Rijsttafest, Membangun Masa Depan melalui Festival Tema Sejarah dan Kuliner

21/11/2016, 15:30 WIB | Editor: Imam Solehudin
Lokasi Rijsttafest 2016 edisi Semarang/Istimewa (ISTIMEWA/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Rangkaian festival bertema sejarah, Rijsttafest, bakal dilakukan secara maraton di kota-kota besar di Indonesia. 

Kegiatan digagas untuk menggugah perhatian generasi muda pada sejarah bangsanya sendiri. Utamanya tentang sejarah Indonesia-Belanda.

Pada serial pertama, Rijsttafest diadakan di Semarang dengan tema Jalan Raya Pos, yaitu jalur transportasi periode awal yang dibangun Belanda. 

Berlangsung selama dua hari, 22-23 November 2016, Rijsttafest akan berlokasi di gedung Oudetrap dan Taman Srigunting. 

Acara ini rencananya akan diresmikan langsung oleh Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Pemprov Jateng, Walikota Semarang, dan Ketua BP2KL.

Setelah melakukan survei terhadap generasi muda di Indonesia, beberapa lembaga yaitu Centre For Indonesia Risk Studies 

(CIRiS), PARA Syndicate, dan Syarikat Indonesia merancang bentuk aktivitas yang dapat menarik perhatian generasi muda dengan cara yang mudah diterima.

"Hasil survei ini sangat menarik dalam banyak sisi yang penting. Persepsi generasi muda memunculkan bagaimana mereka melihat sejarah dengan caranya, bagaimana kultur dari luar mempengaruhi pikiran dan tindakan, hingga bagaimana mereka menjiwai nasionalisme,” kata Erwin Endaryanta sebagai Direktur CIRiS (Jakarta) kepada JawaPos.com melalui siaran pers, Senin (21/11).

Sedangkan Ari Nurcahyo, Direktur Eksekutif PARA Syndicate (Jakarta), menjelaskan bagaimana fenomena hari ini mengenai sikap kelompok muda menerjemahkan nasionalisme dalam bentuk tindakan.

"Melihat hasil survei, unik. Kami rasa hasil survei ini penting untuk diketahui dan didiskusikan oleh semua pihak, baik publik maupun pemerintah,” ungkapnya.

Rangkaian Rijsttafest turut didukung oleh komunitas lokal seperti komunitas Sejarah (Lopen, OASE, KPS), komunitas sepeda onthel, komunitas Sketchwalk, IRPS, Night Carnival, Komunitas Harapan, dan Wayang Benges.

Komunitas lokal ini hadir memeriahkan rangkaian acara antara lain diskusi hasil riset bertema Ingatan Kolektif, Sejarah, dan 

Persepsi Hubungan Indinesia dan Belanda: Menuju Rekonsiliasi Masa Lalu dan Membangun Sejarah Masa Depan.(ded/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi