alexametrics

Cara Kampung Donowati Mencukupi Kebutuhan Internet saat Pandemi

1 Juli 2020, 06:06:55 WIB

Banyak wali murid yang mengeluhkan pengeluaran paket data internet bulanan membengkak saat pandemi Covid-19. Begitu pula bagi mereka yang harus bekerja secara daring di rumah. Namun, keluhan itu tak berlaku di Kampung Internet RT 9, RW 1, Donowati.

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

Tak sulit mencari Kampung Internet Donowati. Ancer-ancernya gampang. Dekat Polsek Sukomanunggal. Kampung yang ingin memiliki fasilitas full internet bisa belajar kemari.

Ketua Karang Taruna Frediyanto menemui Jawa Pos di balai RW kemarin. Di ruangan itu terpampang banyak sekali foto kegiatan warga. Mulai saat bekerja bakti hingga bercocok tanam. Piagam penghargaan juga ditempelkan di dinding kampung. Dari situ sudah ketahuan, warga kampung tersebut sangat kompak.

Suasana kampung sedang sepi siang itu. Penghuninya tidak banyak berkeliaran karena cuaca Surabaya siang itu panas sekali. ”Es teh atau kopi,” kata Dian, panggilan akrab Frediyanto, dengan ramah.

Dian sibuk dengan ponsel pintarnya. Dia menghubungi para pengurus RT, karang taruna, dan ibu-ibu PKK agar segera merapat. Dialah yang menggagas terbentuknya kampung internet. Namun, prosesnya melibatkan seluruh elemen di RT itu.

Kampung internet punya layanan wifi murah. Yang menyediakan adalah karang taruna.

Mereka berlangganan internet dengan kecepatan 50 Mbps dari dua provider berbeda. Jadi, jika ada provider yang bermasalah, provider yang lain bisa menutup kebutuhan internet kampung.

Ada lebih dari 30 router yang disebar di seluruh penjuru gang buntu itu. Dari timur ke barat, semuanya kebagian sinyal internet. Ratusan meter kabel internet mereka pasang secara mandiri.

Warga membayar secara swadaya. Satu perangkat Rp 15 ribu. Misalnya, di satu rumah ada dua ponsel dan satu laptop, biaya yang harus dibayarkan mencapai Rp 45 ribu. Semakin banyak gawai yang dipakai tentu makin mahal. Tapi, jika dihitung-hitung, warga sangat bisa memangkas kebutuhan internet bulanan.

Tak lama kemudian, Yuli Prastyono datang dan memarkir sepeda motornya di depan balai RT. Yang dinanti-nanti Dian sudah hadir. Dialah pawangnya internet di kampung itu. Yuli pernah bekerja di salah satu tempat les bahasa Inggris ternama. Dia bertanggung jawab dalam seluruh urusan IT di perusahaan itu. Dari dialah semua sistem kampung internet tersebut terbangun.

Yuli bertetangga dekat dengan Dian. Dia tinggal di kampung tengah. Dian mengawali ide membuat wifi patungan empat tahun lalu. Saat itu untuk kebutuhan pribadi. ”Saya ikut. Karena anak saya pernah saya belikan kuota 10 giga habis buat YouTube,” jelasnya.

Cara yang mereka lakukan itu diketahui para tetangga. Dari sanalah muncul ide membangun jaringan internet di seluruh penjuru kampung. Karang taruna mengajukan program itu kepada pengurus RT. Ibu-ibu PKK juga urun rembuk.

Usulan itu tak ujug-ujug diterima. Masih ada kekhawatiran dari orang tua. Saat internet disediakan secara murah di seluruh penjuru rumah, penggunanya bisa mengakses konten-konten terlarang. Apalagi anak kecil. ”Sempat ada yang khawatir begitu. Tapi, pelan-pelan akhirnya semua menerima. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini. Terasa sekali manfaatnya,” jelas Dian.

Saat ada wifi bersama tersebut, pengeluaran internet bisa ditekan. Manfaatnya sangat terasa sekarang. Terutama saat semua anak sekolah diwajibkan belajar di rumah. Pengeluaran internet untuk mengikuti Meeting Zoom sangat tinggi. Sebab, data internet yang dibutuhkan untuk video call cukup besar. ”Ojok maneh arek SD. Anakku yang TK saja sudah belajar online. Meskipun tidak setiap hari,” ujar Yuli. ”Anakku pisan. Karena satu TK,” sahut Dian.

Peran pengawasan orang tua sangat ditekankan di kampung internet. Karang taruna sebenarnya bisa mengawasi apa saja yang diakses pengguna internet kampung. Sebab untuk memanfaatkan layanan tersebut, seluruh perangkat harus didaftarkan lebih dulu ke operator kampung internet.

Kini sudah ada 110 pengguna layanan internet itu. Dia mengaku tak mungkin mengawasi seluruh penggunaan internet tersebut satu per satu. ’’Orang tua yang sudah sepakat ikut urunan ini wajib mengawasi anaknya masing-masing,” tegas Dian.

Dari iuran bulanan warga, ada sisa lebih anggaran yang dimasukkan kas. Anggaran itu bisa digunakan untuk membeli empat buah CCTV dan televisi. Ada juga komputer dan printer di balai RT. (*/c6/git)

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads