alexametrics

Mereka yang Bangkit setelah Bergabung di Tim Garuda INAF

Aditya Gagal Masuk Persib
1 Agustus 2020, 13:14:27 WIB

Lewat perkumpulan sepak bola amputasi, mereka belajar bahwa kehilangan anggota tubuh bukan akhir dari segalanya. Saat organisasi akan didirikan, dikaji juga pertanyaan ”apa wadah ini nanti tidak malah mempertontonkan kekurangan para anggota?”.

UMAR WIRAHADI, Jakarta, Jawa Pos

DENGAN tongkat besi sebagai tumpuan di kedua tangan, Aditya lincah menggiring bola. Kaki kirinya berhasil mengelabui dua tiga pemain lawan sekaligus.

Ketika bola sampai ke pertahanan lawan, kaki kirinya menyepak bola keras-keras ke arah gawang. Dan golll….

Sorak-sorai kegirangan pun pecah. Para pemain saling menyilangkan tongkat sebagai simbol salaman dan pelukan di tengah lapangan.

Suasana tidak kalah heboh dari luar lapangan. Para wartawan yang meliput ikut memberikan tepuk tangan meriah setiap kali tercipta gol-gol ciamik.

Begitulah keseruan di lapangan Rumah Sakit (RS) Suyoto, Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu pagi pekan lalu (25/7). Mereka adalah pemain Tim Garuda INAF (Indonesia Amputee Football) atau perkumpulan sepak bola amputasi Indonesia yang sedang menjalani sesi latihan.

Sejak 18 Juli lalu, mereka mulai latihan kembali setelah tiga bulan terhenti karena pandemi. ”Lumayan bisa cetak enam gol,” kata Aditya kepada Jawa Pos seusai latihan.

Aditya adalah striker di Tim Garuda INAF. Selain striker, Adit –sapaan karibnya– sering kali dipasang di sejumlah posisi yang berbeda. Kadang di sayap kiri, kadang sebagai gelandang.

Pemuda 23 tahun itu piawai mengolah si kulit bundar hanya dengan mengandalkan kaki kiri. Kaki kanannya diamputasi pada Maret 2019.

Sebelumnya, pada 2014–2015, pemuda 23 tahun itu pernah menjadi bagian dari Persib Bandung U-17.

Namun, hanya sebentar dia di klub kebanggaan warga Jawa Barat tersebut. Itu setelah dia kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

Kecelakaan itu bermula ketika Aditya tampil membela kampusnya dalam ajang Torabika Campus Cup 2017. Saat itu dia turun dalam laga persahabatan.

Sebagai striker yang menonjol, Aditya selalu menjadi incaran lawan sejak awal. Suatu ketika dia berhasil menggiring bola sampai ke depan mulut gawang lawan.

Sebelum berhasil menceploskan bola, kiper lawan lebih dulu maju dengan menjatuhkan badan. Sedangkan ujung sepatu kiper menyodok betis Aditya hingga mengenai tepat di tulang kering.

Kontan saja, pemuda asal Bandung itu ambruk. Seketika itu juga dia merasakan sakit dan linu yang luar biasa pada tulang kering.

Setelah dicek petugas medis pertandingan, ternyata tulang di bagian dalam sudah patah. ”Sebenarnya tidak ada luka luar. Luka dalam semua,” tuturnya.

Sayang, Aditya tidak cepat mendapat penanganan yang memadai. Bukannya dibawa ke rumah sakit, dia justru dibawa ke sangkal putung di daerahnya di Bandung.

Sampai pada Maret 2019, atas saran dokter, dia diminta agar kaki kanannya diamputasi. Jika tidak, bakteri bisa menjalar ke seluruh tubuh.

Mendapat saran dokter seperti itu, Aditya langsung down. Harapannya menjadi pemain sepak bola profesional langsung sirna.

Termasuk tentunya menjadi bagian dari Persib Bandung juga ikut pupus. ”Saya cuma bisa meratap sedih,” ucap anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Sambil terus menjalani fisioterapi, kabar baik tersebut akhirnya datang juga. Pada Agustus 2019, dia diberi tahu seorang rekannya bahwa ada perkumpulan sepak bola yang khusus menampung korban amputasi.

Kalau Aditya dan pemain lapangan lain bermain dengan satu kaki, dalam peraturan sepak bola amputasi yang di tiap tim berisi delapan pemain, penjaga gawang harus memiliki satu tangan normal untuk menyelamatkan bola.

Junaidi, kiper Tim Garuda INAFF, kehilangan satu tangan pada 1997 ketika berusia 10 tahun. Sebelum insiden itu, Junaidi memang bercita-cita menjadi pemain bola.

Sejak berusia 6 tahun, dia sudah aktif mengikuti sekolah sepak bola (SSB) di kampungnya di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Di usia belia itu, dia juga aktif dilatih ayahnya, (almarhum) Asrul bin Ali Umar. Ayahnya adalah mantan pemain Semen Padang.

”Waktu itu saya digadang-gadang ayah sebagai striker,” tutur Junaidi.

Namun, setelah insiden jatuh dari pohon hingga akhirnya diamputasi, harapan menjadi striker hebat pun sirna. Untung, ayahnya kala itu tetap membesarkan hati anaknya.

Mulai usia 15 tahun, Junaidi kembali digembleng sang ayah. Kali ini bukan sebagai striker, melainkan penjaga gawang.

Cerita yang menyayat hati juga dialami Yudi Yahya. Kaki kanannya terpaksa diamputasi pada 2010 setelah mengalami kecelakaan di Ciputat, Tangerang Selatan.

Dia ditabrak truk dari belakang sehingga tulang paha kanannya patah. Saat itu juga dokter menyarankan untuk dilakukan amputasi. Sebab, jika tidak, bakteri bisa menyerang bagian tubuh yang lain.

”Saya down. Benar-benar merasa di titik nol,” ungkapnya.

Bak jatuh tertimpa tangga. Setelah diamputasi dan kehilangan kaki kanan, kekasih yang dicintai pun pergi meninggalkannya. Padahal, dalam hitungan hari mereka akan segera lamaran waktu itu.

*

Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia resmi berdiri pada 3 Maret 2018. Sebetulnya, para inisiator sudah mulai mendiskusikan wadah tersebut jauh sebelum itu.

Saat itu timbul sederet pertanyaan yang menimbulkan keraguan. Misalnya, apakah organisasi ini benar-benar dibutuhkan penyandang amputasi atau tidak. Apakah cukup banyak orang dengan kondisi kaki atau tangan teramputasi yang tertarik dengan sepak bola. Apakah wadah ini justru hanya mempertontonkan ”kekurangan” para penyandang amputasi.

”Pertanyaan-pertanyaan itu kami kaji. Sambil tanya ke orang kiri kanan yang ahli sepak bola,” ujar Yudi.

Di luar dugaan ternyata rencana itu disambut positif. Dari hasil pencarian di internet, ternyata ada juga organisasi serupa yang sudah eksis di sejumlah negara. Itulah yang memantapkan tekad mereka untuk membentuk perkumpulan sepak bola amputasi.

Mereka makin percaya diri setelah mendapat undangan dari timnas olahraga disabilitas Malaysia. Event itu berlangsung pada 29-30 Juni 2019.

Selain Indonesia dan Malaysia, pesertanya juga tim dari Nepal. Dalam ajang tersebut, Tim Garuda INAF berhasil menjadi juara II. ”Dari sana kami makin termotivasi untuk terus berlatih dan berlatih,” sambung humas Tim Garuda INAF Vicente Mariano.

Hingga kini, pihaknya sudah memiliki 25 anggota. Sebagian besar dari wilayah Jabodetabek. Juga, dari Bandung, Medan, Palembang, dan Riau. Bahkan, beberapa daerah seperti Bali dan Jember sudah membentuk tim daerah sendiri yang terafiliasi dengan Tim Garuda INAF di Jakarta.

Saat ini mereka terus menggencarkan latihan. Tim kali ini akan dipersiapkan untuk mengikuti ajang Pra Piala Asia Amputee Football di Malaysia. Kompetisi itu awalnya dijadwalkan berlangsung 2020.

Namun, karena Covid-19, diundur menjadi 2021. Kompetisi itu akan diikuti Indonesia, Malaysia, Jepang, Nepal, dan Iran. ”Target kami adalah juara,” ujar Vicente.

Yang membanggakan, kiprah Timnas Garuda INAF juga sudah diakui sebagai dalam keanggotaan World Amputee Football Federation (WAFF). Dengan menjadi anggota WAFF, Tim Garuda INAF berhak ikut dalam kontestasi di ajang piala dunia sepak bola amputasi yang digelar di Polandia pada 2022.

”Kami sangat bersyukur dengan pengakuan ini. Ternyata kehilangan anggota tubuh bukan berarti kiamat,” kata Vicente Mariano seraya tersenyum.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg



Close Ads