alexametrics

Bekas Pos yang Dulu Dibakar Belanda Itu Menunggu Kejelasan

1 Agustus 2022, 12:50:08 WIB

Menengok Progres Pembangunan Tol Jogjakarta–Bawen dan Tol Solo–Jogjakarta

Ahli waris cagar budaya di seksi I tol Jogjakarta–Bawen berharap segera ada studi teknis untuk pemindahan bangunan bersejarah tersebut. Di jalan tol Solo–Jogja nanti ada jalur khusus sepeda di pinggir sisi utara.

WULAN Y., SlemanANGGA P., KlatenRAGIL L., Boyolali

BUNGAH benar Riyanto. Sudah mendapat ganti untung dari proyek tol Jogjakarta–Bawen seksi I, dia juga tak perlu pindah jauh dari tempatnya semula. Bahkan masih berada dalam satu rukun tetangga (RT). ”Senang bisa membangun rumah lebih bagus, lebih kukuh, bahkan lebih luas,” kata Riyanto kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Untuk lahannya seluas 409 meter persegi, warga Padukuhan Sanggrahan, Kelurahan Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, itu menerima ganti untung Rp 2,5 miliar. Dia lantas menggunakan sebagian uangnya untuk membeli lahan seluas 617 meter persegi yang ditempatinya.

”Begitu ada patok tol itu, saya ditawari dan iyakan. Ibu saya sekarang senang dan nyaman. Tetangga juga masih seperti dulu,” ungkapnya ketika ditemui Minggu (24/7) pekan lalu di rumah barunya.

Jalan tol Jogjakarta–Bawen merupakan proyek strategis nasional yang memiliki panjang 75,82 kilometer dan melewati dua provinsi, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dan Jawa Tengah. Jalan tol tersebut akan terkoneksi dengan jalan tol Semarang–Solo dan jalan tol Solo–Jogjakarta–Bandara YIA. Membentuk segitiga emas yang digadang-gadang dapat mendongkrak perekonomian.

Nilai investasi pembangunan tol mencapai Rp 14,26 triliun. Desain konstruksinya terdiri atas at grade sepanjang 69,51 kilometer dan elevated 6,31 kilometer.

Sebagian besar ruas jalan tol Jogjakarta–Bawen melewati Jawa Tengah sepanjang 68,7 kilometer dan sisanya 7,65 kilometer berada di wilayah DIJ. Seksi I dan II merupakan wilayah DIJ. Seksi III–VI masuk wilayah Jawa Tengah.

Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Jogja, di lokasi seksi I (Sleman–Banyurejo) sudah dimulai tahap pembersihan dan pengerasan tanah. Rencananya, seksi itu dibangun sepanjang 8,25 kilometer. Alat berat traktor mondar-mandir mengeruk tanah di bawah latar langit biru cerah, tetapi berdebu. Suaranya gaduh seperti berteriak dan memamerkan tenaganya yang kuat.

Bergeser ke Padukuhan Pundong II, Kalurahan Tirtoadi, ada satu rumah limasan yang tercatat sebagai cagar budaya. Status bangunan tersebut masih menunggu kejelasan relokasi. Sementara, kanan dan kiri bangunan sudah rata dengan tanah.

”Sebagai warga negara, kami taat mendukung proyek nasional. Tetapi, ini tidak ada kejelasan relokasi dan gantinya seperti apa,” ujar Widagdo Marjoyo, salah seorang ahli waris, di rumahnya Kamis (28/7).

Limasan itu bernama Ndalem Mijosastran dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya rumah tradisional limasan. Ndalem Mijosastran mendapatkan piagam penghargaan dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X tercatat nomor 136/PG/2015 tanggal 1 Desember 2015. Juga tercatat pada SK Bupati Sleman Nomor 14.7/Kep KDH/A/2017 tanggal 6 Februari 2017.

Ndalem Mijosastran memiliki sejarah panjang pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Dibangun kakek Widagdo bernama Mbah Mangundimejo yang saat itu menjabat lurah Pundong. Kemudian, bangunan itu diwariskan kepada orang tua Widagdo bernama Mijosastro yang merupakan lurah Tirtoadi pada 1946.

