alexametrics

Mona Explomo, Penggagas Jaket Pelindung Diri (JPD) Kartiniku

Berprinsip Kolaborasi guna Bagi-Bagi Rezeki
1 Agustus 2020, 18:18:28 WIB

Wabah Covid-19 yang menghantam keras sendi perekonomian memacu Mona untuk menelurkan ide. Tebersit ide membuat jaket pelindung diri (JPD) untuk beraktivitas di luar rumah. Ada sentuhan batik yang disematkan di dalamnya.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

Jaket transparan itu berbahan parasut yang ringan. Di bagian kerah, ritsleting, pergelangan tangan dan sekitar tutup kapucongnya, ada aksen batik Cirebonan. Ciri khas motif batik Cirebonan atau Garutan itu, antara lain, ditandai dengan desain yang lembut serta warna cerah ceria. Pada bagian lapisan dalam jaket, terdapat lubang-lubang untuk sirkulasi udara. Supaya tidak panas saat dipakai dalam waktu lama.

Jaket tersebut merupakan ide dari Mona Explomo yang muncul saat situasi pandemi. Salah satu penggiat batik di Surabaya itu mengontemplasikan situasi wabah sebagai waktu bagi umat manusia untuk mengeksplorasi kemampuannya. Bagi Mona, apa pun kondisinya, jangan sampai menjegal langkah untuk berinovasi. Bahkan saat sedang berada di titik terendah sekalipun.

”Semua orang pasti kena dampaknya. Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Kita masih butuh hidup. Selama terus mau berpikir, pasti ada jalan keluar,” ujarnya saat berbincang dengan Jawa Pos melalui sambungan telepon pada Rabu malam (29/7). Dia mengisahkan, awal pandemi yang dimulai pada Maret membuatnya berdiskusi dengan banyak teman. Saat itu, dia punya firasat bahwa kondisi wabah akan berlangsung lama. Ke depan, pasti ada kebutuhan untuk melindungi diri dari virus.

Lantas, tercetuslah ide untuk membuat jaket yang kemudian diberi nama jaket pelindung diri (JPD) Kartiniku. Ibu dua anak itu mengungkapkan, eksekusi ide pembuatan JPD tersebut tidak terlepas dari kolaborasi dengan dua desainer Surabaya. Yakni, Marina Pandunata dan Lilie Wijayati yang membantu Mona membuatkan desain untuk JPD. Selain itu, dia menggandeng perajin batik dan penjahit agar perekonomian mereka ikut terbantu.

”Sekaligus berbagi rezeki di masa pandemi. Karena berkolaborasi di situasi seperti ini jauh lebih baik. Kalau bergerak sendiri akan kurang maksimal,” jelas perempuan yang saat ini tinggal sementara di Bali itu. Mona menuturkan, proses trial and error alias uji coba pembuatan JPD dilakukan beberapal kali. Termasuk tahap research pasar hingga ke Singapura. Demi mendapatkan prototipe jahitan yang rapi sempurna. Proses tersebut berlangsung sekitar sebulan.

Mona Explomo menggaet desainer, perajin batik, dan penjahit untuk mewujudkan gagasannya. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

”Aksen batik Cirebon sendiri saya pilih karena terlihat ringan. Motifnya tidak terlalu formal dan serius seperti batik parang atau batik sogan,” imbuhnya. Inovasi JPD Kartiniku yang melekatkan pada kain Nusantara itu pun mulai diproduksi pertengahan April. Pencinta batik dari Jakarta, Bali, hingga warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Singapura menjadi pembeli yang antusias memborong JPD. Terutama saat awal Mona membuka pembelian melalui sistem preorder (PO) hingga mendongkrak usaha penjualan batiknya selama pandemi yang sempat merosot 50 persen.

JPD tersebut sekaligus merupakan cara Mona menyampaikan pesan. Untuk selalu memperhatikan keselamatan dan kesehatan diri sendiri. Terlebih saat harus beraktivitas di luar rumah. Misalnya, saat menaiki moda transportasi umum, baik itu kereta api maupun pesawat. Hingga ketika pergi ke pasar, swalayan, rumah sakit, maupun jika terpaksa harus berkunjung ke daerah klaster persebaran korona.

”Saat naik transportasi umum, kita enggak pernah tahu siapa yang sebelumnya duduk di bangku kita. Dia bawa virus atau tidak. Maka, JPD ini saya niatkan sebagai proteksi diri dari paparan Covid-19 di luar rumah,” paparnya. Dia berharap JPD tersebut bisa mengurangi rasa waswas atau khawatir. Sehingga bisa melakoni kegiatan dengan perasaan yang lebih tenang. Dia menambahkan, JPD itu juga berfungsi melindungi kulit, pakaian, dan rambut saat melewati penyemprotan disinfektan.

Mona selama ini dikenal terutama di kalangan organisasi-organisasi perempuan milik Pemprov Jatim. Misalnya, perkumpulan Dharmawanita, PKK, maupun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda). Dia kerap terlibat sebagai panitia sekaligus pelaku industri atau penjual pada acara pameran yang diadakan perkumpulan tersebut sejak 2010. Dari situ dia berkenalan dengan pelaku-pelaku batik, terutama di Jatim.

Sampai kemudian dia mencetuskan Indonesian Heritage sebagai wadah bagi para perajin batik. Dia menyuplai batik dari puluhan perajin di Jatim, Jateng, Jabar, Bali, hingga Sumatera. Dengan demikian, mereka bisa lebih berdaya dan sejahtera. ”Saat itu 2012. Batik belum booming seperti sekarang. Kalau mau mengadakan pameran, masih harus keluar biaya banyak. Sementara mayoritas perajin tidak punya akses untuk pameran di kota. Maka, saya buatkan wadahnya,” kenang alumnus Stikom Surabaya itu.

Lama-lama, permintaan batik lewat Indonesian Heritage semakin tinggi. Dia pun membuka offline store yang saat ini berada di Grand City Surabaya. Kecintaan Mona pada batik diawali dari usaha bordir yang dimulainya pada 2019.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */git



Close Ads