi di Palu tempat Fahmi akan berlaga dalam kejuaraan paralayang cross country tingkat internasional dari federasi paralayang. Utusan federasi mengabarkan adanya musibah pada Jumat (28/9) malam. Saat itu, keluarga masih berpikiran positif soal Fahmi.

Namun hingga Sabtu (28/9), kabar baik belum kunjung didapatkan. "Sabtu sudah mulai kepikiran. Keluarga dan rekan kerja terus berdatangan memberikan dukungan moral. Menguatkan orang tua," imbuhnya.

Apalagi setelah melihat di tayangan televisi soal kondisi Hotel Roa-roa tempat Fahmi menginap. Hotel ini rata dengan tanah. Hati kedua orang tua lulusan SMK Penerbangan Angkasa, Singosari itu semakin kecut. Bahkan, keluarga Fahmi menjauhkan televisi dan tidak ingin menonton tayangannya. "Masih trauma, jadi televisi dimatikan dulu. Hati orang tua mana yang nggak sedih," cetus Dwi.

Di depan rumah atlet paralayang Dinas Potensi Dirgantara (Dispotdirga) TNI AU itu terpasang tenda biru. Sementara setumpuk kursi plastik diletakkan di pojok teras.

Pemandangan itu seolah menyiratkan bahwa di rumah tersebut akan diadakan tahlilan, istighosah atau semacam doa bersama. Benar saja, di rumah ini memang menggelar kirim doa bersama sejak Minggu (30/9) malam.

Mashudi, 67, kakek Fahmi menjelaskan, kegiatan pembacaan istighosah dan Yasin bukan untuk mengharapkan hal buruk terjadi. Tapi ini adalah upaya atau ikhtiar untuk keselamatan dan kabar baik dari Fahmi.

Menurut Mashudi, cara ini juga ditempuh keluarga agar mereka diberi kekuatan dan keikhlasan oleh Allah jika ada hal buruk terjadi. "Cara ini agar kami diberi petunjuk Allah, diberi kekuatan dan keikhlasan. Bukan untuk mengharapkan hal buruk," imbuh laki-laki asal Nongkojajar itu.

Sementara itu kondisi ayah Fahmi, Peltu Bambang Tri tidak jauh berbeda dengan yang diceritakan Dwi. Setelah JawaPos.com menunggu sekitar setengah jam, akhirnya Bambang keluar.

Mengenakan kaos warna merah dan celana berbahan kain warna gelap, anggota Lanud Abdulrachman Saleh itu keluar dari ruang tamu dan bergabung bersama kami di teras.

Meskipun Bambang berusaha terlihat biasa, namun sebersit duka tidak bisa sirna begitu saja dari wajahnya. Kantong matanya besar, seolah menahan tangis yang begitu lama.

Matanya merah, beberapa kali ketika bercerita soal anak kebanggaannya itu, netra tuanya berkaca-kaca menahan tangis. Tidak jarang dia juga tersenyum jika cerita soal Fahmi. Namun siapa pun yang melihat tahu bahwa seulas senyum itu dipaksakan, hanya untuk mengusir kegundahan.

Bambang mengaku sempat mengantarkan Fahmi yang hobi kegiatan outdoor itu bertemu dengan kontingen paralayang, Minggu (23/9). Dia mengantarkan si sulung sebelum berangkat ke Bandara Juanda untuk bertolak ke Palu.

Tidak ada yang aneh saat itu. Bambang hanya berpesan agar Fahmi hati-hati dan selalu menjaga keselamatan. Seperti biasa ketika Fahmi hendak tugas keluar, anaknya itu juga mengangguk dan menyanggupi pesan sang ayah.

Bahkan istri Bambang, Mila, juga tidak memiliki firasat apapun sebelum anaknya berangkat ke Palu. Padahal hubungan Mila dan Fahmi jauh lebih dekat jika dibandingkan dengan Bambang. "Nggak ada perasaan apa-apa, biasa saja. Cium tangan pamitan seperti itu saja," kata Bambang.

Namun Jumat (28/9) sore, Fahmi update di story WhatsApp soal gempa yang mengguncang Palu. Dia sempat berkomunikasi sebentar dengan ibunya. Seperti biasanya, Mila berpesan agar Fahmi hati-hati. Juga berdoa agar laki-laki yang sudah menjadi atlet paralayang selama tiga tahun itu dalam lindungan Allah.

Salah seorang kerabatnya, Made, juga sempat telepon Fahmi. Kepada Fahmi, Made berpesan agar laki-laki yang aktif di organisasi itu selalu berhati-hati. "Dia sempat tertawa saat komunikasi dengan Made. Tapi setengah jam kemudian koneksi komunikasi terputus. Kami tidak bisa menghubungi hingga sekarang," ungkapnya.

Bukan tanpa usaha, keluarga terus mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk mengetahui kondisi Fahmi. Mulai dari mengubungi kerabat yang merupakan salah satu Forkopimda Palu, berkoordinasi dengan SAR Kota Batu, dan kekuatan lain untuk mengetahui kondisi Fahmi. Namun upaya mereka belum membuahkan hasil. Mereka percaya bahwa tim pencari akan segera dapat menemukan anaknya.

Sementara di akun Instagram Fahmi, @fahmiruddo, dia sempat update beberapa saat sebelum kejadian. Dalam postingan fotonya, tampak anggota TNI AU berparas tampan itu tengah mengenakan kaos warna hitam dan menikmati secangkir kopi.

Caption foto itu berbunyi 'saiki kowe lungo mblenjani janjimu. Ninggalke loro ning njero dodo. Ora masalah (sekarang kamu pergi mengingkari janjimu. Meninggalkan sakit di dalam dada. Tidak masalah)'.

Banyak komentar di postingan itu. Semuanya berharap agar laki-laki yang baru saja mengikuti kejuaraan paralayang di Manado itu untuk segera pulang dalam kondisi selamat. Jika tidak ada bencana, Fahmi dijadwalkan pulang ke rumah dari kejuaraan di Palu pada Selasa (2/10) besok.

(tik/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up