Bangunan tersebut pernah difungsikan sebagai pos tentara Indonesia ketika agresi militer Belanda di Jogjakarta. Tempat menyimpan logistik yang kemudian dibakar Belanda. Lalu, dibangun kembali menyerupai bentuk aslinya pada 1958.

”Kami sudah setuju bangunan dipindahkan dan sudah ada tempat di Pundong I milik adik. Harapannya, rumah ini tetap lestari. Kan cagar budaya juga memiliki nilai sejarah,” katanya. Widagdo berharap perpindahan bangunan bersejarah itu dapat segera dilaksanakan. Tentunya dengan serangkaian studi teknis dan harapannya biaya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.

Sementara itu, pembebasan lahan untuk proyek jalan tol Solo–Jogja terus dilakukan panitia pengadaan lahan. Total, ada 1.967 bidang tanah di Klaten yang telah dibebaskan untuk proyek strategis nasional tersebut. Sementara itu, di Boyolali sudah ada 776 bidang tanah yang dikompensasi. Saat ini tersisa 128 bidang yang masih dalam proses pembebasan.

”Pembebasan lahan untuk jalan tol sudah dilakukan di 31 desa di delapan kecamatan. Capaian pembebasan lahan sudah 56 persen dari total sekitar 4.000 bidang tanah terdampak tol di wilayah Klaten,” jelas Kepala Seksi Pengadaan Tanah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Klaten Sulistiyono kepada Jawa Pos Radar Solo pada Minggu (24/7) pekan lalu.

Lebih lanjut, pria yang akrab dipanggil Sulis itu mengungkapkan, delapan kecamatan yang lahannya sudah dibebaskan untuk jalan tol, antara lain, Delanggu, Polanharjo, dan Ceper. Juga Kecamatan Ceper, Karanganom, Ngawen, Kebonarum, Karangnongko, dan Jogonalan.

Bangunan cagar budaya Ndalem Mijosastran di seksi tol Jogjakarta-Bawen (28/7). (JAWA POS RADAR JOGJA)

Secara keseluruhan, ada 50 desa di 11 kecamatan di Klaten yang dilintasi jalan bebas hambatan tersebut. Sulis menjelaskan, jika panitia pengadaan lahan untuk jalan tol Solo–Jogja telah mengajukan pencairan sebanyak 2.201 bidang atau Rp 2,20 triliun ke Lembaga Manajemen Aset Negara untuk pencairan kompensasi bagi warga terdampak pembangunan tol di Klaten. Namun, yang baru cair adalah 1.967 bidang tanah atau sekitar lebih dari Rp 1,7 triliun. ”Insya Allah, tahun ini pengadaan lahan untuk jalan tol Solo–Jogja kami selesaikan. Apalagi, kegiatan untuk pengerjaan fisik sudah dimulai,” kata Sulis.

Nanti ada tiga exit toll jalan tol Solo–Jogja yang dibangun di wilayah Klaten. Yaitu, exit toll Karanganom, Ngawen, dan Prambanan. Ditambah dua rest area tipe A yang nanti dibangun di Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko, dan Manjungan, Kecamatan Ngawen.

Rencananya, dibangun jalur khusus sepeda di jalan tol Solo–Jogja yang merupakan usul Pemkab Klaten. ”Betul, ada usulan jalur sepeda itu. Tapi, nantinya terpisah dari main road,” jelas General Manager Lahan dan Utilitas PT Jogjasolo Marga Makmur Muhammad Amin.

Jalur tersebut berada di pinggir. Jadi, tetap ada pembatas dengan jalan tol. ”Lebar jalur sepedanya 5 meter, berada di sisi utara jalan tol,” ungkapnya.

Amin menjelaskan, jika jalur sepeda itu terealisasi, panjangnya dari Kartasura hingga Klaten sekitar 35 km. Meski begitu, dia berharap jalur khusus sepeda itu juga bisa sampai Purwomartani di Sleman atau sekitar 42,3 km. Hal tersebut sesuai dengan panjang jalan tol Solo–Jogja seksi I Kartasura–Purwomartani yang sedang proses pembebasan lahan dan pengerjaan fisik.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c14/ttg

Saksikan video menarik berikut ini: