JawaPos Radar

Tips Mendaki Gunung Es dari Mahasiswi Penakluk 7 Puncak Dunia

26/08/2018, 08:25 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Tips Mendaki Gunung Es dari Mahasiswi Penakluk 7 Puncak Dunia
Mahasiswi Unpar, Fransiska Dimitri Inkiriwang, yang berhasil menaklukan tujuh puncak dunia. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Mendaki tujuh puncak tertinggi dunia dilakukan dua mahasiswi Universitas Parahyangan (Unpar), Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari dengan cukup banyak perjuangan. Sejumlah tantangan pun dialami keduanya, terutama terkait cuaca. Hilda dan Dede hampir pasti menemui es sepanjang petualangannya.

Sebagai masyarakat yang tinggal di iklim tropis, tentunya tantangan tersendiri untuk orang Indonesia mendaki gunung dengan es atau salju. Kepada JawaPos.com, Fransiska Dimitri Inkiriwang yang akrab disapa Dede membagikan tipsnya.

1. Pelajari Sebelum Mendaki

Tips Mendaki Gunung Es dari Penakluk 7 Puncak Dunia
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari berhasil mencapai Puncak Denali. (Istimewa for JawaPos.com)

Penting sebelum mendaki untuk mengetahui segala informasi mengenai gunung yang hendak didaki. Bukan hanya ketinggiannya, tetapi iklimnya. Dengan demikian, peralatan yang dibawa bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

“Pertama, pelajari dulu apa yang akan dihadapi. Es berarti dingin, jadi harus mencari alat-alat yang mengakomodir untuk tidak kedinginan atau hipotermia. Jadi, memperdalam pengetahuannya tentang apa yang akan dihadapi. Terus medannya es, ada dua sepatunya. Ada yang snow shoes atau crampon,” saran Dede.

Meskipun mendaki gunung tidak bisa diprediksi 100 persen tepat. Tetapi, tidak ada salahnya mempelajari dahulu sebelum mendaki gunung manapun.

2. Pilih Waktu yang Tepat

Setelah mengetahui semua informasi mengenai iklim atau cuaca, langkah selanjutnya adalah menentukan waktu yang tepat untuk mendaki. Penentuan waktu ini, harus ditentukan dengan musim di daerah atau negara tempat gunung berada.

Berdasarkan pengalaman Dede, cuaca bisa berubah sangat cepat di ketinggian. Contohnya, saat mendaki ke Aconcagua, rombongan mereka terkena badai salju yang terkenal cukup ditakuti di gunung tersebut, yakni white devil.

Beruntungnya, yang mereka hadapi hanyalah buntut dari white devil, sehingga selamat. Meskipun, kecepatan anginnya bisa mencapai 100 km/jam.

3. Dengarkan Guide atau Pemandu

Saat pendakian, lanjut Dede, sangat penting mendengar  dan mengikuti saran dari guide atau pemandu. Apalagi, jika gunung tersebut berada di negara lain. Sebab, aturan main setiap gunung berbeda.

“Kalau udah biasa naik gunung di Indonesia, udah ada pengalamannya tapi ini sesuatu yang sangat baru jadi harus belajar lagi dan harus dengar guide cara mainnya bagaimana,” ujar Dede.

4. Bukan Adu Cepat

Lebih lanjut, Dede mengingatkan bahwa mendaki gunung bukanlah adu cepat. Sebaliknya, kesabaran sangat dibutuhkan dalam menghadapi segala kondisi yang benar-benar baru saat mendaki gunung bersalju.

“Kalau di sini (Indonesia) kan main cepet-cepatan, siapa yang paling cepet dia yang lebih jago kan. Di gunung es mainnya pelan-pelan, sabar. Karena kayak kita hadepin kondisi yang bukan habitatnya manusia juga. Harus adaptasi badannya. Jadi, harus pelan-pelan,” ungkap Dede.

Dede menceritakan pengalamannya hampir terperosok di jurang es yang ternyata sangat dalam ketika mendaki di Denali. Di sini lah, kehati-hatian dan kesabaran menjadi penting dalam mendaki gunung es.

5.  Minum Air Putih

Terakhir dan juga penting adalah untuk minum air putih yang cukup. Menurut Dede, mendaki gunung di manapun memastikan tubuh terhidrasi dengan baik sangat penting.

Oleh karena itu, jangan sampai lupa membawa air putih yang cukup selama mendaki. Selanjutnya, yang tak kalah penting adalah berdoa.

(str/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up