JawaPos Radar | Iklan Jitu

Butler Ross dan Perjuangan Ciptakan Kamus Bahasa Alternatif

Juga Ciptakan Kata Anyar lewat Facewordz

01 April 2017, 19:08:20 WIB
Butler Ross dan Perjuangan Ciptakan Kamus Bahasa Alternatif
PENGUMPUL KATA-KATA: Butler Ross saat mengunjungi redaksi Jawa Pos, Rabu (29/3). Melalui laman facewordz.com, dia mengumpulkan kata anyar kiriman pembaca. (SALMAN MUHIDDIN/JAWA POS)
Share this

Laman facewordz.com punya fungsi seperti kamus bahasa online. Tapi, kata-kata yang ada di dalamnya dijamin tidak ada di kamus mana pun. Sebab, kata-kata anyar itu baru dibikin pengunjung. 

SALMAN MUHIDDIN 

——————————

BERAPA sih jumlah bahasa yang ada di dunia ini? Menurut katalog Ethnologue yang memuat riset tentang bahasa, ada 7.102 bahasa di dunia. Riset tersebut dilakukan sejak 1951 hingga 2015. 

Indonesia punya lebih dari seribu ragam bahasa. Namun, setiap tahun selalu saja ada bahasa yang punah. Bahasa itu tak lagi dipakai orang. Atau, warga penuturnya sangat eksklusif, terbatas, hingga akhirnya ikut punah bersama bahasanya. 

Melihat kondisi itu, Butler Ross datang sebagai ”superhero” bahasa. Penggagas facewordz.com tersebut datang ke redaksi Jawa Pos Rabu (29/3). Pria berambut jambul itu mengadu. Dia waswas dengan banyaknya bahasa yang hilang. 

Lelaki keturunan suku Cherokee, salah satu suku asli Amerika, itu miris melihat 800 bahasa suku asli tersebut hilang. Sebagian besar penduduk Amerika Serikat kini berbahasa Inggris.

Saat ini bahasa native American tersebut hanya tinggal 1 persen. Suku Cherokee adalah salah satu yang bertahan. ”Facewordz. com is owned by a Cherokee-Indo man named Butler Ross (facewordz.com dimiliki lelaki Cherokee-Indo bernama Butler Ross,Red),” kata pria yang datang ke Indonesia sejak 1997 itu sembari mengarahkan dua jempolnya ke arah dada. 

Saat ini satu bahasa terkuat Indian adalah Navajo. Butler bercerita, bahasa itu membuat Amerika menang melawan Jepang. Bahasa daerah tersebut tak dimengerti pasukan Jepang yang berupaya menyadap komunikasi lewat radio. Kisah itu menjadi dasar pembuatan Windtalkers, film pada 2012 yang dibintangi Nicolas Cage. 

Itu adalah salah satu contoh betapa berharganya bahasa. Sayang jika harus hilang suatu saat nanti. 

Butler pernah hidup di Shenzen dan Beijing, Tiongkok. Di dua kota itu, dia menjadi translator seorang peneliti selama setahun. Perjalanannya berlanjut ke Sogang University di Seoul, Korea Selatan, sebagai guru bahasa Inggris selama tiga tahun. Dia lantas ke Arab Saudi untuk mengajari angkatan laut kerajaan tersebut selama dua tahun. 

Lalu, mengapa harus ke Indonesia untuk membikin proyek ini? ”Karena setiap kali saya datang ke Indonesia, hal ajaib selalu terjadi,” jelas pria yang pernah bekerja di Indonesia sebagai staf marketing di salah satu perusahaan air minum kemasan pada 1997–2001. 

Sebelum memutuskan menetap di Indonesia, dia sempat mendapat tawaran pekerjaan di Amerika. Namun, karena beberapa kali ditipu rekan bisnisnya, dia memutuskan kembali ke Nusantara. ”Lebih baik saya cari nasi in the sun shine (sinar matahari, Red),” ujar pria yang mulai lancar berbahasa Indonesia tersebut. 

Sebelum membuat facewordz. com, dia merintis laman serupa, bahasagila.com. Dia mulai terpikir untuk mengganti nama laman itu saat perjalanan dari Arab Saudi ke Indonesia. Di pesawat, dia bermimpi ketemu Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Dia sempat berbincang- bincang dengan pria yang memiliki kekayaan 58,6 miliar dolar Amerika Serikat tersebut. Tentu dalam mimpi. 

Butler terperanjat dari tidurnya. Pramugari membangunkannya dengan menawarkan majalah Time. ”Are we going down (apakah kita akan jatuh, Red)?” ujar Butler dengan memperagakan suasana panik yang dirinya alami. 

Dia bertambah kaget saat wajah Mark mengisi penuh sampul majalah yang ada di hadapannya. Mimpi itu bagai wangsit yang datang. Seolah menyuruhnya untuk mengubah bahasagila. com menjadi facewordz. 

Sembari bercerita, Butler terus membuka laptopnya. Dia menunjukkan sejumlah kata-kata yang sudah masuk ke website. Saat ini sudah ada 600 kata baru yang telah tercipta. Masih sedikit memang. Sebab, laman yang dia garap masih belum 100 persen matang. Rencananya laman tersebut dikoneksikan dengan sejumlah media sosial Facebook dan Twitter. Meski laman baru dirintis, jumlah kunjungan sudah lumayan. Setiap bulan 30 ribu orang mengakses facewordz.com. 

Wajah facewordz.com memang mirip Facebook. Dominan putih dan biru. Di situ, para pengunjung dapat menciptakan kata-kata baru. Kata-kata tersebut bisa dimulai dari nama pribadi. Mayoritas orang yang ditemui Butler tidak mengetahui arti namanya. Ada kemungkinan nama yang dimiliki belum punya arti. 

”You can be the first person that give your name a meaning (kamu bisa menjadi orang pertama yang memberikan arti pada namamu sendiri, Red),” lanjut lulusan Communications and Minor in Drama, University of Arkansas, tersebut. 

Dia mulai dengan namanya sendiri. Butler. Namun, sudah ada artinya. Tapi, jangan khawatir, masih ada beberapa pilihan di layar. Secara acak sistem menampilkan 20 kata bentukan huruf-huruf b, u, t, l, e, dan r. 

Dia lantas memilih kata truble. Butler kemudian memberikan penjelasan pada laman itu bahwa kata tersebut berasal dari kata true (benar) dan trouble (masalah). Jika digabungkan, artinya adalah kondisi saat kamu benar makan terhindar dari masalah. Butler pun kegirangan telah membuat kata baru dari namanya. 

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Suatu saat Butler bertemu dengan seorang waria di Kalibata, Jakarta Selatan. Dia menguping pembicaraan waria tersebut. Dia mendengar kata puspa. Setelah memperdalam kata-kata itu, dia mengetahui maksud kata puspa adalah pusing. Setelah mencari di kamus, arti kata puspa adalah bunga. 

Dia pun mencari kata-kata baru yang bisa diambil dari puspa. Yaitu, paups. Artinya, peace out to my people atau santai saja. Dia mengorelasikan bunga yang harum dengan perasaan sang waria yang panik saat berkata puspa. 

Upaya itu memang tidak bisa mengembalikan bahasa-bahasa yang sudah hilang. Namun, paling tidak dia berharap suatu saat nanti facewordz bisa jadi panduan bagi masyarakat dunia. 

Indonesia adalah salah satu pengujung terbanyak facewordz. com. Secara otomatis, bahasa Indonesia yang diunggah dapat dibaca seluruh penduduk dunia. Butler menganggap hal tersebut sebagai salah satu cara memperkenalkan Indonesia di mata dunia. 

Dia merasa seharusnya seluruh negara berlomba-lomba mempromosikan bahasa asli yang mereka miliki. ”Indonesia beruntung karena sekarang leading,” ujarnya. 

Dalam mengembangkan laman itu, Butler sangat berterima kasih kepada programmer asal Jakarta, Diko Bagda Anggara. Diko tidak menerima uang sepeser pun darinya selama delapan bulan membikin facewordz.com. ”Saya bagian coding dan idea user interface-nya,” jelas Diko saat dihubungi Jawa Pos kemarin (31/3). 

Saat ini Diko berupaya mengo- neksikan facewordz.com dengan media sosial. Dengan begitu, para pengunjung dapat saling berkomentar. 

Butler menambahkan, laman itu adalah nyawanya. Pria yang betah melajang tersebut pernah merasakan laman bikinannya diretas. Perasaannya ingin mati saja saat itu. Karena itu, dia sangat berterima kasih atas bantuan Diko yang mau membantunya meski website belum menghasilkan rupiah. Saat ini dua partner tersebut sedang mencari sponsor untuk membangun tim. Bravo! (*/c10/dos) 

Editor           : Thomas Kukuh
Reporter      :

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up